Terminal 2 Petikemas miliki dermaga 517,5 meter dan kapasitas penumpukan hingga 8.425 TEUs. Foto: Pelindo


Bekasi – Pengoperasian Terminal 2 Petikemas Pelabuhan Tanjung Priok oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menjadi momentum penting dalam meningkatkan kapasitas layanan kepelabuhanan Indonesia. Terminal baru tersebut memiliki panjang dermaga 517,5 meter, area penumpukan seluas 98.700 meter persegi dengan kapasitas 8.425 TEUs, serta mampu melayani kapal hingga 30.000 DWT. Pengembangan ini juga menjadi bagian dari konsep Pelindo Indonesia Network Pendulum (PINP) yang menargetkan pembentukan 20 koridor pelayaran baru guna memperkuat jaringan logistik nasional.

Menanggapi hal tersebut, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai investasi pelabuhan akan memberikan dampak maksimal apabila diikuti dengan reformasi menyeluruh pada sistem rantai pasok nasional. Menurut IARSI, peningkatan kapasitas terminal harus dapat diterjemahkan menjadi penurunan biaya logistik, percepatan arus barang, dan peningkatan daya saing industri nasional.

Ketua Umum IARSI Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT. mengatakan bahwa selama ini pembangunan pelabuhan sering kali diukur dari besarnya investasi fisik, padahal indikator keberhasilannya harus dilihat dari efisiensi yang dirasakan dunia usaha.

"Terminal baru merupakan langkah yang sangat positif. Namun ukuran keberhasilannya bukan hanya bertambahnya dermaga atau kapasitas peti kemas, melainkan apakah biaya distribusi nasional benar-benar turun, waktu tunggu kapal semakin singkat, dan barang sampai ke industri maupun konsumen lebih cepat. Infrastruktur harus menghasilkan efisiensi ekonomi," ujarnya.

Menurut IARSI, Tanjung Priok menangani lebih dari separuh arus peti kemas internasional Indonesia sehingga setiap peningkatan produktivitas di pelabuhan tersebut akan memberikan dampak besar terhadap biaya logistik nasional. Namun, manfaat tersebut dapat berkurang apabila konektivitas menuju kawasan industri, jalan tol, jaringan kereta barang, depo peti kemas, hingga pergudangan belum terintegrasi secara optimal.

IARSI juga mengapresiasi rencana Pelindo membangun hingga 20 koridor pelayaran melalui konsep hub and spoke. Kebijakan tersebut dinilai mampu mengurangi ketimpangan arus muatan (cargo imbalance), meningkatkan utilisasi kapal, dan memperkuat distribusi antarpulau apabila diimplementasikan secara konsisten.

Berdasarkan berbagai kajian pemerintah dan lembaga internasional, biaya logistik Indonesia masih berada pada kisaran 14–15 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara maju maupun beberapa negara ASEAN yang telah berada pada kisaran satu digit hingga sekitar 10 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pelabuhan harus dibarengi digitalisasi layanan, integrasi data logistik, penyederhanaan proses kepabeanan, serta peningkatan konektivitas antarmoda agar manfaat investasi benar-benar dirasakan pelaku usaha.

IARSI menilai keberhasilan Terminal 2 Petikemas nantinya perlu diukur melalui indikator yang terukur, seperti penurunan dwelling time, peningkatan produktivitas bongkar muat per jam, berkurangnya waktu antre truk di pelabuhan, meningkatnya ketepatan jadwal kapal, serta turunnya biaya distribusi nasional. Tanpa indikator tersebut, investasi infrastruktur berisiko hanya meningkatkan kapasitas fisik tanpa menghasilkan efisiensi ekonomi yang signifikan.

"IARSI mendukung transformasi Pelindo menuju pelabuhan yang modern dan terintegrasi. Namun kami mengingatkan bahwa setiap investasi logistik harus memiliki target yang jelas, yakni mempercepat arus barang, menekan biaya logistik nasional, memperkuat daya saing ekspor Indonesia, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pelabuhan bukan sekadar tempat bongkar muat, melainkan simpul utama rantai pasok nasional yang menentukan daya saing ekonomi Indonesia," tutup Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT. 


post: iarsi.org