Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani mengatakan pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp2.322 triliun pada 2027.


BEKASI — Pemerintah menetapkan target investasi nasional 2027 sebesar Rp2.322 triliun, meningkat dibandingkan target investasi pada 2026. Kenaikan target tersebut menunjukkan semakin besarnya ekspektasi pemerintah terhadap investasi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Namun, peningkatan investasi tidak cukup hanya ditopang oleh kemudahan perizinan dan insentif fiskal. Kesiapan infrastruktur rantai pasok nasional menjadi faktor penting agar investasi yang masuk benar-benar menghasilkan peningkatan kapasitas produksi dan tidak terhambat oleh tingginya biaya distribusi.

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai target investasi tersebut harus diikuti dengan pembenahan menyeluruh terhadap ekosistem logistik nasional. Pertumbuhan investasi berarti bertambahnya kebutuhan terhadap bahan baku, komponen industri, transportasi, pergudangan, pelabuhan, distribusi, hingga konektivitas kawasan industri dengan pasar domestik dan ekspor.

Ketua IARSI Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT. mengatakan, pemerintah perlu memastikan pembangunan infrastruktur tidak berjalan sendiri-sendiri. Infrastruktur transportasi harus dirancang sebagai bagian dari satu jaringan rantai pasok yang menghubungkan sentra produksi, kawasan industri, pelabuhan, pusat distribusi, dan pasar.

“Target investasi yang semakin besar harus dibarengi dengan kesiapan rantai pasok. Jangan sampai investasi masuk, pabrik dibangun, tetapi biaya untuk mendatangkan bahan baku dan mengirim produk masih tinggi karena konektivitas logistik belum efisien.”

Menurut IARSI, persoalan yang perlu menjadi perhatian bukan semata-mata jumlah infrastruktur yang dibangun, tetapi seberapa efektif infrastruktur tersebut mengurangi waktu dan biaya perpindahan barang.

Kawasan industri, misalnya, harus memiliki koneksi yang efisien dengan jalan tol, pelabuhan, terminal peti kemas, kereta api barang, pusat pergudangan, dan jaringan distribusi. Tanpa integrasi tersebut, investor tetap menghadapi biaya logistik tinggi meskipun infrastruktur utama telah tersedia.

Target Rp2.322 triliun juga perlu dilihat dari perspektif multiplier effect. Investasi baru seharusnya tidak hanya menciptakan aset produksi, tetapi juga membangun ekosistem pemasok dan distribusi di sekitarnya.

Masuknya investasi ke sektor manufaktur, misalnya, akan meningkatkan kebutuhan terhadap bahan baku dan komponen. Hal ini menciptakan peluang bagi industri domestik untuk masuk ke dalam jaringan pemasok. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila konektivitas antardaerah dan sistem logistik mampu memberikan biaya yang kompetitif.

IARSI menilai pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan kawasan industri baru sejak awal sudah memiliki masterplan rantai pasok, bukan baru memikirkan logistik setelah aktivitas produksi berjalan.

Dengan pendekatan tersebut, investor dapat memperoleh kepastian mengenai akses bahan baku, ketersediaan pergudangan, transportasi multimoda, pelabuhan, serta jalur distribusi menuju konsumen.

“Rantai pasok harus menjadi bagian dari desain investasi sejak awal. Kalau logistik baru dipikirkan setelah pabrik berdiri, pemerintah dan pelaku usaha akan menghadapi biaya penyesuaian yang jauh lebih besar,” ujar Beniadi.

IARSI juga menyoroti pentingnya konektivitas hinterland pelabuhan. Peningkatan kapasitas pelabuhan harus diikuti kemampuan mengalirkan barang secara cepat menuju kawasan industri dan pusat konsumsi.

Pembangunan terminal peti kemas dengan kapasitas besar, misalnya, tidak otomatis meningkatkan daya saing apabila perjalanan dari pelabuhan menuju kawasan industri masih menghadapi kemacetan, keterbatasan akses, atau ketidakseimbangan arus barang.

Karena itu, kebijakan investasi 2027 perlu diselaraskan dengan pembangunan jaringan logistik multimoda.

Penggunaan jalan raya harus dapat dikombinasikan dengan kereta api barang, transportasi laut, dan fasilitas pergudangan. Integrasi tersebut penting untuk menekan biaya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu moda transportasi.

Menurut IARSI, pendekatan ini juga semakin penting apabila investasi 2027 diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki rantai pasok kompleks seperti manufaktur, otomotif, elektronik, energi, pangan, mineral, dan industri berbasis ekspor.

IARSI mengingatkan bahwa salah satu risiko dari ekspansi investasi tanpa kesiapan rantai pasok adalah munculnya bottleneck baru.

Ketika kapasitas produksi meningkat, kebutuhan terhadap transportasi dan pergudangan juga ikut naik. Apabila kapasitas logistik tidak bertambah secara proporsional, maka antrean di pelabuhan, keterlambatan distribusi, kekurangan ruang gudang, serta kenaikan ongkos angkut dapat kembali muncul.

Situasi tersebut pada akhirnya dapat mengurangi daya tarik Indonesia bagi investor.

“Investor tidak hanya menghitung harga tanah, tenaga kerja, listrik, atau insentif pajak. Mereka juga menghitung berapa biaya membawa bahan baku masuk dan berapa biaya mengirim produk ke pasar. Di sinilah efisiensi rantai pasok menjadi bagian dari daya saing investasi,” kata Beniadi.

Karena itu, IARSI mendorong pemerintah menjadikan biaya logistik, waktu tempuh, reliabilitas distribusi, dan tingkat konektivitas sebagai indikator keberhasilan pembangunan infrastruktur.

Menurut IARSI, target investasi 2027 justru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk bergerak dari sekadar lokasi produksi menuju hub industri dan rantai pasok regional.

Indonesia memiliki pasar domestik besar, sumber daya alam, serta posisi geografis strategis di kawasan ASEAN. Keunggulan tersebut perlu dikombinasikan dengan sistem logistik yang mampu menghubungkan kawasan produksi Indonesia dengan jaringan perdagangan internasional.

Pemerintah juga perlu mendorong agar investasi asing tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi turut membawa pengembangan pemasok lokal, transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri pendukung, dan integrasi dengan pelaku usaha nasional.

Dengan demikian, setiap investasi baru dapat menciptakan efek berantai yang lebih besar terhadap perekonomian.

IARSI menilai agenda investasi 2027 harus berjalan beriringan dengan agenda reformasi logistik nasional. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka realisasi investasi, tetapi juga harus memastikan investasi tersebut menghasilkan kapasitas produksi yang kompetitif dan terhubung dengan rantai pasok domestik maupun global.

“Ukuran keberhasilan investasi bukan hanya berapa banyak modal yang masuk, tetapi seberapa besar investasi tersebut mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat industri nasional, membuka pasar baru, dan menurunkan biaya rantai pasok,” tegas Beniadi.

Dengan target investasi Rp2.322 triliun, tantangan berikutnya adalah memastikan Indonesia memiliki infrastruktur dan ekosistem rantai pasok yang mampu menyerap ekspansi tersebut. Jika konektivitas industri, pelabuhan, transportasi, pergudangan, dan distribusi dapat terintegrasi, investasi berpeluang menjadi mesin pertumbuhan sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.


post: iarsi.org