BEKASI — Indonesia menghadapi peluang besar untuk naik kelas dalam peta rantai pasok global. Di tengah perubahan strategi manufaktur dunia, diversifikasi sumber pasokan, serta meningkatnya kebutuhan industri terhadap lokasi produksi baru, Indonesia dinilai tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan baku dan pasar konsumsi. Indonesia harus mampu berkembang menjadi hub industri dan manufaktur bernilai tambah yang menghubungkan sumber daya, produksi, teknologi, logistik, hingga pasar global.
Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai perubahan lanskap industri global harus menjadi momentum untuk mengubah posisi Indonesia dalam rantai nilai dunia. Menurut IARSI, keunggulan Indonesia tidak boleh berhenti pada besarnya sumber daya alam, jumlah penduduk, maupun pasar domestik. Keunggulan tersebut harus diterjemahkan menjadi kemampuan memproduksi barang antara, komponen, produk jadi, teknologi, dan jasa industri yang dibutuhkan jaringan produksi global.
Ketua IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai ukuran keberhasilan Indonesia bukan semata-mata berapa besar investasi asing yang masuk atau berapa banyak komoditas yang diekspor. Hal yang jauh lebih penting adalah seberapa besar aktivitas produksi tersebut menciptakan keterkaitan dengan industri domestik dan memperkuat ekosistem rantai pasok nasional.
“Indonesia harus bergerak dari sekadar pemasok menjadi bagian penting dari proses produksi global. Investasi yang masuk harus menciptakan ekosistem industri, memperkuat pemasok lokal, membuka transfer teknologi, meningkatkan kompetensi SDM, serta membangun jaringan logistik yang terintegrasi,” ujar Beniadi dalam pandangan IARSI.
Dari Komoditas Menuju Rantai Nilai
Arah tersebut sebenarnya mulai terlihat dalam kebijakan industrialisasi Indonesia. Pemerintah tengah mendorong penguatan industri bernilai tambah tinggi dan memperluas keterlibatan Indonesia dalam rantai nilai global.
Salah satu contoh paling strategis adalah pengembangan ekosistem semikonduktor. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat adanya Joint Development Agreement pengembangan ekosistem semikonduktor dengan nilai tahap pertama US$4,89 miliar, dengan potensi tambahan investasi hingga US$26,7 miliar. Pemerintah menyebut kerja sama tersebut sebagai bagian dari reposisi Indonesia dalam arsitektur industri global dan upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai semikonduktor dunia.
Langkah tersebut penting karena semikonduktor merupakan salah satu komponen strategis bagi industri kendaraan listrik, elektronik, otomasi, telekomunikasi, kecerdasan buatan, hingga berbagai produk teknologi tinggi.
Kementerian Perindustrian sebelumnya juga mencatat nilai impor semikonduktor Indonesia meningkat dari US$2,33 miliar pada 2020 menjadi US$4,87 miliar pada Januari-November 2025. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan industri nasional sekaligus memperlihatkan ruang yang masih terbuka untuk membangun kapasitas produksi dan ekosistem semikonduktor domestik.
Bagi IARSI, pengembangan industri seperti semikonduktor harus dilihat bukan sebagai proyek manufaktur yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari ekosistem rantai pasok yang lebih luas.
Artinya, Indonesia perlu membangun jaringan pemasok bahan baku, produsen komponen, perusahaan engineering, pusat riset, perguruan tinggi, perusahaan logistik, pelabuhan, kawasan industri, hingga penyedia jasa teknologi yang saling terhubung.
Investasi Harus Menghasilkan Efek Rantai Pasok
IARSI menilai tantangan berikutnya adalah memastikan investasi industri memberikan multiplier effect terhadap perekonomian domestik.
Masuknya perusahaan global ke Indonesia seharusnya tidak hanya menghasilkan fasilitas produksi yang mengimpor sebagian besar bahan baku dan komponen, kemudian mengekspor produk akhirnya. Pola seperti itu memang meningkatkan aktivitas perdagangan, tetapi belum tentu memperdalam struktur industri nasional secara optimal.
“Yang harus dikejar adalah domestic supply chain participation. Semakin banyak perusahaan lokal masuk sebagai pemasok komponen, bahan baku, jasa engineering, teknologi, pergudangan dan logistik, semakin besar nilai ekonomi yang tinggal di Indonesia,” kata Beniadi.
Menurut IARSI, pemerintah perlu menetapkan indikator yang lebih jelas dalam mengukur keberhasilan investasi. Tidak cukup hanya menghitung nilai investasi dan jumlah tenaga kerja. Pemerintah juga perlu melihat tingkat kandungan lokal, jumlah pemasok domestik yang terlibat, transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, nilai tambah domestik, serta kontribusi investasi terhadap ekspor bernilai tinggi.
Dengan pendekatan tersebut, kawasan industri tidak lagi hanya menjadi tempat berdirinya pabrik, tetapi berkembang menjadi pusat ekosistem industri dan rantai pasok.
Logistik Menjadi Penentu
Ambisi menjadikan Indonesia sebagai hub industri global juga tidak akan berhasil tanpa pembenahan logistik.
IARSI menilai konektivitas antara kawasan industri, pelabuhan, jalan tol, kereta api, bandara kargo, pusat distribusi dan pergudangan harus dirancang sebagai satu kesatuan.
Kawasan industri yang memiliki pelabuhan sendiri, misalnya, memiliki keunggulan karena dapat memangkas perpindahan barang dan meningkatkan efisiensi arus ekspor-impor. Konsep kawasan industri dan pelabuhan terpadu seperti JIIPE di Jawa Timur menunjukkan bagaimana integrasi kawasan industri dengan infrastruktur pelabuhan dapat mendukung konektivitas logistik dan efisiensi rantai pasok.
Menurut IARSI, pendekatan serupa perlu diperluas ke berbagai pusat pertumbuhan baru di Indonesia.
Pasalnya, perusahaan global ketika memilih lokasi produksi tidak hanya mempertimbangkan upah tenaga kerja atau ketersediaan bahan baku. Mereka juga menghitung kecepatan pengiriman, keandalan pelabuhan, biaya transportasi, waktu tunggu, ketersediaan gudang, kepastian pasokan energi, kualitas infrastruktur digital, dan kemampuan pemasok lokal.
Karena itu, Indonesia perlu mengubah cara pandang terhadap logistik. Logistik bukan sekadar sektor pendukung industri, tetapi merupakan infrastruktur daya saing industri nasional.
Peluang dari Pergeseran Rantai Pasok Global
Peluang Indonesia semakin besar karena rantai pasok global sedang mengalami perubahan.
Ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, gangguan jalur pelayaran dan strategi diversifikasi produksi membuat perusahaan multinasional semakin mempertimbangkan lokasi produksi alternatif.
Data terbaru juga menunjukkan rantai pasok global masih menghadapi berbagai tekanan. Pada Juli 2026, impor kontainer Amerika Serikat mencapai sekitar 2,5 juta TEU, salah satu level tertinggi untuk bulan Juli, sementara perusahaan terus melakukan penyesuaian terhadap kebijakan tarif dan risiko jalur perdagangan global.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan global semakin membutuhkan rantai pasok yang fleksibel dan memiliki alternatif lokasi produksi.
IARSI melihat Indonesia memiliki modal untuk mengambil peluang tersebut, tetapi persaingan tidak hanya datang dari negara-negara maju. Negara ASEAN lainnya juga terus memperbaiki iklim investasi, infrastruktur dan ekosistem manufaktur untuk menarik relokasi maupun ekspansi perusahaan global.
Karena itu, Indonesia harus bergerak lebih cepat.
Jangan Berhenti pada Hilirisasi
IARSI juga mengingatkan agar agenda hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan smelter atau pengolahan bahan mentah.
Hilirisasi tahap berikutnya harus diarahkan menuju manufacturing deepening, yakni memperdalam struktur industri hingga menghasilkan produk antara, komponen dan produk teknologi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Kementerian Perindustrian sendiri telah mendorong penguatan kerja sama industri internasional, termasuk melalui partisipasi Indonesia pada INNOPROM 2026. Pemerintah menempatkan kerja sama teknologi, investasi, pengembangan rantai pasok hilirisasi, serta kolaborasi manufaktur sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai manufaktur global.
Langkah tersebut perlu dilanjutkan dengan memperkuat industri domestik agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan global.
“Indonesia jangan puas menjadi negara tempat produksi. Target yang lebih tinggi adalah menjadi negara yang mengendalikan sebagian rantai nilai—mulai dari desain, bahan baku, komponen, manufaktur, distribusi sampai layanan purnajual,” ujar Beniadi.
Tiga Agenda Strategis IARSI
Untuk mendorong Indonesia menjadi hub industri, IARSI menilai setidaknya terdapat tiga agenda yang harus dipercepat.
Pertama, membangun integrasi kawasan industri dan logistik. Pemerintah perlu memastikan kawasan industri baru memiliki akses langsung dan efisien menuju pelabuhan, jalan tol, kereta barang, pergudangan dan pusat distribusi.
Kedua, memperkuat pemasok domestik. Industri kecil dan menengah harus diberikan akses terhadap pembiayaan, teknologi, sertifikasi, standardisasi dan informasi agar mampu masuk menjadi pemasok perusahaan besar dan multinational corporation.
Ketiga, membangun ekosistem industri berbasis teknologi. Investasi harus diarahkan bukan hanya kepada kegiatan produksi, tetapi juga penelitian dan pengembangan, desain produk, engineering, otomatisasi, digitalisasi dan pengembangan SDM.
Kebutuhan SDM menjadi faktor penting karena posisi Indonesia dalam rantai nilai global tidak mungkin naik apabila industri nasional kekurangan tenaga kerja dengan kompetensi teknologi tinggi. Pemerintah sendiri telah mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja industri melalui berbagai kerja sama internasional dan program vokasi.
Dari “Made in Indonesia” Menjadi “Engineered in Indonesia”
Pada akhirnya, IARSI melihat target Indonesia bukan sekadar memperbanyak produk dengan label “Made in Indonesia”, tetapi meningkatkan kemampuan menjadi negara yang mampu merancang, mengembangkan, memproduksi dan mengendalikan jaringan rantai pasok produk tersebut.
Perubahan itu akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi salah satu lokasi produksi dalam jaringan perusahaan global atau benar-benar menjadi hub industri strategis di kawasan Asia.
Indonesia memiliki sumber daya alam, pasar domestik besar, posisi geografis strategis dan basis manufaktur yang terus berkembang. Namun seluruh keunggulan tersebut hanya akan menghasilkan daya saing apabila dihubungkan melalui rantai pasok yang efisien, terintegrasi dan berorientasi pada nilai tambah.
Karena itu, menurut IARSI, momentum perubahan rantai pasok global harus dimanfaatkan sekarang.
Indonesia tidak boleh hanya menunggu perusahaan global memindahkan produksinya. Indonesia harus membangun ekosistem yang membuat perusahaan global membutuhkan Indonesia sebagai bagian penting dari rantai produksi mereka.
Dengan demikian, ambisi menjadi hub industri bukan sekadar slogan investasi, melainkan strategi untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat industri nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperbesar ekspor manufaktur dan pada akhirnya meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
post: iarsi.org
