
ilustrasi Gudang Bulog by: iarsi.orh - AI
Bekasi – Langkah Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang mendorong pembangunan gudang Perum Bulog di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mendapat dukungan dari Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI). Organisasi profesi di bidang supply chain tersebut menilai pembangunan gudang di wilayah perbatasan bukan sekadar penambahan kapasitas penyimpanan, tetapi harus menjadi bagian dari pembangunan simpul logistik pangan nasional yang terintegrasi.
Dorongan pembangunan gudang Bulog di Nunukan muncul setelah Bapanas melakukan pemantauan kondisi pangan di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia. Bapanas menilai keberadaan gudang akan mengurangi ketergantungan distribusi pangan dari Tarakan, memangkas biaya logistik, mempercepat penyaluran komoditas pokok, serta memperkuat stabilitas pasokan dan harga pangan bagi masyarakat perbatasan. Pemerintah juga mencatat bahwa inflasi tahunan Kabupaten Nunukan pada Juni 2026 sebesar 2,08 persen, terendah di Kalimantan Utara, sehingga penguatan infrastruktur logistik diharapkan semakin menjaga stabilitas tersebut.
Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan pembangunan gudang Bulog merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Namun, menurutnya keberhasilan kebijakan tersebut tidak cukup diukur dari bertambahnya fasilitas penyimpanan, melainkan dari kemampuan gudang menjadi pusat konsolidasi distribusi pangan yang terhubung dengan seluruh ekosistem logistik.
"Gudang Bulog harus bertransformasi menjadi simpul logistik pangan. Artinya, gudang harus terkoneksi dengan pelabuhan, jaringan transportasi laut dan darat, sistem pergudangan modern, manajemen persediaan berbasis digital, serta data distribusi nasional sehingga mampu mempercepat arus barang dan menjaga stabilitas pasokan," ujar Beniadi.
Menurut IARSI, wilayah perbatasan seperti Nunukan memiliki tantangan rantai pasok yang berbeda dibandingkan daerah perkotaan. Ketergantungan terhadap transportasi laut, frekuensi kapal yang terbatas, biaya distribusi yang tinggi, hingga kondisi cuaca menyebabkan biaya logistik pangan menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok apabila tidak didukung infrastruktur distribusi yang memadai.
IARSI menilai pembangunan gudang Bulog harus diikuti dengan integrasi sistem logistik dari hulu hingga hilir. Gudang perlu dilengkapi dengan teknologi Warehouse Management System (WMS), sistem pemantauan stok secara real time, konektivitas dengan pelabuhan, serta koordinasi antara Bulog, Bapanas, pemerintah daerah, operator logistik, dan pelaku usaha pangan.
"Supply chain pangan yang efisien membutuhkan visibilitas data. Pemerintah harus mengetahui kondisi stok, kapasitas gudang, jadwal distribusi, hingga kebutuhan masyarakat secara cepat agar intervensi dapat dilakukan sebelum terjadi kelangkaan ataupun lonjakan harga," tambahnya.
Lebih jauh, IARSI melihat posisi Nunukan sangat strategis karena menjadi gerbang ekonomi Indonesia di wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Dengan pengembangan infrastruktur logistik yang tepat, Nunukan tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyimpanan pangan, tetapi juga dapat berkembang menjadi hub distribusi pangan regional bagi wilayah Kalimantan Utara dan kawasan perbatasan lainnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan upaya Perum Bulog yang terus memperkuat kapasitas penyimpanan nasional. Hingga awal Juli 2026, Bulog mencatat stok beras nasional mencapai sekitar 5,18 juta ton, dengan kapasitas gudang sekitar 6,36 juta ton, sekaligus terus membangun dan merevitalisasi gudang di berbagai daerah untuk mendukung distribusi Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Menurut Beniadi, tantangan berikutnya bukan hanya memastikan stok tersedia, tetapi juga memastikan stok tersebut dapat bergerak cepat menuju daerah yang membutuhkan. Karena itu, pembangunan gudang di Nunukan harus menjadi bagian dari kebijakan logistik nasional yang menghubungkan pelabuhan, pergudangan, transportasi multimoda, serta sistem informasi logistik secara terpadu.
IARSI berharap pembangunan gudang Bulog di Nunukan dapat menjadi model pengembangan logistik pangan di kawasan perbatasan Indonesia lainnya, termasuk Natuna, Kepulauan Talaud, Merauke, dan wilayah terluar lainnya. Dengan pendekatan supply chain yang terintegrasi, Indonesia dinilai akan semakin mampu menjaga ketahanan pangan, menekan biaya logistik, serta memperkuat pemerataan distribusi pangan sebagai fondasi menuju kedaulatan pangan nasional.
post: iarsi.org