Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan harapan baru bagi pemulihan perdagangan dan logistik global. Namun demikian, organisasi profesi yang fokus pada pengembangan rantai pasok nasional itu mengingatkan bahwa risiko terhadap kelancaran distribusi barang dan energi dunia belum sepenuhnya berakhir.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,CMI.,CITS., mengatakan, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah, gas alam cair (LNG), serta berbagai komoditas perdagangan internasional dari kawasan Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan Amerika.
“Dibukanya kembali Selat Hormuz tentu menjadi sentimen positif bagi dunia usaha dan sektor logistik global. Namun pemulihan rantai pasok tidak terjadi secara otomatis. Masih ada dampak lanjutan berupa penyesuaian jadwal pelayaran, biaya logistik yang belum sepenuhnya normal, serta kehati-hatian operator kapal terhadap situasi keamanan kawasan,” ujar Ketua Umum IARSI dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Menurut IARSI, selama periode gangguan di Selat Hormuz, banyak perusahaan pelayaran internasional melakukan pengalihan rute, mengurangi frekuensi layanan, hingga menunda pengiriman untuk menghindari risiko keamanan. Kondisi tersebut menyebabkan terganggunya keseimbangan distribusi armada kapal dan kontainer di berbagai wilayah perdagangan dunia.
Akibatnya, sejumlah pelabuhan utama mengalami kepadatan arus barang, sementara beberapa sektor industri menghadapi keterlambatan pasokan bahan baku dan komponen produksi.
Harga Energi dan Biaya Logistik Masih Menjadi Perhatian
IARSI menjelaskan bahwa dampak terbesar dari gangguan Selat Hormuz tidak hanya dirasakan sektor pelayaran, tetapi juga pasar energi global. Selama ketegangan berlangsung, harga minyak dan biaya pengiriman mengalami tekanan akibat meningkatnya risiko distribusi.
Pembukaan kembali jalur tersebut memang dapat membantu meredakan tekanan pasar energi. Namun proses normalisasi diperkirakan berlangsung secara bertahap karena pelaku industri masih mempertimbangkan faktor keamanan dan biaya operasional.
“Pelaku logistik global masih menghadapi tingginya premi asuransi perang (war risk insurance), biaya pengamanan tambahan, serta kebutuhan untuk menyusun ulang jaringan distribusi yang sempat terganggu. Karena itu, dampak positif pembukaan Selat Hormuz kemungkinan baru akan terasa penuh dalam beberapa bulan ke depan,” jelas Beniadi Setiawan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rantai pasok global masih sangat rentan terhadap gangguan geopolitik yang terjadi di titik-titik strategis perdagangan internasional.
Pelajaran Penting bagi Indonesia
Bagi Indonesia, IARSI menilai peristiwa Selat Hormuz menjadi pengingat penting bahwa ketahanan rantai pasok harus menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi nasional.
Ketergantungan dunia terhadap beberapa jalur pelayaran utama membuat setiap gangguan geopolitik berpotensi menimbulkan efek domino terhadap harga energi, biaya logistik, inflasi, hingga aktivitas industri.
Karena itu, IARSI mendorong pemerintah mempercepat berbagai agenda strategis, antara lain:
Penguatan cadangan energi dan bahan baku strategis nasional.
Diversifikasi sumber pasokan impor.
Peningkatan konektivitas pelabuhan dan kawasan industri.
Digitalisasi sistem logistik nasional.
Pengembangan pusat distribusi regional yang lebih efisien.
Selain itu, pelaku usaha juga didorong untuk menerapkan manajemen risiko rantai pasok yang lebih adaptif melalui diversifikasi pemasok, pemetaan risiko distribusi, dan penguatan sistem perencanaan logistik.
Momentum Membangun Rantai Pasok yang Lebih Tangguh
IARSI berpandangan bahwa krisis Selat Hormuz memberikan pelajaran berharga bahwa daya saing suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kelancaran arus barang di tengah ketidakpastian global.
“Peristiwa ini menunjukkan bahwa efisiensi dan ketahanan rantai pasok harus berjalan beriringan. Indonesia perlu memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat reformasi logistik nasional sehingga lebih siap menghadapi berbagai risiko global di masa mendatang,” tegas Ketua Umum IARSI.
IARSI menyimpulkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan perkembangan positif bagi perekonomian dunia. Namun dunia usaha dan pemerintah tetap perlu mewaspadai berbagai risiko lanjutan yang masih dapat memengaruhi stabilitas perdagangan internasional. Dengan memperkuat ketahanan logistik dan rantai pasok nasional, Indonesia diyakini akan lebih siap menghadapi gejolak geopolitik global sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi di masa depan.
post: iarsi.org
