BEKASI — Memasuki penghujung 2026, rantai pasok nasional Indonesia menghadapi tiga tekanan yang semakin saling berkaitan, yakni energi, perubahan iklim, dan biaya logistik. Ketiganya berpotensi menentukan seberapa kuat daya saing industri dan kemampuan distribusi barang hingga akhir tahun.
Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai tantangan rantai pasok Indonesia kini tidak lagi hanya menyangkut ketersediaan infrastruktur. Persoalan yang semakin menentukan adalah kemampuan sistem nasional menjaga kelancaran arus barang ketika terjadi perubahan harga energi, gangguan cuaca maupun peningkatan biaya transportasi.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan Indonesia perlu memasuki akhir 2026 dengan pendekatan yang lebih antisipatif. Menurutnya, rantai pasok nasional harus mampu membaca potensi gangguan sebelum berubah menjadi kelangkaan barang atau kenaikan harga.
“Rantai pasok nasional tidak boleh hanya dirancang untuk kondisi normal. Kita harus menyiapkan sistem yang mampu tetap berjalan ketika energi mengalami tekanan, cuaca mengganggu produksi dan transportasi, serta biaya distribusi meningkat,” ujar Beniadi.
B50 Mengubah Peta Rantai Pasok Energi
Salah satu perubahan penting pada 2026 adalah implementasi mandatori biodiesel B50. Pemerintah menargetkan penerapan B50 mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Dari perspektif rantai pasok, B50 bukan hanya persoalan kebijakan bahan bakar. Implementasinya menyentuh rantai pasok dari perkebunan kelapa sawit, pengolahan biodiesel, penyimpanan, terminal BBM, distribusi hingga pengguna akhir seperti kendaraan logistik dan sektor industri.
IARSI menilai keberhasilan kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memastikan ketersediaan dan distribusi energi secara konsisten di seluruh wilayah.
“Jangan sampai kita berhasil meningkatkan bauran biodiesel di tingkat nasional, tetapi terjadi ketidakseimbangan pasokan di daerah-daerah yang menjadi pusat produksi atau distribusi. Bagi rantai pasok, kontinuitas jauh lebih penting daripada sekadar angka produksi,” kata Beniadi.
Iklim Mulai Menjadi Variabel Logistik
Tekanan kedua datang dari iklim. BMKG telah mengingatkan bahwa 2026 berpotensi menghadirkan musim kemarau yang lebih kering dan panjang di sejumlah wilayah akibat pengaruh El Niño. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pertanian, ketersediaan air, kebakaran hutan dan aktivitas ekonomi.
Dampaknya terhadap rantai pasok dapat berlangsung secara berantai.
Produksi pertanian terganggu, stok berubah, kebutuhan antardaerah meningkat, kemudian tekanan berpindah ke transportasi dan pergudangan. Pada saat yang sama, kondisi cuaca ekstrem juga dapat mengganggu jalur distribusi.
Karena itu, IARSI mendorong informasi iklim tidak berhenti sebagai informasi meteorologi, tetapi diterjemahkan menjadi informasi operasional rantai pasok.
“Data cuaca harus bisa menjawab pertanyaan bisnis: wilayah mana yang berpotensi mengalami gangguan produksi, jalur mana yang berisiko, berapa tambahan stok yang diperlukan, dan kapan distribusi harus dialihkan,” ujar Beniadi.
Menurutnya, integrasi data BMKG dengan data gudang, transportasi, pelabuhan, produksi dan permintaan dapat menjadi fondasi sistem peringatan dini rantai pasok nasional.
Biaya Logistik Menjadi Ujian Daya Saing
Tekanan ketiga adalah biaya. BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa dinamika biaya produksi dan distribusi tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan menjelang akhir tahun.
Bagi dunia usaha, kenaikan biaya tidak selalu muncul dalam bentuk tarif angkutan. Tekanan dapat berasal dari bahan bakar, suku cadang, pergudangan, tenaga kerja, asuransi, biaya pelabuhan hingga biaya akibat waktu tunggu.
Bank Dunia juga menempatkan peningkatan daya saing logistik dan penurunan biaya logistik sebagai bagian penting dari agenda peningkatan produktivitas Indonesia.
IARSI menilai pemerintah perlu mengubah ukuran keberhasilan pembangunan logistik. Tidak cukup hanya menghitung panjang jalan, jumlah pelabuhan atau kapasitas gudang.
“Yang harus diukur adalah berapa rupiah biaya distribusi yang berhasil dipangkas dan berapa lama waktu perjalanan barang dapat dipersingkat,” tegas Beniadi.
Jangan Sampai Gangguan Kecil Menjadi Krisis Nasional
IARSI memperkirakan tantangan terbesar pada akhir 2026 bukan semata-mata kekurangan barang, melainkan ketidakmampuan sistem mengantisipasi gangguan pada titik tertentu.
Satu gangguan bahan bakar dapat menghambat armada. Gangguan cuaca dapat menunda produksi. Keterlambatan kapal dapat mengganggu persediaan industri. Jika beberapa gangguan terjadi bersamaan, dampaknya dapat meluas ke harga dan ketersediaan barang.
Karena itu, IARSI mendorong perusahaan dan pemerintah memperkuat tiga lapisan ketahanan.
Pertama, visibility, yakni kemampuan melihat posisi stok, kendaraan, kapal, gudang dan permintaan secara real time.
Kedua, redundancy, yaitu tersedianya jalur, pemasok, moda transportasi dan lokasi penyimpanan alternatif.
Ketiga, agility, yakni kemampuan mengubah rencana distribusi dengan cepat ketika terjadi gangguan.
Memasuki 2027, Rantai Pasok Harus Lebih Tahan Guncangan
IARSI melihat akhir 2026 sebagai momentum evaluasi sebelum memasuki 2027. Indonesia memiliki peluang besar karena perekonomian tetap tumbuh dan aktivitas perdagangan terus berjalan. BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026.
Namun pertumbuhan ekonomi tersebut harus diikuti peningkatan kualitas rantai pasok. Tanpa efisiensi distribusi, sebagian manfaat pertumbuhan dapat tergerus oleh biaya logistik dan gangguan pasokan.
“Indonesia tidak cukup hanya memiliki barang dan infrastruktur. Kita harus memiliki sistem yang mampu memastikan barang bergerak dengan biaya kompetitif, tepat waktu dan tetap tersedia ketika terjadi gangguan,” kata Beniadi.
Dengan demikian, menurut IARSI, tiga tekanan utama menjelang akhir 2026—energi, iklim dan biaya logistik—seharusnya tidak dilihat sebagai tiga persoalan yang berdiri sendiri.
Ketiganya merupakan satu ekosistem risiko.
Jika energi terganggu, biaya transportasi meningkat. Jika iklim mengganggu produksi dan jalur distribusi, kebutuhan logistik meningkat. Ketika biaya logistik meningkat, harga barang dan daya saing industri ikut tertekan.
Karena itu, tantangan rantai pasok Indonesia menuju 2027 bukan sekadar memperbesar kapasitas, tetapi membangun sistem yang lebih adaptif, terintegrasi dan tahan terhadap guncangan.
post: iarsi.org
