
Menteri Perdagangan Budi Santoso (kanan) melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pembangunan, Industri, Perdagangan, dan Jasa Republik Federasi Brasil, Márcio Fernando Elias Rosa di sela Pertemuan Tingkat Menteri Perdagangan BRICS, Jaipur, India, Jumat (7/8/2026)
BEKASI — Langkah Indonesia menjajaki pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA) Indonesia–Mercosur dinilai membuka peluang baru bagi ekspor nasional untuk menembus pasar Amerika Latin. Namun, perluasan akses perdagangan tersebut harus diikuti dengan pembangunan jalur rantai pasok baru agar manfaat perjanjian dagang tidak berhenti pada penurunan tarif, tetapi benar-benar meningkatkan volume, kecepatan, dan daya saing ekspor Indonesia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan Indonesia dan Brasil sedang mempertimbangkan PTA Indonesia–Mercosur sebagai langkah awal yang pragmatis untuk memperkuat hubungan perdagangan. Pembahasan itu dilakukan dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pembangunan, Industri, Perdagangan, dan Jasa Brasil Márcio Fernando Elias Rosa di Jaipur, India, pada 7 Agustus 2026. Pemerintah Indonesia berharap Brasil dapat membantu membangun konsensus di antara negara-negara anggota Mercosur sekaligus mendorong kemajuan proses negosiasi.
Mercosur merupakan blok perdagangan Amerika Selatan yang mencakup Brasil, Argentina, Paraguay, Uruguay, dan Bolivia. Bagi Indonesia, kerja sama tersebut dapat menjadi pintu masuk yang lebih luas ke pasar Amerika Latin sekaligus membuka peluang bagi produk-produk Indonesia untuk masuk ke rantai pasok regional yang selama ini belum tergarap secara optimal.
Data perdagangan menunjukkan peluang tersebut cukup besar. Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia–Brasil mencapai sekitar US$7 miliar, sedangkan ekspor Indonesia ke Brasil mencapai US$2,21 miliar. Produk ekspor Indonesia ke Brasil antara lain lemak dan minyak hewani maupun nabati, kendaraan dan komponennya, mesin listrik, produk karet, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, Brasil banyak memasok residu industri pangan, gula dan produk confectionery, kapas, tembakau, serta bijih logam kepada Indonesia.
Pada semester I 2026, perdagangan bilateral Indonesia–Brasil tercatat sekitar US$3,53 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar US$1,17 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan perdagangan kedua negara telah memiliki basis ekonomi yang cukup besar untuk dikembangkan lebih lanjut.
Di tengah perkembangan tersebut, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai PTA harus dipandang bukan semata sebagai instrumen pengurangan tarif, tetapi sebagai kesempatan membangun jalur rantai pasok baru Indonesia menuju Amerika Latin.
Menurut IARSI, ketika akses pasar diperluas, pemerintah dan dunia usaha perlu secara bersamaan memetakan rute logistik yang paling kompetitif, konsolidasi muatan, jaringan pelabuhan, layanan pelayaran, pergudangan, kepabeanan, hingga konektivitas dari kawasan industri menuju pelabuhan ekspor.
"Perjanjian dagang hanya membuka pintu. Yang menentukan apakah produk Indonesia benar-benar mampu masuk dan bertahan di pasar baru adalah biaya, waktu, kepastian dan keandalan rantai pasok," demikian perspektif IARSI yang relevan dengan langkah penjajakan PTA tersebut.
Bukan Sekadar Buka Pasar
Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia sedang berupaya meningkatkan ekspor di tengah perubahan pola perdagangan global. Data BPS menunjukkan ekspor Indonesia pada Januari–Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, naik 4,13 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, impor mencapai US$137,24 miliar, naik 18,69 persen, sehingga surplus perdagangan barang Indonesia mencapai sekitar US$3,57 miliar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi pasar ekspor tetap membutuhkan penguatan daya saing dari sisi domestik. Pertumbuhan ekspor tidak cukup hanya mengandalkan komoditas, tetapi perlu didukung kemampuan industri menghasilkan produk bernilai tambah dengan biaya logistik yang kompetitif.
Karena itu, PTA Indonesia–Mercosur seharusnya menjadi bagian dari strategi yang lebih besar untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor. Ketergantungan terhadap sejumlah pasar utama membuat ekspor Indonesia rentan terhadap perlambatan ekonomi, perubahan kebijakan perdagangan, hambatan tarif maupun non-tarif, serta gangguan geopolitik.
Langkah menuju Amerika Latin menjadi semakin relevan ketika negara-negara lain juga tengah mencari pasar dan jalur perdagangan alternatif. Kanada, misalnya, sedang mempercepat pembicaraan dengan Mercosur dan menargetkan penyelesaian kesepakatan perdagangan pada 2026 sebagai bagian dari strategi diversifikasi perdagangan.
Rantai Pasok Harus Disiapkan Sebelum Volume Ekspor Melonjak
Bagi IARSI, tantangan berikutnya adalah memastikan Indonesia tidak membuka pasar baru tanpa menyiapkan infrastruktur logistik yang memadai.
Jalur perdagangan Indonesia–Mercosur memiliki karakteristik geografis yang berbeda dengan perdagangan intra-Asia. Jarak yang jauh berarti biaya angkutan laut, kebutuhan konsolidasi kargo, waktu transit, biaya persediaan, dan risiko keterlambatan harus dihitung sejak awal.
Karena itu, pemerintah perlu melakukan pemetaan end-to-end supply chain untuk komoditas yang berpotensi memperoleh keuntungan terbesar dari PTA. Pemetaan tersebut harus mencakup sentra produksi, kawasan industri, pelabuhan asal, rute pelayaran, pelabuhan tujuan, pusat distribusi, hingga konsumen akhir di Amerika Latin.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat menghindari situasi ketika tarif perdagangan berhasil diturunkan tetapi biaya logistik justru menggerus keuntungan eksportir.
Pelabuhan dan Shipping Jadi Penentu
Pembukaan jalur perdagangan baru juga membutuhkan strategi konektivitas maritim. Indonesia perlu memastikan tersedianya layanan pelayaran yang efisien, baik melalui rute langsung maupun melalui hub transshipment yang memiliki frekuensi dan kapasitas memadai.
IARSI menilai pemerintah perlu mengidentifikasi pelabuhan nasional yang paling siap menjadi gateway ekspor menuju Amerika Latin, termasuk dari sisi kedalaman alur, produktivitas terminal, konektivitas hinterland, fasilitas penyimpanan, layanan kepabeanan dan integrasi sistem digital.
Dengan demikian, ekspor dari kawasan industri di Jawa, Sumatra, Kalimantan maupun kawasan timur Indonesia tidak harus menghadapi rantai perpindahan barang yang panjang dan mahal sebelum mencapai kapal utama.
Jangan Hanya Mengekspor Komoditas
Peluang PTA juga seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong perubahan struktur ekspor Indonesia.
Produk seperti minyak nabati, karet, kendaraan dan komponennya serta produk manufaktur dapat menjadi pintu masuk. Namun dalam jangka panjang, Indonesia perlu mendorong produk dengan nilai tambah lebih tinggi agar kerja sama perdagangan tidak hanya memperbesar volume komoditas primer.
Di sisi lain, impor dari Brasil dan negara Mercosur juga harus ditempatkan dalam kerangka penguatan industri domestik. Bahan baku dan produk antara yang kompetitif dapat digunakan untuk mendukung industri Indonesia, selama memiliki dampak positif terhadap produktivitas dan daya saing sektor manufaktur.
Dengan kata lain, PTA harus dirancang sebagai jalan dua arah: membuka pasar ekspor Indonesia sekaligus memastikan impor strategis dapat memperkuat kapasitas produksi nasional.
Momentum Membangun Rantai Pasok Global Baru
Pembahasan PTA Indonesia–Mercosur berlangsung ketika peta perdagangan global sedang mengalami perubahan. Brasil sendiri merupakan kekuatan ekonomi utama di Amerika Latin dan menjadi anggota penting Mercosur. Pada saat yang sama, Mercosur telah memperluas hubungan dagangnya dengan berbagai mitra di luar kawasan.
Kesepakatan perdagangan EU–Mercosur juga mulai diterapkan secara provisional pada 1 Mei 2026, menunjukkan semakin kuatnya integrasi perdagangan Mercosur dengan pasar global.
Situasi tersebut membuat Indonesia perlu bergerak lebih cepat. Jika Indonesia hanya menunggu kesepakatan tarif selesai, sementara negara lain telah lebih dahulu membangun konektivitas perdagangan dengan Mercosur, peluang untuk mendapatkan posisi strategis dalam rantai pasok global dapat kembali terlewat.
Karena itu, IARSI mendorong agar proses PTA sejak awal dibarengi dengan roadmap rantai pasok Indonesia–Amerika Latin.
Roadmap tersebut setidaknya mencakup lima agenda utama: identifikasi komoditas unggulan, desain rute logistik kompetitif, penguatan konektivitas pelabuhan dan kawasan industri, digitalisasi dokumen serta kepabeanan, dan pembangunan jaringan logistik di negara tujuan.
Dengan strategi tersebut, PTA Indonesia–Mercosur tidak berhenti sebagai kesepakatan perdagangan, tetapi dapat menjadi instrumen untuk menciptakan koridor perdagangan dan rantai pasok baru yang memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Bagi IARSI, keberhasilan PTA pada akhirnya bukan diukur dari berapa banyak tarif yang berhasil diturunkan, melainkan dari seberapa besar kesepakatan tersebut mampu meningkatkan ekspor bernilai tambah, membuka pasar baru, memperluas jaringan industri, dan menurunkan biaya serta waktu logistik Indonesia menuju Amerika Latin.
post: iarsi.org