Ilustrasi


BEKASI - IARSI News: Indonesia memiliki potensi biomassa sekitar 60,6 juta ton yang belum termanfaatkan, tetapi besarnya sumber daya tersebut belum otomatis menjadikannya sumber energi yang mudah digunakan. Tantangan terbesar justru berada di balik bahan baku tersebut: bagaimana mengumpulkan, mengolah, menyimpan, mengangkut, dan memastikan pasokannya sampai ke titik kebutuhan secara berkelanjutan.

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) pada September 2026 memetakan sekitar 60,6 juta ton potensi biomassa yang belum termanfaatkan. Sumbernya beragam, mulai dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, industri hingga sampah perkotaan. Biomassa tersebut tidak hanya diarahkan untuk co-firing pembangkit listrik, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi biochar, syngas, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel hingga bioethanol.

Bagi Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), persoalan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi tidak cukup dibangun hanya dengan menghitung berapa besar sumber daya yang tersedia. Yang sama pentingnya adalah memastikan bahan baku tersebut memiliki jalur pasok yang stabil dari daerah sumber menuju pusat konsumsi.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., dalam perspektif rantai pasok menilai potensi biomassa perlu dilihat sebagai ekosistem nasional, bukan sekadar komoditas energi. Jika sumber bahan baku tersebar sementara pusat permintaan berada jauh dari lokasi produksi, biaya logistik, penyimpanan dan pengolahan dapat menentukan apakah biomassa tersebut benar-benar kompetitif sebagai sumber energi.

Persoalan itu telah dikemukakan pula oleh sejumlah pelaku dan pengamat sektor energi. Energy Shift Institute menilai pengembangan biomassa tidak dapat hanya bertumpu pada besarnya potensi bahan baku. Kemampuan mengumpulkan dan memasok biomassa secara berkelanjutan menjadi persoalan tersendiri. Tantangannya semakin besar apabila pemanfaatan biomassa ditingkatkan ke skala puluhan juta ton.

Ekonom Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak menjelaskan bahwa karakter biomassa membuat rantai pasoknya lebih kompleks dibandingkan sejumlah sumber energi lain. Biomassa memiliki kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan batu bara, kualitas dan kadar airnya tidak seragam, produksinya pada sejumlah jenis bersifat musiman, sementara sumbernya tersebar dan sering kali jauh dari pusat permintaan. Contohnya, cangkang sawit banyak tersedia di Sumatra, sementara sebagian kebutuhan energi berada di Jawa atau Sulawesi.

Masalahnya kemudian bukan sekadar truk atau kapal pengangkut. Biomassa membutuhkan ekosistem logistik tersendiri, mulai dari titik pengumpulan, fasilitas pengeringan, standardisasi mutu, gudang penyimpanan, pengolahan menjadi bentuk yang lebih padat, hingga kontrak pasokan jangka panjang. Tanpa mata rantai tersebut, bahan baku yang secara statistik terlihat melimpah belum tentu dapat menjadi pasokan energi yang dapat diandalkan.

PLN EPI sendiri telah mengembangkan pemanfaatan biomassa melalui skema co-firing pada 52 PLTU dengan total kapasitas 18,9 gigawatt. Artinya, sebagian infrastruktur pembangkit sudah dapat menerima biomassa sebagai bagian dari strategi mengurangi penggunaan batu bara. Tantangan berikutnya adalah memastikan pasokan bahan bakunya dapat tersedia secara konsisten dan ekonomis.

Menariknya, solusi mulai diarahkan sampai ke tingkat desa. Pada 29 September 2026, PLN EPI memperkenalkan konsep BIODES (Biomassa dari Desa) yang mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, pemberdayaan masyarakat, BUMDes, pemasok dan pembangkit. Pendekatan ini menempatkan desa bukan hanya sebagai sumber bahan baku, tetapi sebagai bagian dari ekosistem produksi dan rantai pasok biomassa.

Bagi masyarakat, perkembangan tersebut membuka peluang ekonomi baru. PLN EPI memperkirakan pemanfaatan sekitar 10 juta ton biomassa dalam ekosistem bioenergi berpotensi menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau yang tersebar dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, transportasi hingga pemanfaatannya di pembangkit.

Namun, IARSI melihat peluang tersebut harus berjalan beriringan dengan tata kelola pasokan. Biomassa tidak boleh hanya diburu ketika pembangkit membutuhkan bahan bakar. Pemerintah dan pelaku usaha perlu mengetahui dari mana bahan baku berasal, berapa kapasitas pasokan yang tersedia, kapan produksinya mencapai puncak, bagaimana kualitasnya, berapa biaya mengangkutnya dan siapa yang menjadi pembeli akhirnya.

Persoalan tersebut semakin penting apabila biomassa nantinya digunakan untuk berbagai kebutuhan sekaligus—pembangkit listrik, industri, bahan bakar, produk bioenergi bernilai tambah dan ekspor. Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) bahkan mendorong penyusunan neraca biomassa nasional agar kebutuhan domestik dan ekspor tidak saling berebut bahan baku.

Dari perspektif ketahanan nasional, biomassa memiliki posisi strategis karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri dan tersebar di berbagai wilayah. Artinya, apabila rantai pasoknya dibangun dengan baik, biomassa dapat menjadi salah satu lapisan diversifikasi energi sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi daerah. Sebaliknya, jika persoalan pengumpulan, penyimpanan dan transportasi tidak diselesaikan, potensi besar tersebut hanya akan menjadi angka dalam peta sumber daya.

Karena itu, IARSI mendorong agar pengembangan biomassa tidak berhenti pada target volume. Pemerintah perlu membangun peta rantai pasok biomassa nasional yang menghubungkan sentra bahan baku dengan pembangkit dan kawasan industri terdekat, sekaligus menentukan fasilitas pengeringan, gudang, hub logistik dan jalur transportasi yang paling efisien.

Indonesia pada akhirnya menghadapi paradoks baru dalam ketahanan energi: bukan kekurangan sumber daya, melainkan belum optimalnya kemampuan memindahkan sumber daya tersebut menjadi energi yang tersedia tepat waktu dan dengan biaya yang kompetitif.

Dengan potensi 60,6 juta ton yang sedang dipetakan PLN EPI, ujian berikutnya bukan sekadar seberapa banyak biomassa yang dimiliki Indonesia, melainkan seberapa kuat Indonesia membangun rantai pasok yang mampu membuat biomassa tersebut benar-benar bergerak dari desa hingga menjadi energi bagi masyarakat dan industri.


post: iarsi.org