ilustrasi by: iarsi.org - AI


Bekasi – Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menegaskan Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam perdagangan global. Optimisme tersebut didukung oleh potensi sumber daya alam yang melimpah, pertumbuhan industri manufaktur, program hilirisasi, serta letak geografis Indonesia yang berada di jalur perdagangan dunia. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila reformasi logistik nasional dan transformasi rantai pasok dilakukan secara konsisten.

Penilaian tersebut sejalan dengan kinerja ekspor nasional yang masih menunjukkan tren positif di tengah perlambatan ekonomi global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar, atau meningkat 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor nonmigas tumbuh 3,89 persen menjadi US$110,19 miliar, dengan neraca perdagangan tetap mencatat surplus sebesar US$4,03 miliar. Capaian ini menunjukkan bahwa produk Indonesia masih mampu bersaing di pasar internasional meskipun tekanan ekonomi global masih berlangsung.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan bahwa ke depan persaingan perdagangan internasional tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk atau kapasitas produksi, melainkan juga oleh keunggulan sistem logistik dan rantai pasok yang dimiliki suatu negara.

"Indonesia memiliki potensi menjadi pemain utama dalam perdagangan global. Namun, keunggulan tersebut harus diperkuat melalui sistem rantai pasok yang efisien, modern, dan terintegrasi. Persaingan global saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kecepatan distribusi, kepastian pengiriman, biaya logistik, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten," ujar Beniadi.

Menurut IARSI, program hilirisasi yang terus dikembangkan pemerintah telah mulai meningkatkan kontribusi produk bernilai tambah terhadap ekspor nasional. Produk hasil pengolahan mineral, besi dan baja, serta berbagai komoditas manufaktur menjadi bukti bahwa Indonesia semakin bergeser dari eksportir bahan mentah menuju eksportir produk bernilai tambah tinggi. Namun, transformasi tersebut masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya logistik nasional, konektivitas antarmoda yang belum optimal, keterbatasan fasilitas pergudangan dan cold chain, serta belum terintegrasinya kawasan industri dengan pelabuhan dan jaringan transportasi secara menyeluruh.

IARSI juga menilai dinamika perdagangan global terus berkembang. Negara tujuan ekspor kini tidak hanya mempertimbangkan harga dan kualitas produk, tetapi juga menerapkan standar yang lebih tinggi, seperti traceability, keberlanjutan (sustainability), jejak karbon rendah, sertifikasi lingkungan, serta digitalisasi dokumen perdagangan. Di sisi lain, negara-negara pesaing seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan India terus mempercepat modernisasi pelabuhan, meningkatkan efisiensi logistik, dan mengintegrasikan transportasi multimoda sehingga mampu menawarkan biaya distribusi yang lebih kompetitif.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan gangguan jalur pelayaran internasional juga memberikan tekanan terhadap perdagangan dunia. Peningkatan tarif angkutan laut, premi asuransi, dan waktu pengiriman membuat efisiensi rantai pasok menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing ekspor suatu negara.

Karena itu, IARSI menilai reformasi logistik harus menjadi agenda strategis nasional. Implementasi National Logistics Ecosystem (NLE) perlu dipercepat dan diperluas hingga seluruh simpul logistik nasional. Penguatan konektivitas pelabuhan, kawasan industri, pergudangan, bandara kargo, jaringan kereta barang, serta jalan tol logistik harus dilakukan secara terpadu agar biaya distribusi dapat ditekan dan arus barang menjadi lebih efisien.

Selain pembangunan infrastruktur, IARSI juga mendorong percepatan transformasi digital pada sektor logistik melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), analisis data, dan sistem pelacakan barang secara real time. Menurut IARSI, digitalisasi akan meningkatkan transparansi, mempercepat pengambilan keputusan, dan memperkuat keandalan rantai pasok nasional.

"IARSI memandang reformasi logistik bukan sekadar upaya menurunkan biaya distribusi, tetapi merupakan investasi strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Semakin efisien sistem rantai pasok nasional, semakin besar peluang Indonesia memperluas pasar ekspor dan menjadi pusat perdagangan kawasan," kata Beniadi.

Untuk memperkuat daya saing ekspor nasional, IARSI merekomendasikan percepatan integrasi National Logistics Ecosystem (NLE), penguatan konektivitas pelabuhan dengan kawasan industri dan pusat logistik, pembangunan fasilitas cold chain di sentra produksi, penyederhanaan proses kepabeanan dan perizinan ekspor, serta peningkatan layanan kargo laut, udara, dan kereta barang. Langkah tersebut diyakini akan menekan biaya logistik, meningkatkan efisiensi distribusi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

"IARSI optimistis Indonesia mampu memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam perdagangan global apabila reformasi logistik dan transformasi rantai pasok dilakukan secara konsisten. Dengan sistem supply chain yang tangguh, efisien, digital, dan terintegrasi, Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan mempercepat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045," tutup Beniadi.


post: iarsi.org