foto: April 2026, permukiman padat penduduk di kawasan Kemayoran, Jakarta,- DKI Jakarta Jadi Provinsi Terpadat 2026, Kepadatan Jauh Lampaui Rata-rata Nasional


BEKASI — Pertumbuhan penduduk, aktivitas perdagangan, mobilitas komuter, serta meningkatnya kebutuhan distribusi barang membuat Jakarta membutuhkan sistem logistik perkotaan yang lebih terintegrasi. Di tengah keterbatasan lahan dan kepadatan lalu lintas, pembangunan hub logistik modern di Jakarta Utara dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari infrastruktur strategis ibu kota.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk DKI Jakarta pada 2026 tercatat sekitar 10,67 juta jiwa, dengan Jakarta Utara mencapai sekitar 1,82 juta jiwa. Angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan beban aktivitas harian Jakarta karena ibu kota juga melayani jutaan pekerja komuter dari wilayah Jabodetabek serta aktivitas perdagangan, industri, pemerintahan, jasa, restoran, perhotelan dan perdagangan elektronik.

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa logistik perkotaan tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai urusan pergudangan atau transportasi barang. Hub logistik harus diposisikan sebagai infrastruktur strategis yang menghubungkan pelabuhan, kawasan industri, pusat distribusi, pasar, dan konsumen dalam satu ekosistem rantai pasok.

Ketua IARSI Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT. menilai Jakarta membutuhkan perubahan pendekatan dari pola distribusi yang tersebar menuju sistem yang lebih terkonsolidasi dan berbasis data.

Menurutnya, keberadaan hub logistik modern dapat menjadi instrumen untuk mengurangi perjalanan kendaraan barang yang tidak efisien sekaligus mempercepat pergerakan komoditas dari pelabuhan menuju pusat konsumsi.

“Jakarta membutuhkan infrastruktur logistik yang bukan sekadar gudang. Hub modern harus menjadi titik konsolidasi, distribusi, pengendalian persediaan, dan integrasi data sehingga arus barang dapat bergerak lebih cepat dengan jumlah perjalanan kendaraan yang lebih efisien,” demikian pandangan IARSI.

Jakarta Utara Punya Posisi Strategis

Jakarta Utara dinilai memiliki keunggulan lokasi karena terhubung langsung dengan Pelabuhan Tanjung Priok, jaringan distribusi Jabodetabek, kawasan industri, serta pasar utama Jakarta. Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara juga menempatkan wilayah tersebut sebagai kawasan strategis bagi perdagangan, logistik, transportasi laut dan industri.

Data perekonomian Jakarta Utara semakin memperkuat alasan tersebut. Pada 2025, PDRB Jakarta Utara mencapai sekitar Rp713,97 triliun. Industri pengolahan menyumbang 29,12 persen, perdagangan 19,16 persen, sementara transportasi dan pergudangan menyumbang 5,87 persen. Ketiga sektor tersebut secara keseluruhan berkontribusi sekitar 54,15 persen terhadap struktur ekonomi Jakarta Utara.

Sektor transportasi dan pergudangan bahkan tumbuh 8,67 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jakarta Utara sebesar 4,92 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap kapasitas dan kualitas layanan logistik terus meningkat.

Namun, IARSI mengingatkan pembangunan hub tidak boleh sekadar mengejar penambahan kapasitas gudang.

Hub yang dibutuhkan Jakarta harus memiliki fungsi urban consolidation center, cross-docking, fulfillment, cold chain, distribusi cepat, reverse logistics, hingga fasilitas untuk menangani produk pangan, farmasi, barang konsumsi, produk industri dan perdagangan elektronik.

Jangan Sampai Hub Justru Menambah Kemacetan

Urgensi pembangunan hub logistik semakin terlihat dari persoalan lalu lintas angkutan barang di sekitar Tanjung Priok. Pada Juli 2026, kepadatan di Jalan Raya Cakung-Cilincing disebut berkaitan dengan ketidakseimbangan arus logistik di kawasan pelabuhan. Tingginya volume impor yang tidak diimbangi aktivitas ekspor menyebabkan penumpukan peti kemas di pelabuhan maupun depo dan berdampak pada antrean kendaraan truk.

Persoalan serupa juga mendorong penguatan berbagai skema operasional di Tanjung Priok. PT Jakarta International Container Terminal (JICT), misalnya, mengoptimalkan konsep dual move, yaitu memungkinkan kendaraan mengantarkan peti kemas ekspor sekaligus mengambil peti kemas impor dalam satu rangkaian kunjungan terminal. Skema tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pergerakan truk dan mengurangi kepadatan di sekitar pelabuhan.

Menurut IARSI, berbagai langkah tersebut perlu dilengkapi dengan desain jaringan logistik perkotaan yang lebih menyeluruh.

“Masalahnya bukan semata-mata jumlah truk, tetapi bagaimana barang dikonsolidasikan, kapan bergerak, dari mana berasal, ke mana tujuan akhirnya, dan fasilitas apa yang tersedia di sepanjang rantai distribusi,” ujar Beniadi dalam pandangan IARSI.

Karena itu, hub logistik harus dirancang berdasarkan data asal-tujuan barang, pola permintaan, waktu distribusi, kapasitas jalan, karakteristik komoditas, serta pola aktivitas pelabuhan.

Hub Harus Terintegrasi Digital

IARSI juga mendorong agar hub logistik Jakarta dibangun dengan sistem digital yang memungkinkan pemerintah dan pelaku usaha memperoleh visibilitas terhadap pergerakan barang.

Sistem tersebut dapat mencakup warehouse management system, transport management system, inventory visibility, digital booking, tracking kendaraan dan barang, serta pertukaran data antarpelaku rantai pasok.

Dengan integrasi tersebut, keberadaan hub tidak hanya berfungsi sebagai tempat transit barang, tetapi menjadi pusat pengendalian arus distribusi.

“Kalau hub dibangun tanpa integrasi data, kita hanya memindahkan masalah dari jalan ke gudang. Infrastruktur fisiknya harus berjalan bersama infrastruktur digital,” tegas IARSI.

Konsep tersebut juga penting untuk menjaga ketersediaan komoditas strategis. Produk pangan dan farmasi, misalnya, membutuhkan fasilitas cold chain dengan pengendalian suhu yang konsisten dari titik penyimpanan hingga distribusi terakhir.

Pemerintah Diminta Petakan Kebutuhan Sebelum Investasi

IARSI mendorong pemerintah melakukan pemetaan secara komprehensif sebelum menentukan lokasi, kapasitas dan model investasi hub logistik.

Pemetaan setidaknya mencakup asal dan tujuan barang, volume harian, waktu puncak distribusi, biaya logistik, pola perjalanan kendaraan, kebutuhan cold chain, kebutuhan e-commerce, serta potensi integrasi dengan transportasi laut, jalan raya dan jaringan distribusi Jabodetabek.

Hal ini penting agar pembangunan tidak menghasilkan fasilitas yang besar tetapi tingkat utilisasinya rendah.

Kajian mengenai hub logistik Jakarta Utara juga menekankan pentingnya produktivitas lahan karena wilayah tersebut menghadapi keterbatasan lahan, harga tanah yang tinggi, risiko kemacetan dan banjir rob. Konsep urban consolidation center dan fasilitas distribusi yang terintegrasi secara digital dinilai lebih sesuai dibandingkan sekadar pembangunan gudang konvensional.

Bukan Sekadar Proyek Properti

IARSI menegaskan bahwa pembangunan hub logistik Jakarta harus diperlakukan sebagai infrastruktur ekonomi, bukan semata-mata proyek properti pergudangan.

Keberhasilan hub seharusnya diukur dari seberapa besar fasilitas tersebut mampu memperpendek waktu distribusi, mengurangi perjalanan kendaraan kosong, menekan biaya transportasi, meningkatkan utilisasi armada, mengurangi kemacetan, serta menjaga ketersediaan barang.

Kebutuhan terhadap fasilitas logistik modern juga sejalan dengan kondisi pasar logistik Greater Jakarta. Data pasar pada kuartal I 2026 menunjukkan stok logistik modern telah melampaui 3,5 juta meter persegi dengan tingkat okupansi mendekati 98 persen. Permintaan kuat berasal antara lain dari perusahaan 3PL dan FMCG, sementara kebutuhan dari sektor otomotif dan kendaraan listrik juga meningkat.

Karena itu, IARSI menilai Jakarta tidak cukup hanya memperluas jalan atau menambah kapasitas gudang secara terpisah.

“Jakarta membutuhkan ekosistem logistik perkotaan. Hub modern harus menjadi simpul strategis yang menghubungkan pelabuhan, industri, distributor dan konsumen. Jika dirancang dengan benar, infrastrukturnya bukan hanya memperlancar barang, tetapi juga membantu menurunkan biaya ekonomi kota,” kata IARSI.

Dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa dan aktivitas ekonomi yang terus berkembang, Jakarta membutuhkan sistem distribusi yang mampu bekerja lebih cepat tanpa semakin membebani ruang jalan.

Hub logistik modern di Jakarta Utara, dengan demikian, bukan lagi sekadar pilihan investasi, melainkan bagian penting dari strategi menjaga ketahanan rantai pasok dan daya saing ekonomi ibu kota.


Post: iarsi.org