Ilustrasi


BEKASI — Indonesia mulai membidik posisi yang lebih kuat dalam perdagangan komoditas dunia. Pemerintah tengah menyiapkan bursa mineral dan komoditas strategis yang diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dari sekadar price taker atau penerima harga menjadi negara yang mampu memengaruhi pembentukan harga komoditas global.

Ambisi tersebut tidak lepas dari posisi Indonesia sebagai salah satu produsen besar berbagai komoditas strategis dunia, termasuk kelapa sawit, nikel dan batu bara. Pemerintah ingin kekuatan produksi tersebut diikuti dengan peningkatan pengaruh Indonesia dalam perdagangan dan pembentukan harga.

Namun, Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) mengingatkan bahwa menjadi penentu harga global bukan perkara membangun bursa semata. Faktor yang jauh lebih menentukan adalah apakah pasar internasional percaya terhadap mekanisme perdagangan yang dibangun Indonesia.

Ketua IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengatakan Indonesia memiliki modal fundamental untuk meningkatkan pengaruhnya di pasar komoditas global. Akan tetapi, kekuatan produksi harus diterjemahkan menjadi kekuatan pasar melalui ekosistem perdagangan dan rantai pasok yang kredibel.

“Indonesia bisa bergerak dari price taker menuju price influencer, bahkan suatu saat menjadi price maker. Tetapi syarat utamanya sederhana: pasar harus percaya,” ujar Beniadi.

Menurutnya, kepercayaan pasar tidak dapat dibangun hanya melalui regulasi atau kewajiban perdagangan. Bursa yang ingin menjadi referensi global harus memiliki transparansi, likuiditas, standar kualitas yang jelas, mekanisme transaksi yang efisien serta partisipasi aktif pembeli dan penjual internasional.

Hal tersebut menjadi tantangan penting bagi Indonesia. Reuters pada Kamis (3/9/2026) melaporkan bahwa ambisi Indonesia untuk membangun bursa baru yang dapat memperkuat pengaruh terhadap harga komoditas seperti sawit, nikel dan batu bara menghadapi risiko apabila mekanisme perdagangan dianggap terlalu memaksa atau kurang transparan. Kondisi tersebut berpotensi mendorong pembeli mencari pemasok alternatif.

Bukan Sekadar Membangun Bursa

IARSI menilai bursa komoditas harus dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekosistem rantai pasok nasional.

Beniadi mengatakan Indonesia perlu memastikan bahwa komoditas yang diperdagangkan memiliki sistem pasokan yang dapat diprediksi, kualitas yang konsisten, infrastruktur logistik yang memadai serta sistem traceability yang mampu memenuhi tuntutan pembeli internasional.

“Kalau kita ingin harga yang terbentuk di Indonesia menjadi referensi dunia, maka barangnya harus tersedia, kualitasnya jelas, pengirimannya pasti dan datanya dapat dipercaya. Bursa hanya salah satu bagian dari ekosistem,” katanya.

Menurut IARSI, tantangan Indonesia bukan hanya bagaimana menentukan harga, tetapi juga bagaimana memastikan harga tersebut diterima oleh pasar internasional.

Sebab, pembeli global tidak hanya melihat harga. Mereka juga memperhitungkan biaya logistik, waktu pengiriman, risiko pasokan, kualitas komoditas, kepastian kontrak, pembiayaan serta kemampuan melakukan lindung nilai.

Jika seluruh faktor tersebut lebih kompetitif di negara lain, pembeli tetap memiliki pilihan untuk mengalihkan sumber pasokan.

Pelajaran dari Bursa Sawit

Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam membangun perdagangan berjangka komoditas. Namun, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membangun bursa yang mampu menjadi referensi global bukan pekerjaan singkat.

Karena itu, IARSI meminta pemerintah menjadikan pengalaman perdagangan sawit sebagai pembelajaran dalam membangun bursa komoditas strategis yang lebih besar.

“Jangan sampai kita hanya memindahkan transaksi ke dalam negeri, tetapi belum mampu menarik transaksi global. Targetnya bukan sekadar transaksi terjadi di Indonesia, melainkan harga yang terbentuk di Indonesia diakui oleh pasar internasional,” ujar Beniadi.

Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, Sarjito, sebelumnya juga menekankan bahwa pembangunan BMKS diarahkan agar Indonesia secara bertahap bergerak dari price taker menjadi price influencer hingga price maker. Ia menegaskan bursa tersebut tidak harus langsung besar, tetapi harus dipercaya sejak transaksi pertama.

Rantai Pasok Menjadi Penentu

IARSI menilai ambisi menjadi price setter harus berjalan beriringan dengan penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Pertama, pemerintah perlu membangun sistem data komoditas nasional yang akurat. Data produksi, stok, kualitas, kapasitas pengolahan, kebutuhan domestik, ekspor dan pergerakan barang harus terintegrasi.

Kedua, infrastruktur logistik harus diperkuat. Pelabuhan, terminal komoditas, pergudangan, jaringan jalan, kereta api dan angkutan laut harus mampu menjamin pergerakan barang secara efisien.

Ketiga, Indonesia perlu memperkuat traceability dan standardisasi. Pembeli global semakin membutuhkan kepastian mengenai asal barang, proses produksi, keberlanjutan dan kepatuhan terhadap standar internasional.

Keempat, pasar domestik harus memiliki likuiditas yang cukup. Tanpa volume transaksi dan keterlibatan pelaku global, harga yang terbentuk di dalam negeri akan sulit menjadi benchmark internasional.

Jangan Sampai Ambisi Berbalik Risiko

IARSI mengingatkan pemerintah agar tidak mengejar ambisi menjadi pengendali harga dengan pendekatan yang justru dapat mengurangi fleksibilitas perdagangan.

Menurut Beniadi, semakin strategis sebuah bursa, semakin tinggi pula tuntutan terhadap transparansi dan tata kelolanya.

“Pasar global tidak bisa diperintah untuk percaya. Kepercayaan harus dibangun melalui konsistensi, transparansi dan kinerja,” tegasnya.

Ia menilai pemerintah juga harus membuka ruang bagi pelaku internasional untuk ikut bertransaksi dan memastikan mekanisme bursa tidak menciptakan hambatan baru bagi eksportir maupun importir.

Apalagi, Indonesia saat ini tengah memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis. Kementerian Perdagangan telah menerbitkan aturan mengenai ekspor batu bara, kelapa sawit dan paduan besi sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola, menjaga kebutuhan dalam negeri dan mendukung hilirisasi.

Menurut IARSI, kebijakan tersebut harus terintegrasi dengan strategi bursa komoditas agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

Dari Produsen Besar Menjadi Pusat Perdagangan

Jika berhasil, bursa komoditas strategis dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam perdagangan global.

Indonesia tidak lagi hanya memperoleh keuntungan dari menjual komoditas, tetapi juga dapat memperoleh manfaat dari aktivitas perdagangan, pembentukan harga, jasa keuangan, logistik, pergudangan, sertifikasi dan industri hilir.

Namun, perjalanan menuju posisi tersebut membutuhkan waktu.

“Indonesia punya peluang besar. Kita punya komoditas, pasar domestik, industri dan sumber daya. Tetapi untuk menjadi referensi global, semua itu harus disatukan dalam satu ekosistem rantai pasok yang dipercaya dunia,” kata Beniadi.

Karena itu, IARSI menilai ukuran keberhasilan bursa komoditas Indonesia nantinya bukan sekadar berapa banyak transaksi yang tercatat, melainkan apakah harga yang terbentuk mampu menjadi salah satu referensi internasional, apakah produsen memperoleh nilai tambah yang lebih besar, dan apakah posisi Indonesia dalam rantai pasok global benar-benar meningkat.

Indonesia boleh bercita-cita menjadi penentu harga komoditas dunia. Tetapi sebelum pasar mengikuti harga Indonesia, Indonesia harus terlebih dahulu membuktikan bahwa pasarnya layak dipercaya dunia.


Post: iarsi.org