ilustrasi by: iarsi.org - AI


BEKASI - IARSI News: Perubahan lanskap perdagangan global mendorong negara-negara ASEAN memperkuat ketahanan sekaligus melakukan diversifikasi rantai pasok. Dalam rangkaian pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN dengan sejumlah mitra pada 17–22 September 2026 di Filipina, Indonesia secara khusus mendorong penguatan ketahanan energi dan pangan, diversifikasi rantai pasok, transformasi digital, fasilitasi perdagangan dan investasi, serta peningkatan partisipasi UMKM.

Perubahan tersebut dinilai membuka ruang bagi Indonesia untuk memperbesar perannya dalam jaringan produksi dan distribusi regional. Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) melihat diversifikasi rantai pasok ASEAN bukan sekadar respons terhadap ketidakpastian geopolitik dan perdagangan global, tetapi juga momentum bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai lokasi produksi, pusat distribusi, sekaligus simpul logistik kawasan.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai Indonesia memiliki modal besar untuk memainkan peran tersebut karena ukuran pasar domestik, basis industri, sumber daya alam, serta posisi geografisnya yang berada di jalur perdagangan Asia.

Namun, menurut IARSI, keunggulan tersebut tidak otomatis menjadikan Indonesia sebagai hub rantai pasok. Negara-negara ASEAN kini semakin berkompetisi menawarkan kepastian investasi, konektivitas, efisiensi logistik, kecepatan perdagangan, dan kemampuan memasok kebutuhan industri secara konsisten.

“Diversifikasi rantai pasok ASEAN harus dibaca sebagai perubahan peta produksi dan distribusi. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar besar. Kita harus mampu menjadi tempat perusahaan membangun produksi, mendapatkan bahan baku, melakukan pengolahan, menyimpan barang, dan mendistribusikannya kembali ke pasar regional,” demikian pandangan IARSI.

ASEAN Memperkuat Integrasi

Momentum tersebut muncul ketika ASEAN sedang memperkuat integrasi ekonominya. Dalam Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN ke-58 pada 19 September 2026, negara-negara ASEAN membahas implementasi ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), persiapan penerapan protokol perubahan ATIGA, fasilitasi perdagangan, perluasan ASEAN Authorised Economic Operator Mutual Recognition Arrangement (AAMRA), serta penguatan ASEAN Customs Transit System (ACTS).

ASEAN menyebut berbagai langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat kawasan sebagai single market and production base, sekaligus menjaga daya saing dan ketahanan ekonomi kawasan.

Pada saat yang sama, konsultasi ASEAN dengan dunia usaha juga menempatkan isu supply chain dan trade facilitation sebagai salah satu agenda penting, bersama ekonomi digital, ekonomi sirkular dan keberlanjutan. ASEAN Business Advisory Council mendorong agar berbagai inisiatif ekonomi kawasan diterjemahkan menjadi manfaat praktis bagi dunia usaha.

Bagi Indonesia, perkembangan ini berarti persaingan hub tidak hanya berlangsung antarpelabuhan, tetapi mencakup keseluruhan ekosistem. Perusahaan akan mempertimbangkan biaya dan waktu transportasi, ketersediaan kawasan industri, gudang, energi, bahan baku, tenaga kerja, kepastian regulasi, konektivitas pelabuhan dan kemampuan sistem digital dalam menentukan lokasi produksi dan distribusi.

Indonesia Punya Basis Industri

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai ekspor Indonesia Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, naik 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar atau meningkat 5,21 persen. Pada periode yang sama, impor mencapai US$163,33 miliar, meningkat 19,94 persen.

Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan Indonesia sekaligus kebutuhan terhadap sistem logistik yang mampu menghubungkan industri domestik dengan pasar internasional.

Di sisi investasi, BKPM mencatat realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Capaian tersebut setara dengan 49,5 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.

IARSI melihat kombinasi investasi dan aktivitas perdagangan tersebut perlu diarahkan lebih jauh agar menghasilkan efek jaringan. Artinya, investasi baru tidak hanya berdiri sebagai pabrik individual, tetapi terhubung dengan pemasok lokal, industri komponen, pergudangan, transportasi, pelabuhan, pusat distribusi dan pasar ekspor.

Jangan Hanya Menjadi Lokasi Produksi

Tantangan terbesar Indonesia adalah memastikan bahwa masuknya investasi menghasilkan ekosistem rantai pasok yang semakin dalam.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM sendiri telah menekankan pentingnya menarik dan mengarahkan investasi asing ke sektor hilirisasi yang memberikan nilai tambah sekaligus membangun ekosistem rantai pasok domestik. Strategi yang disiapkan mencakup perencanaan, eksekusi dan pemberian insentif.

Karena itu, IARSI menilai ukuran keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari nilai modal yang masuk atau jumlah pabrik yang berdiri. Indikator lainnya adalah seberapa besar investasi tersebut menciptakan keterkaitan dengan pemasok lokal, meningkatkan kapasitas logistik, memperluas pasar ekspor dan menjadikan Indonesia bagian permanen dari rantai nilai regional.

“Indonesia perlu bergerak dari sekadar destination market menjadi production and distribution hub. Kuncinya adalah integrasi ekosistem, bukan hanya pembangunan fasilitas secara terpisah,” kata IARSI dalam analisisnya.

Infrastruktur Harus Terhubung

Persaingan hub juga akan semakin dipengaruhi oleh konektivitas antarmoda. Pelabuhan tidak dapat berdiri sendiri tanpa akses jalan, kereta, kawasan industri, pergudangan dan jaringan distribusi ke pasar.

Pemerintah sendiri tengah memperkuat Indonesia National Single Window (INSW) untuk mengintegrasikan layanan ekspor, impor dan logistik secara elektronik. Langkah ini ditujukan untuk menyederhanakan proses bisnis, meningkatkan efisiensi dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

IARSI memandang integrasi digital tersebut harus berjalan bersamaan dengan integrasi fisik. Jika dokumen sudah terintegrasi tetapi barang masih menghadapi antrean, perpindahan moda yang tidak efisien atau keterbatasan kapasitas gudang, maka biaya logistik tetap tinggi.

Di sisi lain, perubahan jalur perdagangan regional juga semakin nyata. Pembukaan Kanal Pinglu di China pada 16 September 2026 memangkas lebih dari 560 kilometer rute kargo dari China barat daya menuju laut. Kanal sepanjang 134,2 kilometer itu menghubungkan jaringan Sungai Xijiang dengan Teluk Beibu dan menjadi bagian dari New International Land-Sea Trade Corridor China–ASEAN.

Perubahan seperti ini memperlihatkan bahwa perusahaan memiliki semakin banyak pilihan dalam menentukan lokasi pemasok, produksi, pengolahan dan distribusi. Karena itu, menurut IARSI, Indonesia perlu memastikan keunggulan geografisnya diterjemahkan menjadi keunggulan logistik dan industri.

Hub Regional Harus Dibangun dari Hulu hingga Hilir

Indonesia juga memiliki peluang dari semakin kuatnya integrasi perdagangan ASEAN dengan mitra eksternal. Dalam pertemuan ASEAN Plus Three, nilai perdagangan dua arah ASEAN dengan China, Jepang dan Korea Selatan meningkat 13,7 persen dari US$1,2 triliun pada 2024 menjadi US$1,4 triliun pada 2025. Arus investasi langsung dari ketiga negara tersebut ke ASEAN mencapai US$44,8 miliar pada 2025.

Pada saat yang sama, ASEAN dan India juga mendorong penguatan perdagangan, investasi dan ketahanan rantai pasok melalui penyelesaian tinjauan ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA). Indonesia menyatakan dukungan agar proses tersebut selesai pada 2026.

Besarnya jaringan tersebut memberikan peluang sekaligus tuntutan. Indonesia harus mampu menyediakan sistem produksi dan distribusi yang dapat memenuhi standar pasar regional, memiliki ketertelusuran barang, cepat dalam proses kepabeanan, kompetitif dari sisi biaya dan memiliki pasokan yang stabil.

Dengan demikian, agenda diversifikasi rantai pasok ASEAN dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri nasional. Namun peluang tersebut akan bergantung pada kemampuan Indonesia mengintegrasikan kawasan industri, pelabuhan, transportasi, pergudangan, sistem perdagangan digital, energi dan pemasok domestik dalam satu ekosistem.

IARSI menilai arah kebijakan ke depan perlu memastikan setiap investasi baru memiliki keterhubungan dengan jaringan logistik nasional dan regional. Dengan cara tersebut, Indonesia tidak hanya memperoleh investasi dan aktivitas produksi, tetapi juga memperoleh posisi strategis dalam arus barang ASEAN.

“Pertarungannya bukan lagi sekadar siapa yang memiliki pabrik paling banyak. Persaingannya adalah siapa yang mampu menyediakan ekosistem rantai pasok paling terintegrasi, efisien, tangguh dan dapat dipercaya,” demikian pandangan IARSI.

Jika momentum diversifikasi rantai pasok ASEAN dapat dimanfaatkan dengan baik, Indonesia berpeluang memperbesar perannya dalam jaringan produksi regional. Tantangannya kini adalah mengubah keunggulan pasar dan sumber daya menjadi kapasitas produksi, konektivitas logistik dan kemampuan distribusi yang membuat perusahaan global memilih Indonesia sebagai bagian penting dari rantai pasok mereka.


post: iarsi.org