Ilustrasi by: iarsi.org - AI


BEKASI — Ancaman kemarau terhadap produksi dan distribusi pangan kembali menempatkan sistem logistik nasional sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia. Di tengah puncak musim kemarau 2026, gangguan produksi di daerah tertentu berpotensi merembet menjadi persoalan distribusi, kenaikan biaya angkut, penurunan kualitas komoditas, hingga tekanan harga di tingkat konsumen.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Sebanyak 429 Zona Musim atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia diproyeksikan memasuki puncak kemarau pada bulan tersebut. BMKG juga memperkirakan 451 Zona Musim atau 64,5 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan musim kemarau di bawah normal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dampak iklim terhadap pangan tidak berhenti di lahan pertanian. Ketika produksi hortikultura terganggu, persoalan berikutnya adalah bagaimana komoditas yang tersedia dapat dipindahkan dari daerah surplus menuju wilayah yang mengalami kekurangan dengan biaya dan tingkat kerusakan seminimal mungkin.

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai Indonesia perlu mengubah cara pandang terhadap ketahanan pangan. Ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari besarnya produksi nasional dan cadangan komoditas, tetapi juga dari kemampuan sistem rantai pasok menghadapi gangguan iklim.

Ketua IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai perubahan iklim harus ditempatkan sebagai salah satu risiko utama dalam desain rantai pasok nasional. Sistem logistik harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi ketika produksi suatu wilayah mengalami gangguan, termasuk melalui penguatan jaringan gudang, transportasi, distribusi antardaerah dan fasilitas rantai dingin.

“Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga kemampuan memindahkan, menyimpan dan menjaga kualitas pangan dari sentra produksi sampai konsumen. Ketika terjadi gangguan iklim, sistem logistik harus mampu menjadi penyangga agar gangguan produksi di satu wilayah tidak langsung berubah menjadi kelangkaan dan lonjakan harga di wilayah lain,” demikian perspektif IARSI.

Risiko Terbesar Ada pada Hortikultura

Komoditas hortikultura menjadi salah satu kelompok pangan yang paling sensitif terhadap gangguan cuaca. Produk seperti cabai, bawang, sayuran dan buah-buahan memiliki umur simpan relatif pendek sehingga membutuhkan sistem distribusi yang cepat dan pengendalian suhu yang memadai.

Hal ini sejalan dengan perhatian pelaku logistik. Perkumpulan Pelaku Logistik Indonesia (PPLI) pada 12 Agustus 2026 menilai dampak kemarau terhadap pasokan dan harga produk hortikultura perlu dimitigasi melalui penguatan logistik distribusi, data produksi, teknologi pascapanen hingga infrastruktur rantai dingin. PPLI juga mengingatkan bahwa cuaca ekstrem dapat menurunkan produksi apabila terjadi kegagalan panen.

Bagi IARSI, persoalan tersebut menunjukkan bahwa cold chain bukan lagi sekadar infrastruktur pendukung perdagangan, melainkan bagian dari infrastruktur ketahanan pangan nasional.

Ketiadaan fasilitas penyimpanan yang memadai membuat komoditas yang berhasil dipanen harus segera dijual dan dikirim. Dalam kondisi produksi menurun, situasi tersebut dapat mempersempit ruang distribusi dan meningkatkan tekanan harga.

Karena itu, pengembangan cold storage perlu dilakukan secara lebih strategis, terutama di sentra produksi dan simpul distribusi utama. Fasilitas tersebut harus terhubung dengan jaringan transportasi darat, pelabuhan, pasar induk, kawasan pergudangan dan pusat konsumsi.

Jangan Hanya Mengejar Produksi

IARSI menilai kebijakan pangan juga perlu bergeser dari pendekatan yang terlalu berorientasi pada produksi menuju pendekatan end-to-end supply chain.

Artinya, pemerintah harus memetakan seluruh rantai perjalanan komoditas sejak produksi, pengumpulan, penyimpanan, pengolahan, transportasi, distribusi hingga konsumen.

Persoalannya, produksi pangan Indonesia tersebar di berbagai daerah, sementara pusat konsumsi terkonsentrasi di kawasan perkotaan. Ketimpangan lokasi antara sentra produksi dan pusat permintaan membuat efisiensi distribusi menjadi sangat penting.

Jika kemarau menyebabkan produksi turun di satu daerah, pemerintah harus memiliki data real-time mengenai wilayah mana yang mengalami surplus, wilayah mana yang mengalami defisit, kapasitas gudang yang tersedia, serta jalur transportasi paling efisien untuk mengalihkan pasokan.

Data menjadi instrumen penting dalam situasi seperti ini.

IARSI mendorong pemerintah membangun sistem informasi rantai pasok pangan yang mampu mengintegrasikan data produksi, stok gudang, kebutuhan wilayah, harga, kapasitas transportasi dan kondisi infrastruktur secara lebih terintegrasi.

Dengan sistem tersebut, intervensi pemerintah dapat dilakukan lebih awal sebelum kekurangan pasokan berkembang menjadi persoalan harga.

Distribusi Antardaerah Harus Menjadi Tameng

Salah satu strategi yang dapat diperkuat adalah kerja sama perdagangan pangan antardaerah.

Contohnya, Pemerintah Kota Balikpapan pada 12 Agustus 2026 melakukan kerja sama dengan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus mengendalikan inflasi. Model kerja sama seperti ini menunjukkan pentingnya jaringan pasokan lintas daerah ketika suatu wilayah tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri.

Namun, menurut IARSI, kerja sama antardaerah harus diikuti dengan kesiapan infrastrukturnya.

Kontrak atau kesepakatan pasokan tidak akan optimal apabila produk menghadapi hambatan transportasi, biaya angkut tinggi, keterbatasan gudang atau kerusakan selama perjalanan.

Karena itu, pembangunan infrastruktur logistik pangan harus dilakukan berdasarkan peta arus komoditas, bukan sekadar berdasarkan proyek per wilayah.

Infrastruktur Logistik Harus Dirancang Menghadapi Krisis

Kemarau juga memperlihatkan bahwa ketahanan rantai pasok sangat bergantung pada kemampuan sistem logistik menghadapi gangguan.

Dalam kondisi normal, jaringan transportasi mungkin masih mampu memenuhi kebutuhan distribusi. Namun ketika produksi turun, permintaan meningkat, atau jalur tertentu mengalami gangguan, kapasitas cadangan menjadi sangat penting.

IARSI melihat pemerintah perlu membangun konsep resilient supply chain, yaitu rantai pasok yang tidak hanya efisien ketika kondisi normal, tetapi juga mampu bertahan dan pulih ketika menghadapi guncangan.

Konsep tersebut mencakup diversifikasi sumber pasokan, gudang penyangga di lokasi strategis, cold chain, alternatif moda transportasi, pemetaan jalur distribusi, sistem peringatan dini serta ketersediaan kapasitas logistik darurat.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah tidak perlu menunggu harga melonjak untuk kemudian melakukan intervensi.

Kemarau Harus Menjadi Momentum Reformasi Logistik Pangan

IARSI menilai ancaman kemarau 2026 seharusnya tidak hanya diperlakukan sebagai persoalan musiman. Perubahan pola cuaca dan potensi meningkatnya kejadian ekstrem membuat sistem pangan nasional membutuhkan desain logistik yang lebih adaptif.

Pemerintah juga perlu memastikan investasi infrastruktur logistik memberikan dampak langsung terhadap biaya dan kualitas distribusi pangan. Pembangunan gudang, jalan, pelabuhan, pasar induk maupun fasilitas rantai dingin harus terhubung dalam satu ekosistem.

Dengan demikian, investasi logistik tidak berhenti sebagai pembangunan fisik, tetapi menghasilkan jaringan distribusi yang mampu menjaga ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas pangan.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya bagaimana menghasilkan pangan sebanyak mungkin, tetapi bagaimana memastikan pangan tersebut tetap tersedia ketika produksi terganggu oleh faktor iklim.

Kemarau menjadi ujian penting bagi ketahanan rantai pasok nasional. Jika sistem logistik mampu berfungsi sebagai penyangga antara produksi dan konsumsi, guncangan iklim tidak harus berubah menjadi krisis pasokan dan lonjakan harga. Sebaliknya, jika logistik masih berjalan secara parsial, gangguan produksi di satu wilayah dapat dengan cepat menyebar menjadi tekanan nasional.

Karena itu, IARSI mendorong pemerintah menjadikan ketahanan terhadap guncangan iklim sebagai bagian integral dari peta jalan rantai pasok pangan nasional, dengan mengintegrasikan produksi, pergudangan, cold chain, transportasi, data dan distribusi antardaerah dalam satu sistem yang terpadu.


post: iarsi.org