BEKASI — Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18–19 Agustus 2026. BI juga mempertahankan Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

Keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa stabilitas makroekonomi masih menjadi perhatian utama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bagi dunia usaha, kondisi suku bunga yang masih relatif tinggi membuat efisiensi operasional menjadi semakin penting agar biaya produksi dan distribusi tidak terus menekan margin serta daya saing.

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai salah satu ruang efisiensi yang harus segera dimaksimalkan adalah sektor logistik dan rantai pasok. Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan efisiensi rantai pasok harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi menjaga daya saing ekonomi nasional.

“Ketika ruang penurunan biaya pembiayaan terbatas, dunia usaha harus mendapatkan sumber efisiensi dari sisi operasional. Rantai pasok menjadi salah satu titik yang paling strategis karena menyangkut biaya transportasi, pergudangan, persediaan, distribusi, hingga waktu pengiriman,” ujar Beniadi.

Menurut IARSI, biaya logistik nasional masih menjadi beban penting bagi perekonomian. Data pemerintah menunjukkan biaya logistik Indonesia pada 2025 berada sekitar 14,29% terhadap PDB, turun dari 23,8% pada 2018. Namun, angka tersebut masih relatif tinggi dibandingkan sejumlah negara ASEAN yang umumnya berada di bawah 10%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi rantai pasok tidak hanya berkaitan dengan kepentingan perusahaan logistik. Dampaknya menjangkau industri manufaktur, perdagangan, investasi, hingga harga barang yang dibayar masyarakat.

IARSI menilai penahanan BI-Rate di 5,75% harus menjadi momentum bagi pemerintah dan dunia usaha untuk mempercepat reformasi logistik. Jika biaya distribusi dapat ditekan, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan harga, meningkatkan produktivitas, melakukan ekspansi, dan memperkuat daya saing produk Indonesia.

“Efisiensi rantai pasok harus menjadi sumber pertumbuhan baru. Jangan sampai kenaikan atau tingginya biaya pada satu simpul seperti pelabuhan, transportasi, gudang atau distribusi kemudian dibebankan seluruhnya kepada konsumen,” kata Beniadi.

Efisiensi Harus Dilakukan dari Hulu ke Hilir

IARSI menekankan bahwa pembenahan logistik tidak cukup dilakukan dengan membangun infrastruktur fisik. Pemerintah perlu memastikan konektivitas antara pelabuhan, jalan tol, kereta api barang, kawasan industri, pergudangan, pusat distribusi dan pasar benar-benar terintegrasi.

Sebelumnya, IARSI juga menilai pembangunan pelabuhan tanpa konektivitas hinterland, penambahan gudang tanpa dukungan transportasi yang efisien, serta digitalisasi yang tidak terhubung antarlembaga tidak akan menghasilkan efisiensi maksimal.

Karena itu, indikator keberhasilan reformasi logistik harus lebih konkret. Bukan hanya berapa kilometer jalan yang dibangun atau berapa banyak fasilitas logistik yang tersedia, tetapi juga berapa lama waktu pengiriman dapat dipangkas, berapa besar biaya distribusi turun, dan seberapa tinggi utilisasi infrastruktur meningkat.

IARSI juga mendorong percepatan digitalisasi rantai pasok melalui integrasi data, sistem pelacakan barang secara real time, otomatisasi proses administrasi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dan analisis data. Digitalisasi dinilai dapat mengurangi waktu tunggu, meningkatkan transparansi dan membantu perusahaan mengambil keputusan berdasarkan kondisi pasokan secara aktual.

Jangan Biarkan Suku Bunga Tinggi Menekan Industri

Di sisi lain, keputusan BI mempertahankan BI-Rate 5,75% perlu dibaca bersama dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank sentral sebelumnya menekankan bahwa kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dalam kondisi tersebut, IARSI menilai pemerintah perlu memastikan kebijakan pertumbuhan ekonomi berjalan melalui peningkatan produktivitas sektor riil.

Salah satu caranya adalah memastikan investasi infrastruktur menghasilkan penurunan biaya logistik yang nyata. Pembangunan jalan, pelabuhan, kawasan industri maupun pusat logistik harus diposisikan sebagai satu jaringan, bukan proyek yang berdiri sendiri.

“Investasi infrastruktur harus menghasilkan efisiensi yang bisa dirasakan industri. Kalau pelabuhan semakin besar tetapi barang masih menghadapi kemacetan di hinterland, manfaat ekonominya tidak akan maksimal,” ujar Beniadi.

IARSI juga menilai efisiensi rantai pasok akan semakin penting dalam menghadapi persaingan perdagangan global. Produk Indonesia tidak hanya bersaing berdasarkan kualitas dan harga di tingkat pabrik, tetapi juga berdasarkan kemampuan mengirim produk secara cepat, murah dan konsisten ke pasar.

IARSI Dorong Pemerintah Tetapkan Target Efisiensi

Untuk itu, IARSI mendorong pemerintah menetapkan target efisiensi rantai pasok yang terukur dan dievaluasi secara berkala. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain biaya logistik terhadap PDB, waktu tempuh barang, biaya bongkar muat, utilisasi armada, waktu tunggu di pelabuhan, efisiensi pergudangan, serta tingkat integrasi data antar-simpul logistik.

IARSI sebelumnya telah menegaskan bahwa penurunan biaya logistik merupakan fondasi penting untuk meningkatkan produktivitas industri, memperkuat perdagangan, menarik investasi dan menjaga daya saing produk nasional.

Dengan BI-Rate yang kini bertahan di 5,75%, IARSI melihat agenda efisiensi tersebut tidak boleh ditunda. Stabilitas moneter perlu berjalan beriringan dengan reformasi struktural agar dunia usaha memperoleh ruang yang lebih besar untuk tumbuh.

“Indonesia membutuhkan kombinasi antara stabilitas ekonomi makro dan efisiensi ekonomi mikro. Stabilitas rupiah dan inflasi penting, tetapi biaya logistik yang tinggi juga harus segera diselesaikan. Keduanya harus berjalan bersama agar daya saing ekonomi nasional semakin kuat,” tutup Beniadi.


post: iarsi.org