Bekasi – Lonjakan biaya logistik global mulai menjadi ancaman baru bagi perekonomian dunia. Tekanan ini tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga minyak dan bahan bakar, tetapi juga oleh gangguan jalur pelayaran internasional, pengalihan rute kapal, kenaikan biaya angkutan laut, waktu pengiriman yang lebih panjang, serta meningkatnya biaya operasional di sepanjang rantai pasok.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI). Indonesia dinilai berisiko menghadapi tekanan inflasi apabila lonjakan biaya logistik global berlangsung berkepanjangan dan pada saat yang sama tidak diimbangi dengan perbaikan efisiensi logistik di dalam negeri.
Berdasarkan data UNCTAD, sektor logistik dan pengiriman secara keseluruhan menyumbang sekitar 15 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global. Rata-rata biaya pengiriman sendiri diperkirakan mencapai sekitar 7–8 persen dari total biaya suatu produk, sementara transportasi menyumbang sekitar 40 persen dari biaya pengiriman. Angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan biaya transportasi global dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap harga barang di berbagai negara.
Jika angka tersebut digunakan sebagai ilustrasi, maka untuk setiap US$100 nilai biaya sebuah produk, komponen biaya pengiriman rata-rata dapat berada di kisaran US$7–US$8. Dari jumlah tersebut, sekitar US$2,80–US$3,20 berkaitan dengan komponen transportasi. Perhitungan sederhana ini menunjukkan bahwa ketika biaya pengangkutan meningkat tajam, tekanan biaya dapat merambat ke harga akhir, meskipun besar dampaknya akan berbeda menurut jenis barang, jarak, moda transportasi, dan struktur rantai pasok.
Tekanan semakin terlihat pada jalur pelayaran tertentu. Laporan pasar yang dikutip dalam pemberitaan terbaru menunjukkan tarif kontainer pada sejumlah rute utama mengalami kenaikan tajam. Pada pertengahan Juni 2026, tarif Asia–Pantai Barat Amerika Serikat dilaporkan meningkat sekitar 51 persen secara mingguan, sementara rute Asia–Pantai Timur Amerika Serikat naik sekitar 25 persen, Asia–Eropa Utara sekitar 37 persen, dan Asia–Mediterania sekitar 24 persen. Angka tersebut menggambarkan betapa cepatnya biaya pengiriman dapat berubah ketika kapasitas dan rute pelayaran terganggu.
Dalam konteks yang lebih luas, kondisi tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari tekanan biaya logistik global. Gangguan di titik-titik strategis seperti kawasan Laut Merah, Bab el-Mandeb, Terusan Suez, dan Selat Hormuz dapat memaksa kapal melakukan pengalihan rute, memperpanjang jarak tempuh, meningkatkan konsumsi bahan bakar, dan menambah biaya asuransi serta waktu perjalanan.
UNCTAD menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu jalur maritim paling strategis di dunia. Gangguan di kawasan tersebut memiliki konsekuensi luas karena jalur ini menangani sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut dunia.
Ketua Umum IARSI Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT. menilai perkembangan tersebut harus menjadi peringatan bagi Indonesia. Kenaikan biaya logistik global dapat masuk ke perekonomian melalui berbagai jalur, mulai dari kenaikan biaya impor bahan baku, komponen industri, energi, hingga biaya distribusi barang di dalam negeri.
"Indonesia harus melihat persoalan ini bukan sekadar sebagai kenaikan ongkos angkut, tetapi sebagai risiko terhadap keseluruhan rantai pasok. Jika biaya pengiriman internasional naik, waktu tempuh bertambah, dan biaya distribusi domestik tetap tinggi, maka tekanan harga dapat berlapis," demikian perspektif IARSI.
Risiko tersebut dapat dihitung secara sederhana. Misalnya, apabila sebuah produk memiliki nilai biaya US$100 dan komponen pengiriman rata-rata berada pada kisaran US$7–US$8, maka biaya pengiriman menyumbang sekitar 7–8 persen dari total biaya. Jika biaya logistik tersebut kemudian meningkat 30 persen, tambahan biaya secara langsung berada di kisaran US$2,10–US$2,40 untuk setiap US$100 biaya produk, dengan asumsi kenaikan tersebut sepenuhnya diteruskan ke biaya produk.
Dalam skenario kenaikan biaya logistik sebesar 50 persen, tambahan biaya secara sederhana dapat mencapai US$3,50–US$4 per US$100 biaya produk. Namun, perhitungan ini merupakan ilustrasi mekanis dan bukan proyeksi inflasi, karena perusahaan dapat menyerap sebagian biaya melalui margin, melakukan efisiensi, mengganti pemasok, atau mengalihkan moda transportasi.
Persoalan menjadi lebih kompleks bagi Indonesia karena biaya tersebut dapat muncul lebih dari satu kali. Barang impor yang tiba di pelabuhan masih harus melewati proses bongkar muat, pergudangan, transportasi antarpulau atau antarkota, distribusi ke pusat perdagangan, hingga pengiriman ke konsumen akhir.
Artinya, apabila biaya angkutan internasional naik 30–50 persen, sementara biaya logistik domestik juga mengalami peningkatan, dampaknya terhadap harga akhir dapat lebih besar daripada kenaikan ongkos pelayaran semata.
IARSI menilai sektor pangan menjadi salah satu bidang yang harus diantisipasi. Indonesia memiliki karakter geografis kepulauan yang membuat distribusi komoditas membutuhkan jaringan transportasi yang panjang. Kenaikan biaya bahan bakar, kapal, truk, pergudangan, dan distribusi dapat meningkatkan biaya pemindahan pangan dari sentra produksi menuju wilayah konsumsi.
Risiko serupa juga dihadapi sektor manufaktur. Industri yang bergantung pada bahan baku dan komponen impor dapat menghadapi kombinasi kenaikan freight cost dan ketidakpastian waktu kedatangan barang. Perusahaan kemudian mungkin harus menambah persediaan pengaman atau safety stock. Biaya tambahan tersebut pada akhirnya berpotensi masuk ke dalam harga produksi.
Data IATA juga menunjukkan bahwa biaya angkutan udara global tetap berada pada tingkat yang signifikan. Untuk 2026, IATA memperkirakan tarif angkutan udara nominal rata-rata sekitar 56,8 sen AS per cargo tonne-kilometer (CTK), naik sekitar 6,5 persen dibandingkan 2025. Meskipun angkutan udara hanya menangani sebagian kecil volume perdagangan dibandingkan angkutan laut, moda ini sangat penting untuk barang bernilai tinggi, komponen industri, dan produk yang sensitif terhadap waktu.
Menurut IARSI, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya logistik global bukan persoalan satu moda transportasi saja. Kenaikan biaya dapat terjadi secara bersamaan melalui transportasi laut, udara, darat, bahan bakar, pergudangan, asuransi, dan biaya persediaan.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat kemampuan menyerap guncangan eksternal. Pemerintah perlu mempercepat integrasi pelabuhan dengan kawasan industri dan hinterland, meningkatkan efisiensi bongkar muat, memperkuat konektivitas kereta api dan jalan, mengembangkan pusat distribusi regional, serta memperluas digitalisasi logistik.
Penguatan National Logistics Ecosystem (NLE) juga perlu terus dilakukan agar proses perdagangan dan distribusi dapat berlangsung lebih cepat dan transparan. Tujuannya bukan hanya memangkas waktu administrasi, tetapi juga mengurangi biaya yang muncul akibat antrean, waktu tunggu, perpindahan barang yang berulang, dan ketidakterhubungan antarmoda transportasi.
IARSI juga mendorong pemerintah membangun sistem peringatan dini biaya logistik. Indikator yang perlu dipantau tidak hanya harga minyak, tetapi juga tarif kontainer, biaya bunker fuel, waktu tunggu pelabuhan, perubahan rute kapal, biaya asuransi, nilai tukar, dan biaya transportasi domestik.
Dengan demikian, pemerintah dapat melakukan intervensi sebelum kenaikan biaya logistik berubah menjadi tekanan inflasi yang lebih luas.
Bagi IARSI, Indonesia masih memiliki ruang untuk menahan dampak gejolak logistik global. Kuncinya adalah menjadikan efisiensi rantai pasok domestik sebagai shock absorber atau peredam guncangan eksternal.
Jika biaya logistik global meningkat, Indonesia harus mampu menekan biaya pada titik lain dalam rantai pasok. Pelabuhan yang lebih efisien, konektivitas hinterland yang lebih baik, transportasi multimoda yang terintegrasi, pergudangan yang tersebar secara strategis, serta digitalisasi arus barang dapat membantu mengurangi tekanan tersebut.
"Indonesia tidak bisa mengendalikan perang, gangguan jalur pelayaran, atau kenaikan tarif angkutan global. Namun, Indonesia dapat mengendalikan seberapa efisien barang bergerak di dalam negeri," tegas perspektif IARSI.
Pada akhirnya, ancaman terhadap perekonomian Indonesia bukan hanya terletak pada berapa mahal harga minyak, tetapi juga pada berapa mahal biaya untuk memindahkan barang dari produsen ke konsumen.
Dengan biaya logistik global yang secara struktural sudah menyumbang porsi besar terhadap aktivitas ekonomi dunia, ditambah lonjakan tarif pada sejumlah rute pelayaran akibat gangguan geopolitik, IARSI menilai reformasi logistik nasional harus dipercepat.
Efisiensi rantai pasok bukan lagi sekadar agenda peningkatan daya saing, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat Indonesia dari gelombang inflasi yang berasal dari luar negeri.
post: iarsi.org
