Bekasi, – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar di sejumlah wilayah Jawa Timur menjadi pengingat bahwa keandalan sistem distribusi energi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan rantai pasok nasional. Gangguan pasokan BBM tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga berpotensi menghambat distribusi barang, meningkatkan biaya logistik, dan memengaruhi aktivitas industri maupun perdagangan.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,CMI.,CMT., mengatakan bahwa distribusi BBM merupakan salah satu mata rantai paling krusial dalam ekosistem logistik Indonesia. Mengingat lebih dari 90 persen distribusi barang domestik masih mengandalkan transportasi darat, keterlambatan pasokan Solar dapat memicu efek berantai terhadap kelancaran distribusi kebutuhan pokok, bahan baku industri, hingga produk ekspor.
"Kelangkaan Solar tidak boleh dipandang semata sebagai persoalan ketersediaan energi. Dalam perspektif rantai pasok, ini merupakan risiko operasional yang dapat mengganggu arus distribusi nasional. Ketika armada logistik tertahan akibat kesulitan memperoleh BBM, maka efisiensi yang selama ini dibangun akan ikut terdampak," ujar Ketua Umum IARSI.
IARSI menilai antrean panjang kendaraan angkutan barang di sejumlah SPBU mengurangi produktivitas armada logistik karena waktu distribusi banyak tersita untuk memperoleh bahan bakar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional perusahaan transportasi, memperpanjang waktu pengiriman (lead time), serta mengganggu jadwal produksi industri yang menerapkan sistem just in time.
Menurut IARSI, sektor yang paling rentan terdampak antara lain industri manufaktur, distribusi pangan, pertanian, perikanan, konstruksi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Apabila distribusi BBM tidak segera kembali normal, keterlambatan pasokan barang dapat memicu kenaikan biaya distribusi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga barang di tingkat konsumen.
Distribusi Energi Menjadi Penopang Rantai Pasok
IARSI mengapresiasi langkah pemerintah bersama PT Pertamina Patra Niaga yang melakukan percepatan distribusi BBM ke wilayah terdampak serta melakukan penambahan pasokan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor usaha. Langkah cepat tersebut dinilai penting untuk meminimalkan dampak terhadap aktivitas ekonomi.
Namun demikian, IARSI menilai kejadian ini menjadi momentum untuk memperkuat sistem distribusi energi nasional melalui pemanfaatan teknologi digital, pemantauan stok secara real time, serta koordinasi yang lebih terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, regulator, operator distribusi BBM, dan pelaku logistik.
Sejalan dengan Kajian Berbagai Lembaga
Pandangan IARSI sejalan dengan berbagai kajian nasional maupun internasional yang menempatkan keandalan logistik sebagai salah satu faktor utama daya saing ekonomi.
Bank Dunia (World Bank) dalam berbagai kajiannya mengenai kinerja logistik menegaskan bahwa efisiensi distribusi sangat bergantung pada kualitas infrastruktur, kepastian layanan transportasi, dan kelancaran rantai pasok. Gangguan terhadap pasokan energi dapat mengurangi keandalan sistem logistik sehingga meningkatkan biaya distribusi.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan terus mendorong penguatan Sistem Logistik Nasional (Sislognas) melalui integrasi antarmoda transportasi dan digitalisasi layanan logistik guna meningkatkan efisiensi distribusi barang di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berulang kali menegaskan pentingnya menjaga keamanan pasokan energi nasional melalui penguatan infrastruktur distribusi BBM, peningkatan cadangan operasional, serta pengawasan terhadap kelancaran penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran.
Adapun PT Pertamina Patra Niaga menyatakan telah melakukan optimalisasi distribusi dan penambahan suplai Solar di wilayah Jawa Timur guna memastikan kebutuhan masyarakat maupun sektor transportasi dapat segera terpenuhi. Perusahaan juga melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan aparat terkait agar distribusi berjalan lancar.
Menurut Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, kepastian pasokan energi merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan industri dan investasi. Dunia usaha membutuhkan sistem distribusi BBM yang stabil agar biaya logistik tetap kompetitif dan produktivitas industri tidak terganggu.
Perlu Sistem Distribusi yang Lebih Adaptif
IARSI menilai pemerintah perlu menjadikan peristiwa ini sebagai evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola distribusi BBM nasional. Selain memastikan kecukupan stok, diperlukan sistem peringatan dini (early warning system) yang mampu mendeteksi potensi gangguan distribusi sebelum berdampak luas terhadap sektor logistik.
IARSI juga mendorong penguatan pemanfaatan teknologi seperti supply chain visibility, analitik data, dan pemantauan digital terhadap stok BBM di terminal, depot, maupun SPBU sehingga proses pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat dan akurat.
Selain itu, diversifikasi moda transportasi logistik melalui optimalisasi angkutan kereta api dan laut juga dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap angkutan darat berbasis Solar, terutama dalam distribusi barang antardaerah.
Rekomendasi IARSI
Sebagai langkah strategis, IARSI merekomendasikan:
memperkuat sistem pemantauan stok BBM secara real time di seluruh wilayah distribusi;
membangun sistem peringatan dini terhadap potensi gangguan pasokan energi;
meningkatkan koordinasi antara pemerintah, Pertamina, BPH Migas, operator transportasi, dan pelaku logistik;
mempercepat digitalisasi distribusi energi sebagai bagian dari transformasi Sistem Logistik Nasional;
menyusun skema mitigasi risiko distribusi BBM pada wilayah dengan tingkat konsumsi tinggi.
IARSI menegaskan bahwa ketahanan rantai pasok nasional tidak hanya ditentukan oleh pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, dan kawasan industri, tetapi juga oleh keandalan sistem distribusi energi. Dengan tata kelola distribusi BBM yang lebih adaptif, transparan, dan berbasis data, Indonesia dinilai akan lebih siap menghadapi berbagai potensi gangguan logistik sekaligus menjaga stabilitas pasokan barang serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
post : iarsi.org
