BEKASI, IARSI News, 19 Oktober 2026 — “Ketua Umum Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI), Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., mengapresiasi capaian ekspor PT Bio Farma (Persero) yang menembus lebih dari Rp10 triliun secara kumulatif selama periode 2021–2025.
"Capaian ekspor Bio Farma sebagai bukti bahwa industri kesehatan Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar global. Ke depan, keberhasilan ini perlu diperkuat dengan kemandirian bahan baku, pengembangan pemasok lokal, penguasaan teknologi, dan sistem distribusi yang andal. Dengan demikian, peningkatan ekspor tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga memperkuat ketahanan kesehatan nasional.” Ujar Beniadi Setiawan.
Beniadi menilai capaian tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan global. Keberhasilan ekspor perlu diikuti peningkatan kapasitas industri pendukung, penguatan pemasok domestik, serta sistem pengadaan dan distribusi yang mampu menjaga ketersediaan produk kesehatan secara berkelanjutan.
dalam keterangan resmi Bio Farma, perusahaan tersebut kembali meraih penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Pemanfaat Free Trade Agreement (FTA) dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD, Tangerang, pada 14 Oktober 2026. Penghargaan tersebut menjadi yang ke-12 bagi Bio Farma sejak 2010.
Ekspor Farmasi Membuka Peluang Pasar Global
Menurut data yang dipublikasikan Bio Farma, produk vaksin perusahaan telah digunakan di lebih dari 150 negara. Sejak memasuki pasar internasional pada 1997, Bio Farma telah mengekspor lebih dari 90 miliar dosis vaksin. Perusahaan juga melaporkan kapasitas produksi mencapai 3,1 miliar dosis per tahun serta memiliki 20 produk dengan prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Capaian tersebut menunjukkan bahwa industri farmasi Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok kesehatan dunia. Namun, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi dan permintaan pasar. Kepastian bahan baku, konsistensi mutu, kepatuhan terhadap regulasi negara tujuan, dan keandalan pengiriman juga menjadi faktor penting.
Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, sebagaimana dikutip menyampaikan bahwa penghargaan tersebut menjadi dorongan untuk memperkuat daya saing produk kesehatan Indonesia.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Bio Farma untuk terus memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Melalui optimalisasi pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA), kami berupaya membuka peluang pasar yang lebih luas, memperkuat kemitraan strategis, serta meningkatkan kontribusi ekspor produk kesehatan Indonesia,” ujar Fitri
Pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas dapat membantu eksportir memperluas akses pasar sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, manfaatnya akan lebih optimal apabila didukung kesiapan industri dari hulu ke hilir, termasuk kepastian pasokan bahan baku, efisiensi produksi, dan kemampuan memenuhi jadwal pengiriman.
Ketahanan Bahan Baku Menjadi Tantangan
Dalam perspektif rantai pasok, salah satu aspek yang perlu diperhatikan industri farmasi adalah ketergantungan terhadap bahan baku, bahan penolong, peralatan produksi, dan teknologi tertentu dari luar negeri.
Ketergantungan tersebut tidak dapat dihilangkan secara instan. Karena itu, strategi yang diperlukan mencakup diversifikasi pemasok, pengembangan industri pendukung dalam negeri, peningkatan riset, serta kerja sama alih teknologi yang terukur.
Langkah ini penting untuk mengantisipasi gangguan perdagangan internasional, perubahan kebijakan negara pemasok, keterlambatan pengiriman, maupun kenaikan biaya transportasi yang berpotensi memengaruhi proses produksi.
Bagi IARSI, penguatan rantai pasok farmasi harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi nasional. Peningkatan ekspor perlu memberikan manfaat yang lebih luas bagi ekosistem industri, termasuk perusahaan pemasok bahan pendukung, penyedia jasa logistik, lembaga penelitian, dan pelaku usaha lokal.
Rantai Dingin Menentukan Mutu Distribusi Vaksin
Selain pengadaan dan produksi, distribusi merupakan komponen penting dalam rantai pasok farmasi. Vaksin tertentu membutuhkan sistem rantai dingin atau cold chain untuk mempertahankan suhu penyimpanan sesuai karakteristik produknya.
Untuk sejumlah vaksin, suhu penyimpanan yang dipersyaratkan berada pada kisaran 2–8 derajat Celsius, sementara vaksin tertentu memerlukan suhu yang lebih rendah. Karena itu, pengiriman membutuhkan fasilitas penyimpanan yang sesuai, pemantauan suhu, prosedur penanganan terstandar, serta koordinasi antara produsen, penyedia transportasi, distributor, dan fasilitas kesehatan.
Dalam kegiatan ekspor, pengendalian suhu harus dipertahankan selama perjalanan, termasuk ketika terjadi perpindahan moda transportasi, pemeriksaan kepabeanan, atau penundaan di pelabuhan dan bandara. Kegagalan menjaga kondisi penyimpanan dapat memengaruhi mutu produk dan menimbulkan kerugian.
Penguatan infrastruktur logistik berstandar, teknologi pemantauan, dan kompetensi sumber daya manusia karena itu menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing ekspor farmasi Indonesia.
BPOM dan Standar Mutu Produk Kesehatan
Penguatan industri farmasi juga memerlukan pengawasan regulator. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berperan memastikan produk memenuhi ketentuan mutu, keamanan, dan khasiat sesuai peraturan yang berlaku.
Kepatuhan terhadap standar nasional dan internasional perlu terintegrasi dalam seluruh proses, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, pengujian, penyimpanan, hingga pengiriman. Hal ini semakin penting ketika produsen memperluas pasar ekspor dan mengembangkan produk baru.
Kolaborasi penelitian, transfer teknologi, dan pengembangan kemampuan manufaktur dalam negeri juga perlu diperkuat agar Indonesia dapat meningkatkan penguasaan teknologi serta mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan produk kesehatan tertentu.
Ekspor Harus Memperkuat Kemandirian Kesehatan Nasional
Bio Farma terus mengembangkan produk vaksin melalui kolaborasi riset dan teknologi. Dalam keterangan resmi perusahaan, Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat produksi dalam negeri yang telah memperoleh persetujuan pemasaran dari BPOM. Sementara itu, Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi dengan Murdoch Children's Research Institute (MCRI) Australia, memperoleh nomor izin edar BPOM pada 2 September 2026.
Pengembangan tersebut memperlihatkan pentingnya menghubungkan riset, teknologi, produksi, dan kesiapan pasokan. Inovasi produk akan memberikan manfaat lebih luas apabila didukung kapasitas manufaktur yang memadai, ketersediaan bahan pendukung, dan sistem distribusi yang dapat menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan.
IARSI memandang keberhasilan ekspor farmasi harus berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan kesehatan dalam negeri. Ketersediaan produk kesehatan yang terjamin membantu menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan, sedangkan kemampuan ekspor membuka peluang peningkatan nilai tambah industri dan kontribusi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan dunia.
Ke depan, pemerintah, industri, lembaga riset, regulator, dan penyedia jasa logistik perlu memperkuat koordinasi agar pengembangan industri farmasi tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi. Penguatan harus mencakup ketahanan pasokan, efisiensi distribusi, pengembangan pemasok lokal, dan perluasan pasar internasional.
Dengan rantai pasok yang tangguh dan terintegrasi, Indonesia berpeluang meningkatkan daya saing industri farmasi sekaligus memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional.
www.iarsi.org
