Foto dari kiri : Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesi Mochamad Irfan Yusuf, Menteri Perhubungan Republik Indonesia Dudy Purwagandhi, Menteri Transportasi dan Layanan Logistik Arab Saudi Saleh bin Nasser Al-Jasser, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia Jusuf Kalla, dan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah Al Amoudi di kediamaan Dutas Besar Arab Saudi untuk Indonesia di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Jakarta – Minat Arab Saudi untuk menjajaki investasi di sektor transportasi kelautan Indonesia dinilai menjadi peluang strategis dalam memperkuat daya saing logistik nasional. Rencana tersebut mengemuka setelah pertemuan Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi dengan Menteri Transportasi dan Layanan Logistik Arab Saudi, Saleh bin Nasser Al-Jasser, di Jakarta. Selain membahas kerja sama transportasi udara, kedua negara juga membuka peluang investasi pada sektor maritim, pengembangan pelabuhan, perkeretaapian, serta peningkatan konektivitas logistik.
Menanggapi perkembangan tersebut, Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan bahwa ketertarikan investor asing terhadap sektor transportasi laut menunjukkan semakin besarnya kepercayaan dunia terhadap potensi ekonomi maritim Indonesia. Namun, menurutnya, investasi hanya akan memberikan dampak optimal apabila diiringi dengan penguatan infrastruktur logistik yang terintegrasi.
"Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis di jalur perdagangan dunia. Investasi di sektor transportasi kelautan harus dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi sistem logistik nasional, bukan sekadar menambah kapasitas pelabuhan. Yang jauh lebih penting adalah membangun konektivitas antara pelabuhan, kawasan industri, pusat pergudangan, jaringan kereta api, jalan nasional, hingga distribusi ke wilayah hinterland," ujar Beniadi.
Ia menjelaskan bahwa biaya logistik Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Salah satu penyebabnya adalah belum optimalnya integrasi antarmoda transportasi dan belum meratanya infrastruktur pendukung distribusi barang. Karena itu, masuknya investasi baru sebaiknya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok secara menyeluruh.
Menurut Beniadi, investasi dari Arab Saudi juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan perdagangan kedua negara. Selain mendukung mobilitas penumpang dan layanan haji serta umrah, kerja sama transportasi dapat membuka peluang ekspor produk pangan, halal, manufaktur, dan komoditas unggulan Indonesia ke kawasan Timur Tengah melalui jalur logistik yang lebih efisien.
IARSI juga menilai pengembangan pelabuhan nasional perlu diarahkan sebagai bagian dari ekosistem logistik modern. Digitalisasi layanan kepelabuhanan, integrasi sistem National Logistics Ecosystem (NLE), penguatan pusat distribusi regional, serta peningkatan kapasitas terminal peti kemas harus menjadi prioritas agar investasi menghasilkan manfaat jangka panjang bagi dunia usaha dan masyarakat. Sejalan dengan itu, pemerintah Indonesia dan Arab Saudi juga membahas sejumlah nota kesepahaman (MoU) yang mencakup kerja sama di bidang transportasi laut, udara, perkeretaapian, investigasi keselamatan transportasi, serta pengembangan sumber daya manusia sektor transportasi.
Lebih lanjut, Beniadi menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi hub logistik maritim di kawasan Indo-Pasifik apabila mampu memanfaatkan investasi luar negeri secara tepat sasaran. Menurutnya, pembangunan pelabuhan tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus didukung oleh kawasan industri, pusat logistik berikat, fasilitas cold chain, pergudangan modern, serta sistem transportasi multimoda yang mampu memangkas waktu dan biaya distribusi.
"IARSI berharap setiap investasi strategis yang masuk benar-benar meningkatkan efisiensi logistik nasional, memperkuat daya saing ekspor, dan mendukung target Indonesia menjadi poros maritim dunia. Dengan rantai pasok yang semakin terintegrasi, Indonesia akan lebih siap menghadapi pertumbuhan perdagangan internasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional," tutup Beniadi.
post: iarsi.org
