BEKASI- IARSI News: Banjir bandang yang kembali menerjang Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu, 10 Oktober 2026, menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan bencana tidak boleh hanya berfokus pada evakuasi ketika keadaan darurat terjadi. Ketersediaan logistik, kesiapan jalur distribusi, serta kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat harus dipersiapkan jauh sebelum bencana datang.
Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menyampaikan keprihatinan atas bencana yang kembali mengancam keselamatan dan mengganggu kehidupan masyarakat. Peristiwa yang berulang ini perlu menjadi perhatian bersama, sekaligus momentum untuk memperkuat mitigasi, meningkatkan kesiapsiagaan, dan membangun sistem logistik yang mampu bertahan ketika infrastruktur maupun akses transportasi terganggu.
Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., turut menyampaikan keprihatinan atas musibah yang kembali terjadi. Ia berharap masyarakat yang terdampak diberikan keselamatan dan kekuatan dalam menghadapi situasi sulit, serta proses evakuasi, penyaluran bantuan, dan pemulihan dapat berjalan dengan baik.
Dari perspektif IARSI, bencana yang terjadi berulang tidak hanya menuntut respons cepat ketika keadaan darurat berlangsung, tetapi juga evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan daerah. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah kemampuan memastikan makanan, air bersih, obat-obatan, perlengkapan pengungsian, dan kebutuhan pokok lainnya tetap tersedia ketika jalur distribusi normal mengalami gangguan.
Bencana Berulang Menguji Ketahanan Logistik Daerah
Banjir bandang dapat menimbulkan dampak berlapis bagi masyarakat. Selain ancaman terhadap keselamatan jiwa dan kerusakan rumah, bencana juga berpotensi menghambat mobilitas penduduk, mengganggu aktivitas perdagangan, serta memutus akses menuju fasilitas kesehatan dan pusat pemenuhan kebutuhan pokok.
Dalam situasi tertentu, jalan yang tidak dapat dilalui, jembatan yang rusak, atau kawasan permukiman yang terisolasi dapat memperlambat pengiriman bantuan. Persediaan yang tersedia di gudang belum tentu dapat segera menjangkau warga apabila sistem distribusinya tidak memiliki jalur alternatif dan mekanisme tanggap darurat yang jelas.
Karena itu, ketahanan logistik perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi penanggulangan bencana. Sistem ini tidak sekadar berkaitan dengan jumlah bantuan yang tersedia, tetapi juga mencakup lokasi penyimpanan, kesiapan transportasi, keakuratan data kebutuhan, koordinasi petugas, serta kecepatan distribusi hingga bantuan diterima oleh masyarakat.
IARSI memandang bahwa pengalaman dari setiap kejadian bencana perlu dimanfaatkan untuk memperbaiki perencanaan. Daerah rawan banjir memerlukan pemetaan risiko yang menghubungkan wilayah terdampak, jaringan jalan, fasilitas kesehatan, lokasi pengungsian, gudang logistik, dan titik distribusi bantuan.
Dengan pemetaan tersebut, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat mengidentifikasi lokasi yang berpotensi terisolasi serta menentukan jalur alternatif sebelum kondisi darurat terjadi. Langkah ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada satu akses transportasi yang dapat terganggu ketika banjir meluas.
Stok Penyangga Harus Tersedia Sebelum Bencana
Salah satu pelajaran penting dari bencana adalah perlunya persediaan logistik darurat yang ditempatkan secara strategis dan dikelola secara berkelanjutan. Ketersediaan stok penyangga dapat mempercepat penanganan awal, terutama ketika pengiriman dari wilayah lain membutuhkan waktu lebih lama.
Persediaan tersebut dapat mencakup makanan siap konsumsi, air minum, obat-obatan dasar, perlengkapan kebersihan, selimut, tenda, serta peralatan pendukung evakuasi. Jumlah dan jenisnya perlu disesuaikan dengan jumlah penduduk, karakteristik wilayah, tingkat risiko bencana, dan perkiraan kebutuhan selama masa tanggap darurat.
Namun, keberadaan gudang saja tidak cukup. Pengelolaannya harus memperhatikan rotasi persediaan, masa kedaluwarsa, pencatatan stok, keamanan lokasi, dan kesiapan sarana pengangkutan. Sistem informasi yang diperbarui secara berkala juga dibutuhkan agar petugas dapat mengetahui barang yang tersedia, kebutuhan yang belum terpenuhi, dan lokasi yang harus diprioritaskan.
IARSI mendorong agar pemerintah daerah bersama lembaga penanggulangan bencana dan pelaku usaha mengevaluasi kebutuhan gudang darurat serta titik penyimpanan sementara di kawasan yang aman. Perencanaan tersebut harus disertai prosedur yang jelas mengenai kapan stok dilepaskan, siapa yang mengoordinasikan pengiriman, dan bagaimana bantuan disalurkan kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, dan Masyarakat
Penanggulangan bencana membutuhkan koordinasi lintas sektor yang telah dibangun sebelum keadaan darurat. Pemerintah pusat dan daerah memiliki peran dalam menetapkan kebijakan, mengoordinasikan penanganan, dan memastikan bantuan menjangkau warga. Sementara itu, perusahaan transportasi, pengelola pergudangan, distributor pangan, dan penyedia jasa logistik dapat berkontribusi melalui kapasitas distribusi, kendaraan, fasilitas penyimpanan, serta dukungan operasional sesuai mekanisme yang disepakati.
Kerja sama tersebut sebaiknya dituangkan dalam prosedur operasional yang terukur. Setiap pihak perlu mengetahui tugas, jalur komunikasi, sumber persediaan, mekanisme mobilisasi kendaraan, dan sistem pelaporan kebutuhan. Latihan bersama secara berkala juga penting agar koordinasi tidak baru dibentuk ketika bencana telah meluas.
Di sisi lain, keterlibatan masyarakat memiliki peran penting, terutama dalam penyampaian informasi awal, pemahaman jalur evakuasi, dan pendataan kebutuhan kelompok rentan. Informasi dari warga dapat membantu petugas mengenali lokasi yang sulit dijangkau serta menentukan prioritas penyaluran bantuan.
Penggunaan sistem informasi terpadu dapat memperkuat koordinasi tersebut. Data mengenai jumlah pengungsi, kondisi akses, kebutuhan pangan, ketersediaan obat-obatan, dan posisi persediaan perlu diperbarui secara berkala. Dengan demikian, penyaluran bantuan dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan aktual dan mengurangi risiko penumpukan bantuan di satu lokasi sementara wilayah lain masih kekurangan.
Mitigasi Harus Berjalan Seiring dengan Kesiapan Logistik
IARSI menilai bahwa penguatan logistik tidak dapat dipisahkan dari upaya mengurangi risiko bencana. Persediaan bantuan dan jalur distribusi alternatif memang penting, tetapi keduanya tidak menggantikan kebutuhan untuk memperbaiki tata kelola wilayah rawan banjir.
Evaluasi terhadap kondisi sungai, drainase, daerah resapan air, tata ruang, serta infrastruktur pengendali banjir perlu dilakukan oleh instansi berwenang berdasarkan kajian teknis. Sistem peringatan dini juga harus mampu menyampaikan informasi secara cepat dan mudah dipahami agar masyarakat mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri dan mengamankan kebutuhan penting.
Apabila suatu kawasan mengalami banjir berulang, evaluasi tidak sehar
www.iarsi.org
