Ilustrasi


BEKASI - penting perekonomian Indonesia pada 2026. Supply Chain Indonesia (SCI) memperkirakan sektor ini tumbuh 9,31% secara tahunan (c-to-c) dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp1.703,21 triliun.

Angka tersebut merupakan proyeksi kinerja sepanjang 2026, bukan realisasi pertumbuhan yang telah dicapai hingga saat ini. Proyeksi SCI tersebut menjadi semakin relevan karena data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan memang masih tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan perekonomian nasional.

BPS mencatat sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04% secara tahunan pada triwulan I-2026. Pada periode yang sama, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%. Artinya, pertumbuhan sektor logistik berada sekitar 2,4 poin persentase di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Kinerja tersebut memperkuat indikasi bahwa aktivitas transportasi, distribusi, pergudangan, perdagangan, mobilitas barang, dan kebutuhan rantai pasok semakin memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia.

Bagi Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), tren tersebut harus menjadi momentum untuk mengubah cara pemerintah melihat sektor logistik. Logistik tidak lagi cukup ditempatkan sebagai sektor pendukung, tetapi harus diposisikan sebagai infrastruktur ekonomi sekaligus mesin pertumbuhan baru.

Ketua IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai tingginya pertumbuhan transportasi dan pergudangan harus diikuti dengan peningkatan efisiensi seluruh rantai pasok.

“Pertumbuhan sektor logistik harus memberikan dampak langsung terhadap produktivitas ekonomi. Ukurannya bukan hanya pertumbuhan jumlah angkutan atau pembangunan fasilitas logistik, tetapi apakah biaya distribusi semakin rendah, waktu pengiriman semakin singkat, dan konektivitas antardaerah semakin baik,” demikian perspektif yang didorong IARSI.

Pertumbuhan 9,31% Harus Menghasilkan Efisiensi

IARSI melihat terdapat tantangan penting di balik proyeksi pertumbuhan 9,31%.

Pertumbuhan tinggi tidak otomatis berarti sistem logistik Indonesia sudah efisien. Apabila volume transportasi meningkat tetapi perjalanan kosong masih tinggi, waktu tunggu di pelabuhan panjang, kapasitas gudang tidak terintegrasi, serta konektivitas antara pelabuhan dan kawasan industri masih terbatas, maka biaya logistik tetap akan menjadi beban bagi dunia usaha.

Karena itu, IARSI mendorong pemerintah menggunakan pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan sebagai momentum untuk melakukan reformasi struktural rantai pasok.

Pertumbuhan sektor harus diterjemahkan menjadi penurunan biaya logistik, peningkatan utilisasi infrastruktur, pengurangan waktu tempuh, peningkatan ketepatan waktu pengiriman, serta peningkatan daya saing produk Indonesia.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena biaya logistik Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan negara-negara yang memiliki sistem rantai pasok lebih terintegrasi.

Dalam konteks perdagangan internasional, efisiensi logistik menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan produk Indonesia bersaing di pasar global. Biaya transportasi, pergudangan, bongkar muat, distribusi domestik dan waktu pengiriman pada akhirnya masuk ke dalam harga produk.

Dengan demikian, reformasi logistik bukan hanya persoalan sektor transportasi, tetapi menyangkut inflasi, daya beli, investasi, industri manufaktur, ekspor, impor dan pertumbuhan ekonomi.

Investasi Harus Menghasilkan Penurunan Biaya Distribusi

IARSI juga menekankan pentingnya mengubah paradigma investasi infrastruktur logistik.

Pembangunan pelabuhan, jalan tol, terminal peti kemas, kawasan pergudangan, jalur kereta api, bandara kargo dan pusat distribusi harus dilihat sebagai satu jaringan. Infrastruktur yang berdiri sendiri tanpa koneksi dengan sentra produksi dan pasar tidak akan memberikan manfaat maksimal.

Investasi logistik harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas.

Salah satu indikator paling penting adalah berapa besar biaya distribusi yang berhasil ditekan setelah sebuah infrastruktur beroperasi.

Jika pembangunan infrastruktur hanya menambah kapasitas tetapi tidak mengurangi waktu perjalanan, biaya angkutan, biaya penyimpanan maupun biaya bongkar muat, maka dampaknya terhadap produktivitas nasional akan terbatas.

Karena itu, IARSI mendorong pemerintah mulai menggunakan indikator cost-to-serve, lead time, utilisasi aset, dwelling time, tingkat perjalanan kosong dan ketepatan waktu pengiriman sebagai bagian dari evaluasi kebijakan logistik.

Integrasi Pelabuhan, Industri dan Transportasi Multimoda

Agenda berikutnya adalah memperkuat konektivitas antarmoda.

Indonesia memiliki jaringan pelabuhan, jalan tol, kereta api, bandara, kawasan industri dan pusat pergudangan yang terus berkembang. Namun, tantangannya adalah bagaimana seluruh infrastruktur tersebut dapat bekerja sebagai satu ekosistem.

Pelabuhan harus memiliki koneksi yang efisien dengan kawasan industri. Jalur kereta api harus mampu menjadi alternatif angkutan barang dari pusat produksi menuju pelabuhan. Jalan tol harus memiliki akses yang efektif ke kawasan industri dan pusat distribusi.

Begitu pula pergudangan harus ditempatkan berdasarkan pola arus barang, bukan sekadar berdasarkan ketersediaan lahan.

Menurut IARSI, integrasi tersebut akan memberikan manfaat ganda. Pertama, mengurangi biaya transportasi. Kedua, meningkatkan kepastian waktu pengiriman.

Keduanya sangat penting bagi industri manufaktur dan eksportir karena keterlambatan bahan baku dapat menghentikan produksi, sementara keterlambatan pengiriman produk dapat mengurangi daya saing perusahaan Indonesia.

Digitalisasi Harus Menjadi Infrastruktur Baru

Selain pembangunan fisik, IARSI mendorong percepatan digitalisasi rantai pasok.

Data mengenai pergerakan barang, kapasitas gudang, ketersediaan armada, kondisi pelabuhan, jadwal kereta, arus kontainer dan kebutuhan industri perlu semakin terintegrasi.

Dengan sistem berbasis data, perusahaan dapat melakukan perencanaan pengiriman dengan lebih akurat. Pemerintah juga dapat mengetahui titik-titik kemacetan rantai pasok secara lebih cepat.

Digitalisasi juga dapat membantu mengurangi perjalanan kosong kendaraan, meningkatkan konsolidasi muatan, memperbaiki utilisasi gudang, serta mengurangi penumpukan barang pada simpul distribusi tertentu.

Dalam jangka panjang, Indonesia membutuhkan ekosistem data rantai pasok nasional yang mampu menghubungkan pemerintah, operator transportasi, pelabuhan, industri, perusahaan logistik dan pengguna jasa.

Konsolidasi Logistik Harus Dilanjutkan

Transformasi juga membutuhkan penguatan kelembagaan dan konsolidasi industri logistik.

Langkah pemerintah dan Danantara melakukan konsolidasi sejumlah BUMN logistik dapat menjadi momentum untuk membangun perusahaan logistik nasional dengan skala dan jaringan yang lebih kuat.

Namun, IARSI menilai konsolidasi korporasi tidak boleh berhenti pada penggabungan perusahaan.

Yang lebih penting adalah integrasi jaringan, fasilitas, teknologi, sumber daya, sistem informasi dan layanan. Tujuan akhirnya harus menciptakan efisiensi rantai pasok, bukan sekadar perubahan struktur kepemilikan.

BUMN logistik harus mampu menjadi penghubung antara sentra produksi, kawasan industri, pelabuhan, pusat distribusi dan pasar.

Dengan jaringan yang lebih terintegrasi, Indonesia memiliki peluang memperkuat posisi sebagai pusat distribusi regional dan bagian penting dari rantai pasok ASEAN.

Logistik sebagai Mesin Pertumbuhan Baru

IARSI melihat proyeksi pertumbuhan 9,31% pada 2026 sebagai peluang strategis.

Jika pertumbuhan tersebut terealisasi, kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap perekonomian akan semakin besar. Namun, tantangan sebenarnya bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan.

Indonesia harus memastikan pertumbuhan logistik menghasilkan multiplier effect terhadap sektor lain.

Manufaktur membutuhkan logistik untuk memperoleh bahan baku. Pertanian membutuhkan sistem distribusi untuk membawa hasil produksi ke pasar. Perdagangan membutuhkan jaringan transportasi dan pergudangan untuk menjaga ketersediaan barang. Ekspor membutuhkan pelabuhan dan konektivitas yang efisien.

Dengan demikian, semakin efisien sistem logistik, semakin besar pula peluang sektor-sektor ekonomi lainnya meningkatkan produktivitas.

IARSI menilai pemerintah perlu menjadikan reformasi logistik sebagai bagian integral dari strategi pertumbuhan ekonomi nasional, bukan hanya sebagai kebijakan sektoral Kementerian Perhubungan atau kementerian teknis lainnya.

Ada sedikitnya lima agenda yang perlu dipercepat: integrasi transportasi multimoda, konektivitas pelabuhan dengan kawasan industri, modernisasi pergudangan, digitalisasi rantai pasok, dan harmonisasi regulasi lintas kementerian/lembaga.

Jika lima agenda tersebut dapat berjalan secara konsisten, proyeksi pertumbuhan 9,31% tidak hanya akan menjadi angka dalam laporan ekonomi.

Pertumbuhan tersebut dapat menjadi titik awal transformasi Indonesia dari negara dengan biaya distribusi tinggi menjadi negara dengan rantai pasok yang efisien, terintegrasi dan kompetitif.

Pada akhirnya, keberhasilan sektor transportasi dan pergudangan tidak cukup diukur dari seberapa cepat sektornya tumbuh.

Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah seberapa besar pertumbuhan logistik mampu menurunkan biaya ekonomi Indonesia, mempercepat distribusi, meningkatkan daya saing industri, memperkuat ekspor, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.


post: iarsi.org