Bekasi – Penguatan layanan kargo udara dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi disparitas harga dan menjamin kelancaran distribusi logistik di wilayah terpencil, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP). Di negara kepulauan seperti Indonesia, transportasi udara memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menghubungkan daerah-daerah yang belum memiliki akses memadai melalui jalur darat maupun laut.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan terus mengembangkan penyelenggaraan angkutan udara perintis sebagai bagian dari upaya meningkatkan konektivitas nasional. Program ini tidak hanya membuka keterisolasian wilayah, tetapi juga mendukung distribusi kebutuhan pokok, layanan kesehatan, pendidikan, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Penerbangan perintis menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan masyarakat di wilayah 3TP memperoleh akses terhadap barang dan jasa dengan lebih cepat dan terjangkau.
Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan bahwa transportasi udara saat ini telah berkembang menjadi bagian penting dari sistem rantai pasok nasional. Menurutnya, keberadaan pesawat kargo dan layanan penerbangan perintis tidak lagi sekadar berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi menjadi penopang utama distribusi logistik ke wilayah yang sulit dijangkau.
"Indonesia memiliki tantangan geografis yang unik. Di banyak daerah pegunungan, kepulauan kecil, dan kawasan perbatasan, transportasi udara merupakan satu-satunya moda yang mampu menjamin kesinambungan distribusi barang. Oleh karena itu, penguatan kapasitas kargo udara harus menjadi bagian dari strategi nasional untuk menekan disparitas harga sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok," ujar Beniadi.
Menurutnya, tingginya biaya distribusi masih menjadi penyebab utama mahalnya harga kebutuhan pokok di sejumlah wilayah terpencil. Ketergantungan pada frekuensi penerbangan yang terbatas, kapasitas angkut yang belum memadai, serta belum terintegrasinya jaringan logistik menyebabkan biaya pengiriman meningkat dan berdampak langsung terhadap harga yang dibayar masyarakat.
Karena itu, IARSI mendorong pemerintah untuk memperkuat kapasitas angkutan kargo udara melalui penambahan armada, peningkatan frekuensi penerbangan, serta optimalisasi bandara perintis sebagai pusat distribusi logistik regional. Bandara tidak hanya berfungsi sebagai titik keluar-masuk barang, tetapi juga perlu dikembangkan menjadi simpul logistik yang terhubung dengan pergudangan modern, fasilitas cold chain, transportasi darat, pelabuhan laut, dan pusat distribusi pangan.
"Idealnya, setiap bandara strategis di wilayah 3TP memiliki ekosistem logistik yang lengkap. Barang dari berbagai daerah dapat dikonsolidasikan terlebih dahulu sebelum didistribusikan ke tujuan akhir. Dengan pola tersebut, utilisasi pesawat meningkat, biaya logistik lebih efisien, dan pasokan barang menjadi lebih stabil," jelasnya.
IARSI juga menilai penguatan kargo udara harus berjalan seiring dengan percepatan digitalisasi logistik melalui integrasi ke dalam National Logistic Ecosystem (NLE). Sistem tersebut memungkinkan seluruh proses distribusi, mulai dari pengadaan, pergudangan, pengangkutan, hingga penerimaan barang, dipantau secara real time sehingga meningkatkan efisiensi, transparansi, dan koordinasi antarinstansi maupun pelaku usaha.
Selain itu, pengembangan jaringan logistik udara perlu diselaraskan dengan program ketahanan pangan nasional. Distribusi komoditas strategis seperti beras, gula, minyak goreng, obat-obatan, vaksin, hingga bantuan kemanusiaan membutuhkan moda transportasi yang cepat dan andal, terutama ketika terjadi bencana alam atau gangguan distribusi di wilayah tertentu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan biaya logistik masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan harga kebutuhan pokok antardaerah. Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan terus memperluas layanan angkutan udara perintis untuk mendukung pemerataan pembangunan, meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan dasar, sekaligus memperkuat konektivitas nasional.
Beniadi menambahkan bahwa investasi pada transportasi udara harus dipandang sebagai investasi terhadap ketahanan ekonomi nasional. Menurutnya, keberhasilan distribusi logistik tidak hanya ditentukan oleh jumlah armada atau panjang landasan pacu, tetapi juga oleh kualitas integrasi antarmoda transportasi, sistem pergudangan, teknologi informasi, serta tata kelola rantai pasok yang efisien.
"Indonesia membutuhkan jaringan logistik yang saling terhubung dari pusat produksi hingga daerah terpencil. Transportasi udara adalah penghubung utama bagi wilayah yang belum dapat dijangkau moda lain. Jika penguatan kargo udara dibarengi dengan integrasi pergudangan, pelabuhan, transportasi darat, dan sistem digital nasional, disparitas harga dapat ditekan, ketahanan pangan semakin kuat, dan daya saing ekonomi nasional akan meningkat," tegasnya.
IARSI memandang pengembangan transportasi udara sebagai bagian dari strategi besar membangun sistem logistik nasional yang modern, tangguh, dan inklusif. Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator bandara, maskapai penerbangan, BUMN logistik, dan pelaku usaha, transportasi udara diharapkan mampu menjadi tulang punggung distribusi barang ke seluruh pelosok Indonesia sekaligus memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
post: iarsi.org
