Ilustrasi fasilitas produksi semikonduktor berteknologi tinggi. Pengembangan industri teknologi tinggi Indonesia membutuhkan ekosistem dan rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari bahan baku, komponen, manufaktur, SDM hingga distribusi.BEKASI — Ambisi Indonesia memperluas hilirisasi ke sektor teknologi tinggi, termasuk semikonduktor dan manufaktur berbasis teknologi, menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Persoalannya bukan semata-mata mendatangkan investasi, tetapi memastikan seluruh ekosistem industri dari hulu hingga hilir mampu menopang produksi berteknologi tinggi secara berkelanjutan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai rencana pemerintah memperluas hilirisasi ke semikonduktor dan manufaktur berteknologi tinggi masih menghadapi persoalan kesiapan ekosistem industri. Pemerintah dinilai perlu membangun ekosistem yang mampu mendukung investasi teknologi tinggi.
Menanggapi kondisi tersebut, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai pengembangan industri teknologi tinggi tidak boleh berhenti pada pembangunan fasilitas produksi atau pemberian insentif investasi. Pemerintah perlu memastikan rantai pasok nasional dibangun secara terintegrasi, mulai dari ketersediaan bahan baku, komponen, pemasok lokal, kawasan industri, energi, pergudangan, transportasi hingga akses pelabuhan dan pasar.
Ketua IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai tantangan terbesar hilirisasi teknologi tinggi adalah bagaimana menciptakan ekosistem yang membuat investasi memiliki keterkaitan kuat dengan industri domestik. Jika bahan baku dan komponen utama masih bergantung pada impor, nilai tambah yang tercipta di dalam negeri akan sulit dimaksimalkan.
“Hilirasasi teknologi tinggi harus dilihat sebagai pembangunan ekosistem, bukan sekadar pembangunan pabrik. Rantai pasoknya harus disiapkan sejak hulu agar industri di hilir memiliki pemasok, bahan baku, teknologi, SDM dan infrastruktur yang memadai,” demikian perspektif IARSI.
Semikonduktor Jadi Ujian Kesiapan Ekosistem
Semikonduktor menjadi salah satu contoh paling jelas. Pemerintah telah menempatkan industri ini sebagai sektor strategis dan menyiapkan pengembangan ekosistem dari material, desain, fabrikasi hingga assembly, testing and packaging.
Kementerian Perindustrian menyebut pengembangan semikonduktor nasional mencakup empat pilar utama tersebut, yang ditopang oleh pengembangan SDM, riset dan inovasi, infrastruktur serta kebijakan industri. Kebutuhan untuk memperkuat ekosistem menjadi semakin penting karena nilai impor semikonduktor Indonesia meningkat dari sekitar US$2,33 miliar pada 2020 menjadi US$4,87 miliar pada Januari–November 2025.
Pemerintah juga telah mendorong strategi jangka panjang. Bappenas menekankan bahwa Indonesia membutuhkan grand strategy pengembangan semikonduktor agar dapat benar-benar masuk dan terintegrasi dalam rantai nilai global, bukan sekadar menjadi pasar. Strategi tersebut harus mencakup desain, pengembangan produk hingga kemampuan operasional industri.
Menurut IARSI, kondisi tersebut menunjukkan bahwa agenda hilirisasi harus diikuti dengan pemetaan rantai pasok nasional. Pemerintah perlu mengetahui bagian mana yang sudah mampu diproduksi di dalam negeri, komponen apa yang masih sepenuhnya bergantung pada impor, serta sektor mana yang memiliki peluang paling besar untuk diisi oleh industri nasional.
Jangan Sampai Indonesia Hanya Menjadi Lokasi Perakitan
Tantangan lain adalah memastikan investasi teknologi tinggi tidak membuat Indonesia hanya menjadi lokasi perakitan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sebelumnya mengingatkan Indonesia tidak boleh terlambat masuk ke rantai pasok global AI. Menurut pemerintah, persaingan teknologi saat ini berkaitan erat dengan penguasaan semikonduktor, pusat data dan mineral kritis. Indonesia memiliki sumber daya seperti nikel dan mineral strategis lain, tetapi tantangannya adalah mengolahnya menjadi produk antara yang dapat masuk ke rantai pasok teknologi global.
Karena itu, IARSI mendorong agar kebijakan hilirisasi memiliki target yang lebih konkret: berapa besar kandungan lokal yang dapat dicapai, berapa banyak pemasok domestik yang masuk ke rantai industri, serta seberapa besar ketergantungan impor dapat dikurangi.
“Ukuran keberhasilan hilirisasi bukan hanya nilai investasi yang masuk. Yang lebih penting adalah seberapa jauh investasi tersebut menciptakan jaringan pemasok domestik dan meningkatkan kemampuan Indonesia menguasai rantai nilai,” menjadi penekanan IARSI.
Infrastruktur Logistik Harus Mengikuti
IARSI juga melihat penguatan industri teknologi tinggi membutuhkan kesiapan logistik yang berbeda dibandingkan komoditas mentah. Produk teknologi membutuhkan ketepatan waktu, keamanan pengiriman, pengendalian persediaan, fasilitas pergudangan khusus dan konektivitas yang konsisten.
Artinya, kawasan industri yang menjadi lokasi investasi teknologi tinggi harus terhubung langsung dengan pelabuhan, bandara kargo, jalan tol, pusat distribusi dan jaringan pemasok.
Jika industri semikonduktor dan manufaktur teknologi tinggi berkembang tetapi biaya serta waktu pengiriman komponen masih tinggi, daya saing Indonesia akan tertekan dibandingkan negara lain yang sudah memiliki ekosistem manufaktur matang.
Pemerintah sendiri telah menegaskan bahwa arah hilirisasi harus menciptakan industri nasional yang produktif, memperkuat penguasaan teknologi, meningkatkan kualitas tenaga kerja dan membangun ekosistem industri yang berkelanjutan.
Momentum Membangun Rantai Nilai Baru
Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar. Pada Februari 2026, pemerintah mengumumkan kesepakatan pengembangan ekosistem semikonduktor dengan Amerika Serikat. Tahap pertama memiliki nilai sekitar US$4,89 miliar, dengan potensi tambahan investasi hingga US$26,7 miliar. Pemerintah menyebut kerja sama tersebut sebagai bagian dari upaya menempatkan Indonesia dalam rantai nilai semikonduktor global.
IARSI menilai momentum investasi tersebut harus dimanfaatkan untuk membangun rantai pasok domestik secara bertahap.
Bukan hanya perusahaan besar yang harus dilibatkan. Industri komponen, perusahaan logistik, pergudangan, penyedia teknologi, perusahaan kemasan, jasa pengujian, perguruan tinggi, pusat riset hingga UMKM industri perlu diarahkan masuk ke dalam ekosistem.
Dengan demikian, hilirisasi teknologi tinggi tidak berhenti sebagai proyek investasi, tetapi berkembang menjadi rantai nilai industri nasional.
Bagi IARSI, inilah tantangan berikutnya setelah pemerintah berhasil menarik investasi: memastikan setiap investasi baru menciptakan keterhubungan ekonomi yang semakin dalam di dalam negeri.
Jika Indonesia mampu membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir, hilirisasi teknologi tinggi tidak hanya akan menghasilkan produk bernilai tambah, tetapi juga memperkuat ketahanan industri, mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
post: iarsi.org