Ilustrasi by: iarsi.org - AI


Bekasi – Indonesia telah mencatat kemajuan besar dalam pembangunan infrastruktur selama satu dekade terakhir. Ribuan kilometer jalan tol, pelabuhan, bandara, jalur kereta api, bendungan, hingga kawasan industri telah dibangun untuk memperkuat konektivitas nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak lagi dapat diukur hanya dari banyaknya infrastruktur yang berdiri, melainkan dari seberapa efektif seluruh infrastruktur tersebut terhubung dalam satu ekosistem rantai pasok nasional yang terintegrasi.

Menurut IARSI, Indonesia kini memasuki fase baru pembangunan, yaitu mengubah investasi infrastruktur menjadi efisiensi ekonomi. Tanpa integrasi antara moda transportasi, kawasan industri, pusat logistik, sistem digital, dan regulasi, manfaat ekonomi dari pembangunan infrastruktur tidak akan optimal. Akibatnya, biaya distribusi tetap tinggi, waktu pengiriman belum efisien, dan daya saing industri nasional sulit meningkat.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menegaskan bahwa pemerintah perlu menggeser fokus pembangunan dari sekadar membangun aset fisik menuju membangun sistem logistik nasional yang saling terhubung.

"Indonesia telah memiliki banyak infrastruktur strategis. Namun, apabila jalan tol tidak terhubung secara efektif dengan kawasan industri, pelabuhan belum terkoneksi optimal dengan kereta api logistik, pusat distribusi belum didukung sistem digital yang terpadu, dan kebijakan antarsektor masih berjalan sendiri-sendiri, maka biaya logistik akan tetap tinggi. Infrastruktur adalah fondasi, tetapi integrasi adalah kunci keberhasilan rantai pasok nasional," ujar Beniadi.

Integrasi Menjadi Tantangan Besar

IARSI menilai bahwa ekosistem rantai pasok Indonesia belum terintegrasi secara optimal. Pembangunan fisik memang terus berjalan, namun koordinasi antarunsur rantai pasok masih memerlukan percepatan agar mampu menghasilkan efisiensi yang signifikan.

Setidaknya terdapat lima tantangan utama yang masih dihadapi Indonesia.

Pertama, konektivitas antarmoda belum merata. Integrasi antara pelabuhan, kereta api logistik, jalan tol, bandara kargo, kawasan industri, serta pusat distribusi masih belum terbangun secara menyeluruh. Di banyak wilayah, distribusi barang masih sangat bergantung pada angkutan jalan sehingga biaya transportasi menjadi lebih mahal dan waktu pengiriman kurang efisien.

Kedua, integrasi sistem data masih belum optimal. Pemerintah telah mengembangkan National Logistics Ecosystem (NLE) untuk mengintegrasikan layanan logistik nasional. Selain itu, sistem kepelabuhanan, kepabeanan, dan berbagai platform digital pelaku usaha juga terus berkembang. Namun interoperabilitas antarplatform masih menjadi tantangan sehingga masih ditemukan duplikasi dokumen, proses administrasi yang berulang, dan pertukaran data yang belum sepenuhnya otomatis.

Ketiga, masih terdapat kesenjangan infrastruktur antarwilayah. Pulau Jawa memiliki jaringan logistik yang relatif lebih lengkap dibandingkan kawasan timur Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan biaya distribusi antarwilayah masih cukup tinggi sehingga berdampak pada disparitas harga barang dan menurunkan efisiensi rantai pasok nasional.

Keempat, keterhubungan kawasan industri dengan infrastruktur logistik belum optimal. Tidak semua kawasan industri memiliki akses langsung menuju pelabuhan, terminal peti kemas, dry port, maupun jaringan kereta api barang. Akibatnya, proses distribusi memerlukan perpindahan moda yang lebih banyak sehingga meningkatkan biaya logistik dan memperpanjang waktu pengiriman.

Kelima, koordinasi kelembagaan masih menjadi tantangan. Kebijakan logistik melibatkan banyak kementerian, lembaga, pemerintah daerah, operator transportasi, serta pelaku usaha. Tanpa sinkronisasi kebijakan dan perencanaan yang terpadu, pembangunan logistik nasional berpotensi berjalan parsial dan kurang efisien.

Biaya Logistik Masih Relatif Tinggi

IARSI menilai bahwa tantangan tersebut tercermin pada biaya logistik Indonesia yang masih berada pada kisaran sekitar 14–15 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara dengan sistem logistik yang telah terintegrasi secara matang.

Meski demikian, IARSI mengapresiasi berbagai langkah pemerintah yang terus memperkuat fondasi logistik nasional. Pengembangan National Logistics Ecosystem (NLE) diarahkan untuk mengintegrasikan proses logistik, menyederhanakan layanan, memangkas waktu, dan menurunkan biaya distribusi. Di sisi lain, pembangunan jalan tol, pelabuhan modern, dry port, kawasan industri, serta penguatan jaringan kereta api logistik merupakan investasi strategis yang harus dioptimalkan melalui integrasi antarmoda dan digitalisasi.

Menurut IARSI, keberhasilan pembangunan logistik nasional tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan seluruh simpul logistik menjadi satu sistem yang efisien.

Indonesia Berpeluang Menjadi Hub Logistik ASEAN

Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat rantai pasok dan logistik ASEAN. Posisi geografis yang strategis, besarnya pasar domestik, pertumbuhan kawasan industri, serta kebijakan hilirisasi merupakan modal kuat untuk meningkatkan daya saing nasional.

Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah mempercepat integrasi ekosistem rantai pasok melalui penguatan konektivitas antarmoda, digitalisasi layanan logistik, harmonisasi regulasi, serta pengembangan pusat data logistik nasional.

"Ke depan, ukuran keberhasilan pembangunan bukan lagi hanya berapa kilometer jalan tol yang dibangun atau berapa banyak pelabuhan yang diresmikan. Yang lebih penting adalah seberapa besar infrastruktur tersebut mampu menurunkan biaya logistik, mempercepat arus barang, meningkatkan daya saing industri, memperluas ekspor, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Indonesia harus bergerak dari era pembangunan infrastruktur menuju era integrasi ekosistem rantai pasok nasional," tegas Beniadi.

IARSI berharap percepatan integrasi ekosistem rantai pasok menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam beberapa tahun ke depan. Dengan menghubungkan infrastruktur fisik, sistem digital, regulasi, serta tata kelola logistik dalam satu ekosistem yang terpadu, Indonesia diyakini mampu menurunkan biaya logistik, meningkatkan efisiensi distribusi, memperkuat daya saing industri nasional, dan mempercepat langkah menuju visi Indonesia Emas 2045.


post: iarsi.org