BEKASI — Transformasi digital pelabuhan semakin mendesak bagi Indonesia. Pelabuhan tidak lagi cukup dipandang hanya sebagai tempat kapal bersandar dan melakukan bongkar muat, tetapi harus berkembang menjadi pusat integrasi data, logistik, transportasi, perdagangan, dan aktivitas industri yang mampu menghubungkan seluruh mata rantai pasok secara real time.
Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai momentum transformasi tersebut sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini. Sebagai negara kepulauan dengan jaringan perdagangan yang sangat bergantung pada transportasi laut, efisiensi pelabuhan akan berpengaruh langsung terhadap biaya logistik, kecepatan distribusi barang, daya saing ekspor, hingga stabilitas harga di berbagai daerah.
Pandangan ini sejalan dengan perkembangan sektor kepelabuhanan nasional yang semakin mengarah pada digitalisasi. Pelabuhan modern kini tidak hanya dituntut meningkatkan kapasitas bongkar muat, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan informasi mengenai kapal, terminal, trucking, pergudangan, kawasan industri, kepabeanan, hingga distribusi barang ke pasar.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menegaskan bahwa digitalisasi harus ditempatkan sebagai bagian dari transformasi menyeluruh rantai pasok nasional, bukan sekadar digitalisasi layanan di dalam kawasan pelabuhan.
Menurut Beniadi, pelabuhan harus terhubung dengan seluruh simpul logistik agar data dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara cepat dan akurat.
"Rantai pasok nasional harus dilihat sebagai satu ekosistem yang saling terhubung. Pelabuhan, jalan, kereta api, angkutan laut, pergudangan, pusat distribusi, kawasan industri, hingga konsumen harus berada dalam satu sistem yang terintegrasi," ujar Beniadi.
Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tanpa integrasi sistem dapat membuat manfaat investasi tidak maksimal. Demikian pula digitalisasi yang berjalan sendiri-sendiri antarlembaga berisiko menciptakan silo data dan tidak mampu memberikan gambaran utuh mengenai pergerakan barang dari hulu hingga hilir.
Arus Barang Meningkat, Kebutuhan Data Semakin Besar
Salah satu alasan transformasi digital pelabuhan semakin relevan adalah meningkatnya aktivitas arus barang. Data operasional Pelindo Regional 2 hingga Mei 2026 menunjukkan arus barang nonpetikemas tumbuh 16,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan berada 9,10 persen di atas target RKAP.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas logistik dan perdagangan terus berkembang. Namun, peningkatan volume barang juga berarti semakin kompleksnya kebutuhan koordinasi antara pelabuhan, kapal, terminal, perusahaan trucking, gudang, pusat distribusi, kawasan industri, dan konsumen.
Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan berbasis data menjadi semakin penting.
Data mengenai jadwal kedatangan kapal, kapasitas terminal, kesiapan armada, ketersediaan gudang, serta permintaan industri harus dapat dipertukarkan secara cepat. Dengan demikian, pelaku logistik dapat mengantisipasi potensi antrean, mengoptimalkan penggunaan armada, mengurangi waktu tunggu, dan meningkatkan utilisasi aset.
Bagi IARSI, data tidak boleh hanya menjadi produk administratif. Data harus menjadi instrumen pengambilan keputusan yang mampu memberikan visibilitas terhadap seluruh pergerakan barang.
Dari Smart Port Menuju Smart Supply Chain
Pemerintah juga tengah mendorong pengembangan konsep Green and Smart Port. Hingga 2026, sebanyak 41 pelabuhan telah mengikuti asesmen sejak 2019, sementara delapan pelabuhan menerima penghargaan Green and Smart Port 2026.
Program tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi dan inovasi teknologi semakin menjadi bagian dari strategi pengembangan pelabuhan Indonesia, bersamaan dengan agenda efisiensi energi, pengurangan emisi, dan peningkatan kualitas layanan.
Namun, IARSI memandang transformasi tersebut perlu diperluas dari konsep smart port menjadi smart supply chain.
Artinya, digitalisasi tidak berhenti pada pintu gerbang pelabuhan. Sistem harus mampu menghubungkan pelabuhan dengan hinterland, jalan nasional, kereta api, angkutan laut, dry port, pergudangan, pusat distribusi, kawasan industri, hingga pasar akhir.
Ketua Umum IARSI Beniadi Setiawan menilai, ketidakefisienan pada satu simpul dapat menimbulkan efek berantai terhadap keseluruhan rantai pasok.
Pembangunan pelabuhan tanpa konektivitas hinterland, penambahan gudang tanpa dukungan transportasi yang efisien, maupun digitalisasi yang tidak terhubung antarlembaga, menurutnya, tidak akan menghasilkan efisiensi maksimal.
Data Real Time untuk Menekan Biaya Logistik
IARSI juga menilai pemanfaatan data real time dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan biaya logistik.
Dengan sistem yang terintegrasi, pemerintah dan pelaku usaha dapat mengetahui secara lebih cepat kondisi aktual arus barang. Ketika terjadi gangguan pada satu jalur distribusi, sistem dapat membantu mengidentifikasi alternatif transportasi atau jalur distribusi yang tersedia.
Demikian pula dalam pengelolaan persediaan. Data permintaan dan pasokan yang terintegrasi dapat membantu perusahaan mengurangi risiko kelebihan stok maupun kekurangan stok.
"Digitalisasi proses logistik dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan efisiensi. Integrasi data pengiriman, sistem pelacakan barang secara real time, serta penyederhanaan prosedur administrasi diyakini mampu memangkas waktu dan biaya operasional," ujar Beniadi dalam pandangan IARSI mengenai penguatan efisiensi logistik nasional.
Menurut IARSI, pendekatan berbasis data juga penting untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok. Indonesia menghadapi berbagai risiko, mulai dari perubahan geopolitik, fluktuasi harga energi, gangguan jalur perdagangan, perubahan iklim, hingga ancaman keamanan siber.
Karena itu, sistem logistik nasional harus mampu mendeteksi potensi gangguan lebih awal dan menyediakan informasi yang cukup untuk mengambil tindakan mitigasi.
Integrasi Pelabuhan dan Industri Jadi Kunci
Transformasi digital pelabuhan juga harus dikaitkan dengan agenda industrialisasi dan hilirisasi.
Pelabuhan yang terhubung secara digital dengan kawasan industri akan memudahkan perencanaan arus bahan baku dan produk jadi. Industri dapat memperoleh kepastian mengenai jadwal kedatangan bahan baku, sementara operator logistik dapat mengatur kapasitas transportasi dan pergudangan secara lebih efisien.
Dalam konteks tersebut, IARSI memandang integrasi digital harus mencakup seluruh ekosistem, termasuk pelabuhan, kawasan industri, dry port, pergudangan, transportasi multimoda, sistem kepabeanan, hingga pusat distribusi.
Ketua Umum IARSI juga menekankan bahwa keberhasilan transformasi tidak cukup hanya dengan membangun teknologi. Kolaborasi, standardisasi data, keamanan informasi, kualitas sumber daya manusia, dan koordinasi lintas lembaga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Saatnya Membangun "Satu Data Rantai Pasok"
IARSI mendorong pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem satu data rantai pasok nasional yang memungkinkan berbagai pemangku kepentingan berbagi informasi secara aman dan terintegrasi.
Ekosistem tersebut idealnya memiliki tiga kemampuan utama.
Pertama, visibilitas, yaitu kemampuan mengetahui posisi dan status barang sepanjang perjalanan dari pemasok hingga konsumen.
Kedua, prediktabilitas, yakni kemampuan memperkirakan volume barang, kebutuhan kapasitas, jadwal kedatangan, dan potensi gangguan.
Ketiga, kolaborasi, yaitu kemampuan pemerintah dan pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan data yang sama dan diperbarui secara berkala atau real time.
Beniadi menilai, transformasi rantai pasok harus menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional, bukan sekadar program sektoral.
Menurutnya, keberhasilan hilirisasi, ketahanan pangan, industrialisasi, dan peningkatan ekspor akan sangat ditentukan oleh efisiensi sistem distribusi nasional.
"Jika seluruh rantai pasok nasional dapat bekerja secara efisien, Indonesia tidak hanya mampu menurunkan biaya logistik, tetapi juga meningkatkan daya saing industri, memperkuat ketahanan ekonomi, dan mempercepat pencapaian visi Indonesia Emas 2045," tegas Beniadi.
Dengan demikian, transformasi digital pelabuhan harus dipandang sebagai bagian dari agenda besar reformasi rantai pasok Indonesia.
Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa banyak layanan yang sudah terdigitalisasi, tetapi seberapa besar digitalisasi tersebut mampu memangkas waktu tunggu, menurunkan biaya logistik, meningkatkan utilisasi aset, mempercepat distribusi, meningkatkan ketertelusuran barang, dan memperkuat daya saing industri nasional.
Bagi IARSI, pelabuhan merupakan pintu masuk dan keluar perdagangan Indonesia, sementara data adalah sistem saraf yang menghubungkan seluruh jaringan tersebut.
Jika data dapat mengalir secara terintegrasi dari kapal ke terminal, dari pelabuhan ke gudang, dari gudang ke industri, dan dari industri hingga pasar, maka Indonesia tidak hanya akan memiliki pelabuhan yang lebih modern, tetapi juga membangun ekosistem rantai pasok nasional yang lebih cerdas, tangguh, efisien, dan kompetitif.
post: iarsi.org
