ilustrasi by: iarsi.org - AI


BEKASI - IARSI News: Gangguan operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 kembali membuka persoalan penting mengenai ketahanan jaringan logistik nasional. Gangguan tersebut memang telah berakhir dan operasional penerbangan kembali normal, tetapi dampaknya menunjukkan betapa besar ketergantungan arus perdagangan Indonesia terhadap satu simpul transportasi udara utama.

Pada saat gangguan terjadi, Supply Chain Indonesia (SCI) memperkirakan arus ekspor-impor melalui Soekarno-Hatta senilai sekitar US$168 juta berpotensi tertunda apabila gangguan berlangsung selama 48 jam. Nilai tersebut terdiri dari potensi penundaan ekspor sekitar US$54,23 juta dan impor sekitar US$113,83 juta. Angka tersebut merupakan estimasi nilai arus perdagangan yang tertunda, bukan kerugian langsung.

Data tersebut memperlihatkan bahwa gangguan pada satu simpul transportasi dapat segera merambat ke rantai pasok yang lebih luas. Barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu, termasuk komponen industri, produk tertentu untuk ekspor, serta barang impor yang dibutuhkan dunia usaha, dapat menghadapi penundaan ketika penerbangan dibatalkan, dialihkan atau mengalami perubahan jadwal.

SCI mencatat bahwa pada 2025 nilai ekspor nonmigas melalui Soekarno-Hatta mencapai sekitar US$9,90 miliar, sedangkan impor mencapai US$20,77 miliar. Dengan demikian, nilai indikatif arus perdagangan bruto melalui bandara tersebut mencapai sekitar US$30,67 miliar per tahun atau rata-rata US$84,03 juta per hari.

Bagi Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), kondisi tersebut perlu dilihat bukan sebagai persoalan penerbangan semata, melainkan sebagai bagian dari desain ketahanan rantai pasok nasional.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai Indonesia perlu mulai memandang jaringan transportasi sebagai sebuah sistem yang harus memiliki kapasitas cadangan ketika salah satu simpul utama mengalami gangguan.

“Gangguan pada satu bandara tidak boleh langsung berubah menjadi gangguan pada rantai pasok nasional. Indonesia membutuhkan jaringan logistik cadangan yang mampu mengambil alih sebagian fungsi ketika simpul utama terganggu,” ujar Beniadi dalam pandangan IARSI.

Menurutnya, konsep cadangan tersebut tidak berarti membangun fasilitas yang sepenuhnya berlebihan, tetapi menciptakan jaringan alternatif yang siap diaktifkan ketika terjadi bencana alam, cuaca ekstrem, gangguan ruang udara, kecelakaan, gangguan teknis maupun keadaan darurat lainnya.

Kementerian Perhubungan mencatat bahwa ketika abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap penerbangan, sejumlah bandara harus ditutup sementara demi keselamatan. Soekarno-Hatta dan beberapa bandara lainnya kemudian kembali dibuka pada 8 September 2026 setelah pemeriksaan dan pemantauan menunjukkan kondisi yang memungkinkan operasional penerbangan dilanjutkan.

Kemenhub menyebut bahwa setelah dibuka kembali, operasional penerbangan berjalan normal. Pada 8 September saja, Soekarno-Hatta mencatat 875 penerbangan, sedangkan pada 9 September dijadwalkan 966 penerbangan dengan estimasi 131.495 penumpang. Pemerintah tetap melakukan pemantauan bersama BMKG, PVMBG, AirNav Indonesia, operator bandara dan maskapai.

Namun, bagi sektor logistik, persoalan utamanya bukan hanya berapa lama sebuah bandara ditutup. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa cepat arus barang dapat dialihkan ketika simpul utama tidak tersedia.

IARSI melihat Indonesia perlu memperkuat konektivitas antarmoda sehingga kargo udara yang mengalami gangguan dapat dialihkan sesuai karakteristik barang melalui pelabuhan, bandara alternatif, kereta api, maupun angkutan jalan.

“Yang dibutuhkan adalah desain jaringan, bukan sekadar fasilitas. Harus ada pemetaan barang mana yang bisa dialihkan melalui laut, mana yang dapat menggunakan bandara alternatif, mana yang membutuhkan moda darat atau kereta api, serta berapa kapasitas cadangan yang tersedia,” kata Beniadi.

Konsep tersebut juga perlu diikuti dengan penguatan pusat distribusi regional, pergudangan, cold chain dan sistem informasi logistik. Tanpa kapasitas penyimpanan dan sistem distribusi yang memadai, pengalihan kargo dari satu simpul ke simpul lain justru dapat menciptakan penumpukan baru.

BMKG sendiri telah melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan erupsi Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Pada periode awal erupsi, BMKG menerbitkan informasi meteorologi penerbangan untuk mendukung keselamatan navigasi udara.

Peristiwa tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa resiliensi rantai pasok tidak dapat dipisahkan dari sistem peringatan dini. Data cuaca, aktivitas vulkanik, kondisi ruang udara, kapasitas bandara dan pergerakan kargo harus dapat diterjemahkan menjadi keputusan logistik secara cepat.

IARSI mendorong agar pemerintah bersama pelaku usaha menyusun peta simpul kritis logistik nasional, mulai dari bandara, pelabuhan, jalan tol, jalur kereta, gudang hingga pusat distribusi. Setiap simpul penting perlu memiliki skenario pengalihan apabila mengalami gangguan.

“Indonesia merupakan negara kepulauan dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Karena itu, rantai pasok tidak boleh dirancang hanya berdasarkan kondisi normal. Kita harus menghitung skenario ketika satu pelabuhan tutup, satu bandara berhenti beroperasi, jalur darat terputus atau sebuah kawasan industri kehilangan akses distribusi,” ujar Beniadi.

Bagi dunia usaha, sistem tersebut juga penting untuk menjaga kontinuitas produksi. Gangguan transportasi dapat menyebabkan keterlambatan bahan baku, meningkatnya persediaan pengaman, perubahan jadwal produksi, biaya pengiriman tambahan dan pada akhirnya meningkatkan biaya logistik.

Karena itu, pengalaman gangguan Soekarno-Hatta tidak seharusnya berhenti sebagai catatan mengenai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Peristiwa tersebut dapat menjadi momentum untuk menguji seberapa siap Indonesia menghadapi gangguan pada simpul-simpul strategis perdagangan.

Dengan semakin tingginya kebutuhan Indonesia terhadap perdagangan internasional, industri manufaktur, ekspor produk bernilai tambah dan distribusi antardaerah, ketergantungan pada satu jalur utama menjadi risiko yang perlu dikelola.

IARSI menilai jaringan logistik masa depan harus memiliki prinsip redundancy atau kapasitas alternatif, integrasi antarmoda, pertukaran data secara real-time serta prosedur pengalihan barang yang dapat langsung diaktifkan ketika terjadi keadaan darurat.

“Ketahanan rantai pasok bukan berarti tidak pernah mengalami gangguan. Ketahanan berarti ketika gangguan terjadi, sistem masih mampu bergerak dan barang penting tetap sampai ke tujuan,” kata Beniadi.

Dengan demikian, peristiwa gangguan Soekarno-Hatta memberikan satu pesan strategis bagi perekonomian Indonesia: nilai perdagangan yang besar membutuhkan jaringan logistik yang juga besar, terintegrasi dan memiliki jalur cadangan. Tanpa itu, gangguan pada satu simpul dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan bagi industri, perdagangan dan distribusi nasional.


post: iarsi.org