Presiden Prabowo Subianto


Bekasi — Optimisme Presiden Prabowo Subianto bahwa perekonomian Indonesia ke depan mampu berada di atas sejumlah negara maju seperti Jerman, Inggris, dan Prancis dinilai Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) sebagai target besar yang membutuhkan penguatan fundamental ekonomi secara konsisten.

IARSI menilai optimisme tersebut harus diterjemahkan ke dalam strategi konkret untuk meningkatkan produktivitas nasional, memperkuat industri dalam negeri, mempercepat hilirisasi, serta membangun sistem logistik dan rantai pasok yang lebih efisien. Pertumbuhan ekonomi yang besar, menurut IARSI, tidak cukup hanya ditopang oleh konsumsi domestik dan kekayaan sumber daya alam, tetapi harus dibangun melalui peningkatan daya saing nasional.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai Indonesia memiliki modal ekonomi yang kuat untuk mengejar posisi sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama dunia. Namun, ambisi tersebut harus diikuti dengan reformasi struktural agar biaya produksi dan distribusi di dalam negeri semakin kompetitif.

"IARSI melihat optimisme Presiden sebagai momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia. Namun, kekuatan ekonomi tidak hanya diukur dari besarnya Produk Domestik Bruto, tetapi juga dari kemampuan negara membangun produktivitas, efisiensi, industri bernilai tambah, serta rantai pasok yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," ujar Beniadi.

Menurut IARSI, salah satu pekerjaan rumah terbesar Indonesia adalah membangun konektivitas rantai pasok dari hulu hingga hilir. Infrastruktur pelabuhan, jalan, kereta api, kawasan industri, pergudangan, pusat distribusi, hingga jaringan distribusi last mile harus terhubung dalam satu ekosistem yang efisien.

IARSI berpandangan bahwa peningkatan skala ekonomi Indonesia harus berjalan beriringan dengan penurunan biaya logistik. Jika biaya distribusi masih tinggi, maka peningkatan produksi nasional tidak otomatis menghasilkan daya saing yang lebih baik. Sebaliknya, efisiensi logistik akan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun global.

"Kalau Indonesia ingin menjadi kekuatan ekonomi besar, maka setiap rupiah biaya logistik harus memberikan nilai tambah. Barang harus bergerak lebih cepat, lebih murah, lebih aman, dan lebih terukur. Ini membutuhkan integrasi transportasi multimoda, konektivitas pelabuhan dengan hinterland, modernisasi pergudangan, serta digitalisasi rantai pasok," tegasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan agenda IARSI yang sebelumnya mendorong pembenahan menyeluruh terhadap ekosistem rantai pasok nasional, mulai dari pelabuhan, transportasi, pergudangan, pusat distribusi, hingga sistem digital dan sumber daya manusia. IARSI menilai pembangunan infrastruktur secara parsial tidak akan menghasilkan efisiensi maksimal apabila tidak diikuti integrasi antar-moda dan antarwilayah.

Hilirisasi Harus Terhubung dengan Logistik

IARSI juga menilai program hilirisasi harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi membangun rantai pasok nasional. Hilirisasi tidak cukup hanya mengolah bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau produk akhir, tetapi harus menciptakan ekosistem industri yang terhubung dengan pemasok bahan baku, kawasan industri, pelabuhan, pusat distribusi, hingga pasar ekspor.

Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi negara dengan ekonomi besar berdasarkan ukuran pasar, tetapi juga mampu menjadi pusat produksi dan distribusi di kawasan Asia.

IARSI sebelumnya menilai Indonesia memiliki peluang besar memperkuat posisi sebagai pemain utama perdagangan global karena memiliki sumber daya alam, basis manufaktur yang berkembang, agenda hilirisasi, dan posisi geografis strategis. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila reformasi logistik dan transformasi rantai pasok dilakukan secara konsisten.

Digitalisasi Menjadi Pengungkit Produktivitas

Selain infrastruktur fisik, IARSI menilai transformasi digital menjadi faktor penting untuk mencapai target ekonomi jangka panjang. Pemerintah perlu membangun integrasi data yang memungkinkan pergerakan barang dipantau secara real time dari produsen hingga konsumen.

Sistem digital yang terintegrasi dapat membantu pemerintah dan dunia usaha melakukan perencanaan permintaan, mengelola persediaan, mengoptimalkan rute transportasi, serta mengurangi waktu tunggu dan biaya distribusi.

IARSI sebelumnya juga menekankan bahwa transformasi digital pemerintahan dan GovTech seharusnya tidak berhenti pada pelayanan administrasi, tetapi dapat dikembangkan menjadi fondasi integrasi data logistik, pengadaan pemerintah, transportasi, pergudangan, hingga distribusi nasional.

Kekuatan Ekonomi Harus Terasa hingga Daerah

IARSI juga mengingatkan bahwa pencapaian ekonomi besar harus dirasakan secara merata hingga tingkat daerah dan desa. Karena itu, pembangunan jaringan distribusi nasional harus mampu menghubungkan pusat produksi dengan pasar secara efisien.

Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, menurut perspektif IARSI, dapat menjadi salah satu simpul dalam rantai pasok nasional apabila didukung sistem distribusi yang terintegrasi. Kopdes dapat berfungsi sebagai penghubung antara produsen, pusat distribusi, pasar, dan konsumen di tingkat desa. Namun, efektivitasnya tetap membutuhkan dukungan infrastruktur, data, tata kelola, dan sistem logistik yang baik.

"Pertumbuhan ekonomi yang besar harus diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, rantai pasok nasional harus mampu memastikan produk dari sentra produksi dapat menjangkau pasar dengan biaya yang efisien, sementara masyarakat di daerah juga mendapatkan akses barang dengan harga yang kompetitif," kata Beniadi.

IARSI menilai optimisme Presiden Prabowo mengenai masa depan ekonomi Indonesia harus dijadikan momentum untuk mempercepat reformasi logistik nasional. Pemerintah perlu memastikan pembangunan infrastruktur, kebijakan industri, hilirisasi, digitalisasi, perdagangan, dan pengembangan sumber daya manusia berjalan dalam satu strategi yang terintegrasi.

Pada akhirnya, IARSI menegaskan bahwa ambisi Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia harus dibangun dari fondasi yang kuat. Bukan hanya dengan memperbesar ukuran ekonomi, tetapi juga dengan menciptakan produktivitas tinggi, industri bernilai tambah, sistem logistik efisien, serta rantai pasok nasional yang tangguh menghadapi berbagai gejolak global.

"Jika Indonesia mampu mengintegrasikan kekuatan industri, infrastruktur, digitalisasi, dan rantai pasok nasional, maka optimisme untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia bukan sekadar wacana. Tantangannya sekarang adalah memastikan seluruh kebijakan tersebut berjalan konsisten dan menghasilkan efisiensi nyata bagi dunia usaha dan masyarakat," pungkas Beniadi.


post: iarsi.org