ilustrasi by: iarsi.org - AI


BekasiIkatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai kebijakan pemerintah mengonsolidasikan tujuh perusahaan logistik BUMN ke dalam PT Multi Terminal Indonesia (MTI) merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem logistik nasional. Namun, organisasi profesi tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan merger tidak cukup diukur dari penyederhanaan struktur organisasi, melainkan harus mampu meningkatkan efisiensi rantai pasok, memperkuat daya saing industri nasional, serta menurunkan biaya logistik secara berkelanjutan.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan bahwa proses konsolidasi harus dimaknai sebagai transformasi menyeluruh terhadap tata kelola logistik nasional. Menurutnya, penggabungan perusahaan akan memberikan manfaat apabila diikuti integrasi proses bisnis, digitalisasi layanan, optimalisasi aset, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Merger bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menciptakan sistem logistik yang lebih efisien dan kompetitif. Keberhasilan konsolidasi harus diukur dari kemampuan menghadirkan layanan yang lebih cepat, biaya logistik yang lebih rendah, serta meningkatnya daya saing industri nasional," ujar Beniadi.

IARSI menyampaikan apresiasi terhadap komitmen PT Pelni Logistics yang memastikan proses konsolidasi tidak akan disertai pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut Beniadi, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa transformasi perusahaan dapat dilakukan tanpa mengorbankan sumber daya manusia yang selama ini menjadi faktor penting dalam keberhasilan operasional sektor logistik.

"SDM merupakan aset strategis dalam rantai pasok. Komitmen untuk tidak melakukan PHK memberikan kepastian bagi pekerja sekaligus menjaga keberlangsungan kompetensi yang dibutuhkan dalam proses integrasi perusahaan. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan kompetensi SDM melalui pelatihan, sertifikasi, serta penguasaan teknologi digital agar mampu menghadapi model bisnis logistik yang semakin modern," jelasnya.

IARSI menilai bahwa salah satu persoalan mendasar logistik Indonesia selama ini adalah masih terfragmentasinya layanan antarperusahaan, mulai dari pergudangan, terminal, kepelabuhanan, distribusi, transportasi darat dan laut, hingga sistem informasi logistik. Kondisi tersebut menyebabkan utilisasi aset belum optimal dan koordinasi antarpelaku logistik masih menghadapi berbagai kendala.

Melalui konsolidasi tujuh BUMN logistik, IARSI melihat peluang besar untuk membangun layanan logistik terintegrasi (end-to-end logistics services) yang mampu mempercepat arus barang, meningkatkan ketepatan waktu distribusi, mengurangi biaya operasional, serta memperkuat konektivitas antardaerah.

Beniadi menambahkan bahwa transformasi pascamerger harus diarahkan pada pembentukan satu ekosistem digital logistik nasional yang mampu menghubungkan pelabuhan, terminal, pergudangan, moda transportasi, hingga pelanggan dalam satu sistem informasi yang terintegrasi.

"Digitalisasi harus menjadi prioritas utama. Integrasi data secara real-time akan meningkatkan transparansi, mempercepat pengambilan keputusan, mengurangi waktu tunggu distribusi, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada dunia usaha. Tanpa transformasi digital, merger hanya akan menghasilkan organisasi yang lebih besar tanpa peningkatan produktivitas yang signifikan," katanya.

IARSI juga menilai konsolidasi ini sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat daya saing nasional melalui transformasi BUMN. Pembentukan holding sektoral diharapkan mampu menciptakan sinergi usaha, meningkatkan efisiensi investasi, mengoptimalkan pemanfaatan aset, serta memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi persaingan logistik regional yang semakin kompetitif.

Meski demikian, IARSI mengingatkan agar perusahaan hasil konsolidasi tetap menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), transparansi, dan akuntabilitas. Organisasi ini juga mendorong agar sinergi BUMN tidak menutup ruang kolaborasi dengan perusahaan logistik swasta, pelaku UMKM, operator transportasi, maupun perusahaan rintisan berbasis teknologi.

Menurut IARSI, keberhasilan konsolidasi seharusnya diukur melalui indikator yang nyata, seperti penurunan biaya logistik nasional, peningkatan ketepatan waktu pengiriman, meningkatnya utilisasi aset, efisiensi operasional, serta bertambahnya kepuasan pelanggan dan pelaku usaha.

Beniadi menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan sistem logistik yang mampu mendukung agenda hilirisasi industri, ketahanan pangan, ketahanan energi, serta peningkatan daya saing ekspor. Oleh karena itu, merger tujuh BUMN logistik harus menjadi momentum reformasi sektor logistik secara menyeluruh, bukan sekadar perubahan struktur kelembagaan.

"Kami berharap konsolidasi ini menjadi titik awal lahirnya sistem rantai pasok nasional yang lebih modern, terintegrasi, adaptif, dan berdaya saing global. Yang dibutuhkan Indonesia bukan hanya perusahaan logistik yang lebih besar, tetapi sistem logistik yang mampu menciptakan efisiensi, memperkuat konektivitas nasional, serta memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi," tutup Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI).


Post: iarsi.org