Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang menyebut gangguan rantai pasok global sebagai salah satu penyebab kontraksi Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia merupakan sinyal bahwa ketahanan rantai pasok nasional harus menjadi agenda strategis dalam kebijakan industri. Hal ini menyusul penurunan PMI manufaktur Indonesia menjadi 46,9 pada Juni 2026, yang menandakan aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi.
Menurut Airlangga, ketidakpastian geopolitik dan terganggunya arus perdagangan internasional telah memengaruhi pasokan bahan baku, meningkatkan biaya logistik, serta menekan aktivitas produksi di sektor manufaktur nasional.
Menanggapi hal tersebut, IARSI menilai bahwa kondisi tersebut menjadi pengingat penting bahwa ketahanan rantai pasok (supply chain resilience) harus ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam kebijakan industri nasional. Disrupsi global yang berulang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa daya saing manufaktur tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kelancaran pasokan bahan baku, efisiensi distribusi, serta fleksibilitas jaringan logistik dalam menghadapi berbagai risiko.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D.,CMI.,CMT., mengatakan gangguan rantai pasok global yang dipicu ketegangan geopolitik, hambatan distribusi internasional, dan meningkatnya biaya logistik memang memberikan tekanan terhadap industri manufaktur. Namun demikian, kondisi tersebut juga menunjukkan pentingnya memperkuat ekosistem rantai pasok domestik agar industri nasional tidak terlalu bergantung pada pasokan bahan baku maupun komponen dari luar negeri.
"Gangguan rantai pasok global memang menjadi faktor eksternal yang sulit dihindari. Akan tetapi, Indonesia perlu memperkuat ketahanan supply chain nasional melalui diversifikasi sumber pasokan, peningkatan kandungan lokal, digitalisasi logistik, dan pengembangan jaringan distribusi yang lebih tangguh sehingga dampak guncangan global dapat diminimalkan," ujar Ketua Umum IARSI.
Menurut IARSI, kontraksi PMI tidak hanya dipengaruhi oleh keterlambatan pasokan bahan baku, tetapi juga melemahnya permintaan domestik dan ekspor, meningkatnya biaya produksi, serta memanjangnya waktu pengiriman dari pemasok. Kombinasi faktor tersebut menyebabkan perusahaan menahan produksi, mengurangi pembelian bahan baku, dan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.
IARSI menilai Indonesia perlu mempercepat transformasi rantai pasok melalui digitalisasi, mulai dari perencanaan permintaan (demand planning), pemantauan persediaan secara real-time, hingga sistem transportasi dan pergudangan yang terintegrasi. Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), serta platform logistik digital diyakini mampu meningkatkan visibilitas dan respons industri terhadap gangguan pasokan.
Selain itu, IARSI mendorong pemerintah memperkuat industri pendukung dalam negeri melalui hilirisasi dan peningkatan kapasitas produsen lokal. Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku strategis sekaligus memperkuat daya saing manufaktur nasional dalam jangka panjang.
Di sisi logistik, IARSI menilai pembentukan Holding BUMN Logistik dapat menjadi momentum untuk meningkatkan efisiensi distribusi nasional. Integrasi layanan pergudangan, transportasi multimoda, pelabuhan, dan distribusi hingga last mile diharapkan mampu menurunkan biaya logistik serta mempercepat arus barang ke kawasan industri dan sentra produksi.
IARSI juga mendorong percepatan implementasi National Logistics Ecosystem (NLE), penyederhanaan proses kepabeanan, serta peningkatan konektivitas kawasan industri dengan pelabuhan, bandara, dan jaringan transportasi nasional. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran arus barang ketika terjadi disrupsi global.
Sementara itu, data S&P Global menunjukkan pelemahan PMI dipengaruhi oleh turunnya pesanan baru dari pasar domestik maupun ekspor, kenaikan biaya input, serta memanjangnya waktu pengiriman pemasok akibat gangguan rantai pasok internasional. Pemerintah juga menyatakan bahwa dampak gangguan global yang dipicu ketegangan geopolitik baru mulai terasa di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Menutup pernyataannya, IARSI menegaskan bahwa ketahanan rantai pasok harus menjadi bagian dari strategi pembangunan industri nasional.
"Kontraksi PMI harus menjadi momentum untuk mempercepat reformasi supply chain Indonesia. Industri yang memiliki rantai pasok tangguh, terintegrasi, dan berbasis digital akan lebih mampu bertahan menghadapi ketidakpastian global sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional," tutup Ketua Umum IARSI.
post: iarsi.org
