ilustrasi by: iarsi.org - AI


Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai bahwa sistem transportasi barang yang terintegrasi menjadi salah satu prasyarat utama untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Integrasi transportasi darat, laut, kereta api, udara, pelabuhan, pergudangan, dan kawasan industri dinilai akan meningkatkan efisiensi logistik, memperkuat daya saing industri nasional, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan bahwa sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan sistem transportasi barang yang terhubung dari hulu hingga hilir sehingga distribusi tidak lagi berjalan secara sektoral, melainkan menjadi satu ekosistem rantai pasok nasional.

"Indonesia Emas 2045 memerlukan sistem transportasi barang yang terintegrasi. Jalan tol, jalur kereta barang, pelabuhan, bandara kargo, pergudangan, hingga kawasan industri harus saling terkoneksi agar distribusi semakin cepat, biaya logistik menurun, dan daya saing ekonomi nasional meningkat," ujar Beniadi.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang masif dalam beberapa tahun terakhir merupakan modal penting, namun manfaatnya akan lebih optimal apabila didukung integrasi antarmoda dan digitalisasi layanan logistik.

Saat ini, sistem transportasi barang Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Meskipun pemerintah terus membangun jalan tol, pelabuhan, jalur kereta api, bandara, serta memperluas jaringan logistik nasional, konektivitas antarmoda di berbagai wilayah belum sepenuhnya berjalan optimal. Perpindahan barang dari kawasan industri menuju pelabuhan, pusat distribusi, maupun gudang masih menghadapi kendala berupa waktu tunggu, biaya tambahan, dan koordinasi antarinstansi yang perlu terus disempurnakan.

Pemerintah juga terus mempercepat implementasi National Logistics Ecosystem (NLE) sebagai bagian dari reformasi logistik nasional. Integrasi layanan kepabeanan, karantina, kepelabuhanan, pergudangan, dan transportasi melalui platform digital diharapkan dapat memangkas waktu layanan sekaligus menekan biaya logistik nasional. Berbagai evaluasi pemerintah menunjukkan implementasi NLE mulai memberikan dampak positif terhadap efisiensi proses logistik di sejumlah pelabuhan utama.

Beniadi menilai pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan transformasi tata kelola rantai pasok.

"Kita sudah memiliki banyak infrastruktur strategis. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh moda transportasi saling terhubung secara efektif. Truk, kereta api, kapal, pelabuhan, pergudangan, dan kawasan industri harus bekerja sebagai satu jaringan logistik nasional. Tanpa integrasi tersebut, biaya logistik masih akan menjadi beban bagi dunia usaha."

Ia menjelaskan bahwa pengembangan transportasi multimoda menjadi kebutuhan mendesak. Pemanfaatan kereta api untuk angkutan barang jarak jauh, angkutan laut sebagai tulang punggung distribusi antarpulau, serta transportasi jalan sebagai penghubung menuju kawasan industri akan menghasilkan sistem logistik yang lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan.

Selain transportasi, IARSI juga menilai pengembangan smart warehouse, dry port, dan regional distribution center harus menjadi prioritas. Keberadaan fasilitas tersebut akan mempercepat konsolidasi barang, mengurangi waktu tunggu distribusi, menjaga ketersediaan stok, sekaligus mendukung pertumbuhan sektor manufaktur, perdagangan, pangan, dan e-commerce.

IARSI juga mendorong penguatan konektivitas antara pelabuhan dengan kawasan industri dan pusat pergudangan. Menurut organisasi tersebut, pelabuhan modern tidak cukup hanya menjadi lokasi bongkar muat, tetapi harus berkembang menjadi pusat logistik terpadu yang didukung akses jalan, jalur kereta api, layanan kepabeanan yang cepat, serta sistem digital yang terintegrasi.

Sejalan dengan itu, pemerintah terus menempatkan pembangunan infrastruktur dan peningkatan konektivitas sebagai strategi untuk menurunkan biaya logistik nasional, memperkuat daya saing industri, serta menarik investasi. Berbagai proyek strategis nasional di sektor jalan, pelabuhan, kereta api, dan kawasan industri menjadi bagian dari upaya memperlancar arus barang dan meningkatkan efisiensi distribusi.

Beniadi menambahkan bahwa keberhasilan Indonesia menjadi negara maju pada 2045 tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan mengintegrasikan seluruh komponen rantai pasok ke dalam sistem logistik yang efisien, tangguh, adaptif, dan berbasis teknologi.

"Negara yang memiliki supply chain yang kuat akan memiliki daya saing yang kuat. Transportasi barang yang terintegrasi bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi merupakan investasi strategis untuk meningkatkan produktivitas nasional, memperluas pasar ekspor, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mewujudkan Indonesia Emas 2045," tutup Beniadi.


post: iarsi.org 

.