JAKARTA — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai memasuki ekosistem layanan kesehatan di Indonesia. Teknologi tersebut tidak hanya berpotensi digunakan untuk membantu proses diagnosis dan pelayanan pasien, tetapi juga membuka peluang besar untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan obat, alat kesehatan, persediaan, hingga distribusi kebutuhan medis.
Perkembangan menuju rumah sakit pintar (smart hospital) menunjukkan bahwa transformasi digital sektor kesehatan tidak dapat berhenti pada digitalisasi pelayanan di dalam rumah sakit. Menurut Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), perubahan tersebut harus diikuti dengan transformasi menyeluruh pada rantai pasok kesehatan dari hulu hingga hilir.
Ketua IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai AI dapat menjadi instrumen penting untuk membuat rantai pasok kesehatan lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan.
“AI jangan hanya dipandang sebagai teknologi untuk membantu dokter atau mempercepat pelayanan pasien. Dalam perspektif rantai pasok, AI dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan obat dan alat kesehatan, mengoptimalkan persediaan, mengurangi risiko kekurangan stok, sekaligus memperbaiki perencanaan distribusi,” ujar Beniadi.
Menurut IARSI, salah satu persoalan penting dalam rantai pasok kesehatan adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan. Rumah sakit harus memastikan obat, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, serta berbagai kebutuhan kritis tersedia ketika diperlukan, tetapi pada saat yang sama tidak boleh terjadi penumpukan persediaan yang meningkatkan biaya dan risiko kedaluwarsa.
Pemanfaatan AI dapat membantu rumah sakit melakukan demand forecasting dengan memanfaatkan data historis pasien, pola penyakit, musim, tingkat penggunaan obat, hingga tren kebutuhan layanan. Dengan sistem tersebut, pengadaan dapat dilakukan lebih presisi dan tidak semata-mata berdasarkan perkiraan manual.
“Kalau data pelayanan kesehatan dapat terhubung dengan sistem pengadaan dan distribusi, kita bisa bergerak dari pola reaktif menjadi prediktif. Rumah sakit tidak lagi menunggu stok menipis baru melakukan pemesanan, tetapi dapat memperkirakan kebutuhan jauh sebelumnya,” katanya.
Bukan Sekadar Digitalisasi Rumah Sakit
IARSI mengingatkan bahwa transformasi AI di rumah sakit harus dilihat sebagai bagian dari perubahan ekosistem yang lebih luas. Rumah sakit merupakan salah satu titik dalam rantai pasok kesehatan yang terhubung dengan produsen obat, industri alat kesehatan, distributor, gudang, perusahaan logistik, laboratorium, hingga fasilitas kesehatan di daerah.
Karena itu, penggunaan AI secara terisolasi di masing-masing rumah sakit dinilai belum cukup untuk menghasilkan efisiensi nasional.
“Jangan sampai rumah sakit sudah menggunakan AI, tetapi pemasoknya masih bekerja dengan data yang terpisah, distributor tidak memiliki visibilitas persediaan, dan sistem logistik belum terintegrasi. Teknologinya maju, tetapi rantai pasoknya tetap berjalan secara konvensional,” ujar Beniadi.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan ekosistem data rantai pasok kesehatan yang mampu menghubungkan kebutuhan dengan kapasitas produksi dan distribusi. Integrasi tersebut penting terutama untuk komoditas kesehatan yang bersifat kritis dan memiliki konsekuensi besar apabila terjadi keterlambatan.
Cold Chain Menjadi Titik Kritis
Transformasi rantai pasok kesehatan juga harus mencakup penguatan cold chain. Sejumlah obat, vaksin, produk biologis, dan bahan medis tertentu membutuhkan pengendalian suhu sejak dari produsen hingga fasilitas kesehatan.
AI dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi pengiriman secara real time, memprediksi potensi gangguan suhu, menentukan rute distribusi yang lebih efisien, serta memberikan peringatan sebelum produk mengalami kerusakan.
“Cold chain tidak boleh hanya dilihat sebagai urusan kendaraan berpendingin. Ini adalah sistem yang harus memiliki visibilitas dari gudang, transportasi sampai titik pelayanan. AI bisa membantu memberikan peringatan dini ketika terjadi penyimpangan suhu atau keterlambatan distribusi,” jelasnya.
IARSI menilai kebutuhan tersebut semakin penting karena Indonesia memiliki karakter geografis kepulauan dengan tingkat akses kesehatan yang berbeda-beda. Distribusi obat dan alat kesehatan ke wilayah terpencil membutuhkan sistem yang mampu memperhitungkan jarak, waktu tempuh, kondisi transportasi, kapasitas penyimpanan, serta risiko gangguan distribusi.
AI Harus Memperkuat Industri Kesehatan Dalam Negeri
Selain meningkatkan efisiensi pelayanan, IARSI melihat transformasi AI sebagai peluang untuk memperkuat industri kesehatan nasional. Data kebutuhan yang lebih akurat dapat membantu produsen dalam negeri menentukan kapasitas produksi dan jenis produk yang harus dikembangkan.
Dengan demikian, digitalisasi rumah sakit dapat menciptakan hubungan yang lebih erat antara demand dan supply dalam industri kesehatan.
“Kalau data kebutuhan nasional dapat dibaca dengan baik, industri dalam negeri mempunyai dasar yang lebih kuat untuk meningkatkan produksi. Ini penting agar transformasi digital tidak hanya membuat pelayanan lebih cepat, tetapi juga memperkuat kemandirian industri kesehatan Indonesia,” kata Beniadi.
IARSI juga mendorong pemerintah memperkuat standardisasi data, interoperabilitas sistem, keamanan informasi, serta tata kelola penggunaan AI. Tanpa standar yang sama, data dari berbagai rumah sakit dan pelaku rantai pasok akan sulit digunakan secara optimal.
Menurut IARSI, pemerintah perlu memastikan bahwa transformasi digital tidak menciptakan ekosistem yang terfragmentasi. Sistem rumah sakit, distributor, produsen, fasilitas kesehatan daerah, dan penyedia jasa logistik harus dapat berkomunikasi melalui standar data yang kompatibel.
Dari Rumah Sakit Pintar Menuju Rantai Pasok Pintar
IARSI menegaskan bahwa keberhasilan penerapan AI di sektor kesehatan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan oleh sebuah rumah sakit. Indikator yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut mampu meningkatkan ketersediaan layanan, menurunkan pemborosan, mempercepat distribusi, dan memperkuat ketahanan pasokan kesehatan secara keseluruhan.
“Target akhirnya bukan sekadar smart hospital, tetapi smart healthcare supply chain. Rumah sakit pintar harus terhubung dengan pemasok pintar, gudang pintar, sistem distribusi pintar, dan pengambilan keputusan berbasis data,” tegas Beniadi.
IARSI berharap momentum masuknya AI ke sektor kesehatan dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk membangun rantai pasok kesehatan yang lebih transparan, prediktif, efisien, dan tahan terhadap gangguan.
Dengan transformasi tersebut, teknologi AI tidak hanya menjadi alat untuk mempercepat pelayanan pasien, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan kesehatan nasional sekaligus membangun industri kesehatan Indonesia yang lebih mandiri dan kompetitif.
post: iarsi.otg
