Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat, 4 September 2026

BEKASI — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai memberikan dampak terhadap aktivitas transportasi nasional. Sebaran abu vulkanik bahkan membuat operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta harus dihentikan sementara pada Minggu (6/9/2026).

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyampaikan penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta dilakukan berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26, mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB. Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di kawasan bandara.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penumpang. Berdasarkan pemantauan hingga 5 September 2026 pukul 22.00 WIB, sebanyak 33 penerbangan terdampak. Untuk penerbangan internasional tercatat 16 pembatalan, tujuh penundaan dan lima penjadwalan kembali. Sementara penerbangan domestik mengalami empat pembatalan dan satu pengalihan penerbangan.

Sejumlah rute internasional yang terdampak antara lain Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, Amsterdam dan Kuala Lumpur. Sementara pada rute domestik terdapat penerbangan dari dan menuju Lampung serta penerbangan menuju Denpasar dan Surabaya.

Kementerian Perhubungan juga mengantisipasi dampak berantai atau cascading impact terhadap rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya dan kapasitas terminal. Operasional penerbangan akan terus disesuaikan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan dengan keselamatan sebagai prioritas utama.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 5 September juga menerbitkan laporan khusus mengenai fenomena erupsi menerus Gunungapi Anak Krakatau. Gunungapi tersebut merupakan gunungapi aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda.

IARSI: Gangguan Transportasi Bisa Menjadi Gangguan Rantai Pasok

Menanggapi kondisi tersebut, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai erupsi Anak Krakatau perlu dilihat bukan hanya sebagai persoalan keselamatan transportasi, tetapi juga sebagai peringatan mengenai pentingnya ketahanan jaringan rantai pasok nasional.

Ketua IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai gangguan pada satu simpul transportasi strategis dapat memberikan efek berantai apabila tidak tersedia jalur alternatif yang siap digunakan.

Menurut perspektif IARSI, sistem rantai pasok nasional tidak boleh dibangun dengan ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu moda, satu bandara, satu pelabuhan atau satu koridor distribusi.

“Rantai pasok harus memiliki jalur alternatif. Ketika satu simpul terganggu karena bencana alam, distribusi barang tidak boleh langsung berhenti. Yang harus dibangun adalah kemampuan untuk melakukan rerouting secara cepat,” demikian pandangan IARSI.

Erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa risiko rantai pasok dapat muncul secara tiba-tiba. Gangguan penerbangan, misalnya, berpotensi memengaruhi pengiriman barang bernilai tinggi, komponen industri, produk farmasi, makanan dengan umur simpan pendek, dokumen perdagangan, hingga kebutuhan mendesak lainnya.

Karena itu, IARSI mendorong pemerintah dan pelaku usaha memiliki peta jalur distribusi alternatif yang dapat langsung diaktifkan ketika terjadi gangguan.

Bukan Sekadar Jalur Alternatif

IARSI menilai jalur alternatif tidak cukup hanya tersedia di atas peta. Infrastruktur tersebut harus memiliki kapasitas, konektivitas dan prosedur operasional yang memungkinkan perpindahan arus barang dilakukan secara cepat.

Untuk distribusi tertentu, misalnya, angkutan udara dapat dialihkan ke moda laut atau darat. Sebaliknya, jika jalur darat atau laut mengalami gangguan, pemerintah dan pelaku usaha harus memiliki skenario pemanfaatan moda lainnya.

“Ketahanan rantai pasok bukan berarti memastikan semua jalur selalu bebas gangguan. Yang lebih penting adalah memastikan sistem mampu pulih dan berpindah jalur ketika gangguan terjadi,” ujar IARSI.

Konsep tersebut semakin penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Gangguan pada satu koridor transportasi dapat dengan cepat memengaruhi wilayah lain karena distribusi nasional sangat bergantung pada konektivitas antarpulau.

Pemerintah Perlu Bangun Sistem Early Warning Rantai Pasok

Selain pembangunan infrastruktur, IARSI mendorong penguatan sistem informasi risiko rantai pasok yang mengintegrasikan data kebencanaan, cuaca, kondisi transportasi, kapasitas gudang dan arus barang.

Informasi mengenai potensi abu vulkanik, misalnya, seharusnya dapat diterjemahkan bukan hanya menjadi peringatan keselamatan penerbangan, tetapi juga menjadi peringatan risiko logistik bagi perusahaan, operator transportasi, industri dan pemerintah daerah.

Dengan sistem tersebut, pelaku usaha dapat melakukan penyesuaian lebih awal, seperti mengubah jadwal pengiriman, memindahkan stok, menggunakan gudang alternatif atau mengalihkan moda transportasi sebelum gangguan semakin besar.

IARSI juga menilai pentingnya membangun buffer stock untuk komoditas dan barang strategis di lokasi yang memiliki akses terhadap lebih dari satu jaringan transportasi.

“Ketahanan rantai pasok harus dimulai sebelum bencana terjadi. Jangan menunggu jalur utama putus baru mencari alternatif,” tegas IARSI.

Erupsi Menjadi Ujian Ketahanan Logistik

Erupsi Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa pembangunan konektivitas nasional harus disertai dengan pembangunan resiliensi rantai pasok.

Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta memang dilakukan sebagai langkah keselamatan dan operasional dapat kembali disesuaikan dengan perkembangan kondisi. Namun, bagi IARSI, kejadian tersebut menunjukkan bahwa gangguan pada infrastruktur transportasi utama memiliki potensi dampak yang lebih luas daripada sekadar pembatalan atau penundaan perjalanan.

Ke depan, pemerintah perlu memastikan bahwa jaringan jalan, pelabuhan, bandara, terminal logistik, pergudangan dan sistem informasi tidak berjalan sendiri-sendiri. Seluruh simpul tersebut harus menjadi bagian dari satu ekosistem rantai pasok nasional yang mampu bekerja secara fleksibel ketika menghadapi bencana.

Dengan demikian, ketika satu jalur terganggu, arus barang masih dapat bergerak melalui jalur lain. Karena rantai pasok yang tangguh bukanlah rantai pasok yang tidak pernah terganggu, melainkan rantai pasok yang mampu tetap bergerak ketika gangguan terjadi.


post: iarsi.org