Bekasi – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif selama Januari–Mei 2026 masih mencatat surplus sebesar US$4,03 miliar. Capaian tersebut ditopang oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$16,31 miliar, yang mampu mengimbangi defisit sektor migas sebesar US$12,28 miliar.
Menanggapi perkembangan tersebut, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai bahwa surplus perdagangan merupakan indikator positif bagi perekonomian nasional. Namun, keberlanjutan kinerja tersebut sangat bergantung pada kemampuan Indonesia memperkuat sistem rantai pasok, meningkatkan efisiensi logistik, serta memperbesar kontribusi ekspor produk bernilai tambah.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan bahwa surplus perdagangan tidak hanya mencerminkan tingginya permintaan terhadap produk Indonesia di pasar internasional, tetapi juga menunjukkan semakin pentingnya peran manajemen rantai pasok dalam menjaga kelancaran arus barang dari produsen hingga konsumen global.
"Surplus perdagangan adalah kabar baik bagi perekonomian nasional. Namun tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan surplus tersebut melalui rantai pasok yang semakin efisien, tangguh, dan terintegrasi. Daya saing ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kecepatan distribusi, biaya logistik, serta keandalan sistem pasok nasional," ujar Beniadi.
Data BPS menunjukkan bahwa surplus nonmigas didorong oleh lima kelompok komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta alas kaki. Menurut IARSI, komoditas tersebut mencerminkan kekuatan industri nasional sekaligus keberhasilan kebijakan hilirisasi yang mulai memberikan nilai tambah bagi ekspor Indonesia.
Meski demikian, IARSI mengingatkan bahwa ketergantungan pada sejumlah komoditas utama masih menjadi tantangan. Diversifikasi produk ekspor dan perluasan pasar tujuan perlu terus dilakukan agar Indonesia lebih adaptif terhadap perubahan permintaan global maupun dinamika geopolitik internasional.
Selain itu, defisit sektor migas yang mencapai US$12,28 miliar menunjukkan bahwa ketahanan energi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Ketergantungan terhadap impor energi tidak hanya memengaruhi neraca perdagangan, tetapi juga meningkatkan biaya logistik, biaya transportasi, dan biaya produksi industri.
Menurut Beniadi, penguatan rantai pasok nasional harus dilakukan secara menyeluruh melalui integrasi infrastruktur, digitalisasi layanan logistik, peningkatan kapasitas pelabuhan, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan visibilitas distribusi barang.
"Saat ini persaingan global bukan lagi sekadar kompetisi antarproduk, melainkan kompetisi antar rantai pasok. Negara yang mampu mengirimkan barang lebih cepat, lebih efisien, dan lebih andal akan memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar internasional," jelasnya.
IARSI juga mendorong percepatan implementasi National Logistics Ecosystem (NLE), penguatan konektivitas antara kawasan industri dan pelabuhan, penyederhanaan proses ekspor, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor logistik. Langkah tersebut dinilai penting untuk menurunkan biaya logistik nasional sekaligus meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.
Sebagai organisasi profesi di bidang manajemen rantai suplai, IARSI meyakini bahwa keberhasilan mempertahankan surplus perdagangan harus diikuti dengan transformasi sistem logistik nasional yang lebih modern, terintegrasi, dan berorientasi pada efisiensi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor komoditas, tetapi juga mampu memperkuat posisi sebagai pusat manufaktur dan distribusi regional.
"Momentum surplus perdagangan harus dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi rantai pasok nasional. Ketika logistik semakin efisien, industri semakin kompetitif, dan produk bernilai tambah semakin mendominasi ekspor, maka fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin kuat dan berkelanjutan," tutup Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT.
post: iarsi.org
