Ilutrasi Angkutan BBM via Kereta Api 


BEKASI - IARSI News: Penguatan angkutan bahan bakar minyak (BBM) melalui kereta api dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan efisiensi logistik nasional. Di tengah kebutuhan energi yang menopang transportasi, industri, pertanian, perdagangan, hingga aktivitas masyarakat, keandalan distribusi menjadi faktor penting untuk memastikan pasokan tersedia tepat waktu dan menjangkau wilayah yang membutuhkan.

Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) memandang peningkatan peran kereta api dalam mengangkut BBM sebagai perkembangan positif bagi sistem logistik nasional. Moda transportasi berbasis rel memiliki potensi untuk mengangkut energi dalam volume besar, menggunakan jadwal perjalanan terencana, serta mengurangi ketergantungan pada distribusi melalui jalan raya untuk rute-rute yang dapat dilayani secara efektif oleh jaringan kereta api.

menurut data PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan bahwa angkutan BBM melalui kereta api mencapai 2.036.049 ton sepanjang Januari–September 2026, meningkat 3,92 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yaitu sekitar 1.959.161 ton. Volume tersebut setara dengan rata-rata sekitar 7.458 ton BBM per hari. Capaian ini memperlihatkan besarnya peran transportasi rel dalam mendukung rantai pasok energi di Indonesia.

Kereta api memperkuat jalur distribusi energi

Peningkatan volume angkutan BBM tersebut menunjukkan bahwa kereta api dapat menjadi bagian penting dari strategi distribusi energi yang lebih terintegrasi. Dalam praktiknya, KAI bekerja sama dengan Pertamina Group untuk mengangkut berbagai produk BBM, termasuk Pertalite, Pertamax, dan Bio Solar, menggunakan gerbong ketel yang dirancang untuk pengangkutan cairan.

Kelebihan moda ini terletak pada kapasitas angkut yang relatif besar dalam satu rangkaian, jadwal yang dapat direncanakan, serta kemampuannya menghubungkan pusat pasokan dengan terminal distribusi di sejumlah wilayah. Apabila didukung fasilitas bongkar muat, penyimpanan, dan angkutan lanjutan yang memadai, kereta api dapat membantu memperkuat kesinambungan pasokan energi sekaligus mengurangi beban angkutan berat di jalan raya.

Namun, peningkatan volume angkutan tidak otomatis menjamin seluruh wilayah memperoleh pasokan yang merata. Keberhasilan distribusi tetap bergantung pada keterhubungan antara terminal BBM, jaringan rel, stasiun bongkar muat, depo penyimpanan, dan armada pengiriman tahap akhir. Karena itu, pengembangan angkutan BBM berbasis rel perlu ditempatkan dalam perencanaan rantai pasok energi secara menyeluruh.

IARSI: ketahanan energi tidak berhenti pada ketersediaan BBM

Dalam perspektif rantai pasok, ketahanan energi tidak cukup diukur dari besarnya produksi atau ketersediaan stok. Energi harus dapat dipindahkan dari titik pasok menuju wilayah konsumsi secara aman, efisien, terukur, dan berkelanjutan. Keterlambatan pada satu simpul distribusi dapat berdampak pada transportasi barang, biaya produksi, kegiatan industri, serta harga barang yang dibayar masyarakat.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menyampaikan bahwa penguatan angkutan BBM melalui kereta api patut diapresiasi karena membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi distribusi energi. Langkah berikutnya adalah memastikan manfaat tersebut menjangkau pusat-pusat industri, kawasan pertanian, pelabuhan, wilayah pertumbuhan ekonomi, serta daerah yang rentan mengalami gangguan pasokan.

Beniadi juga menilai bahwa keberhasilan distribusi energi perlu diukur melalui indikator yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan dunia usaha, seperti ketepatan waktu pengiriman, keandalan pasokan, efisiensi biaya logistik, keselamatan pengangkutan, serta kemampuan sistem menghadapi gangguan operasional dan bencana.

KAI menegaskan hubungan distribusi BBM dengan aktivitas masyarakat

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba. yang menekankan bahwa kelancaran distribusi BBM berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari perjalanan menuju tempat kerja, distribusi pangan dan barang kebutuhan, kegiatan pertanian, aktivitas usaha, hingga pelayanan publik.

Anne juga menjelaskan bahwa layanan kereta api membantu mengalirkan BBM dari pusat pasokan menuju daerah distribusi secara terjadwal. Menurutnya, kapasitas angkut yang besar dan pola perjalanan terencana dapat mendukung kesinambungan pasokan antardaerah sekaligus mengurangi beban distribusi logistik melalui jalan raya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa angkutan BBM bukan sekadar aktivitas operasional perusahaan transportasi. Keandalan layanan ini memiliki hubungan dengan produktivitas ekonomi, mobilitas penduduk, dan kelancaran distribusi barang kebutuhan sehari-hari.

Sumatera Utara memperlihatkan pentingnya distribusi regional

Pentingnya distribusi energi berbasis rel juga terlihat di Sumatera Utara. bahwa KAI Divisi Regional I Sumatera Utara mengangkut 208.070 ton BBM sepanjang semester I 2026, meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebanyak 185.444 ton.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, menyampaikan bahwa kelancaran pasokan BBM melalui kereta api berperan dalam menjaga stabilitas dan aktivitas perekonomian daerah. Distribusi tersebut dilayani melalui perjalanan dari Stasiun Labuan menuju wilayah tujuan, termasuk Kisaran dan Siantar.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa penguatan logistik energi perlu memperhatikan karakteristik setiap wilayah. Kebutuhan industri, kepadatan penduduk, jarak antarpusat distribusi, kondisi jalan, serta ketersediaan fasilitas penyimpanan berbeda-beda. Oleh karena itu, strategi nasional perlu diterjemahkan menjadi perencanaan distribusi regional yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

BPH Migas: pengawasan pasokan tetap diperlukan

Dari sisi regulasi, BPH Migas mempunyai peran dalam pengawasan ketersediaan dan distribusi BBM. Dalam kegiatan pemantauan kesiapan pasokan energi di Kilang Balikpapan pada Februari 2026, anggota Komite BPH Migas, Erika Retnowati, menjelaskan bahwa pengawasan dilakukan untuk memastikan kesiapan pasokan energi nasional, terutama menghadapi periode peningkatan konsumsi.

Peran pengawasan ini penting karena kelancaran distribusi tidak hanya bergantung pada sarana transportasi. Ketersediaan stok di titik pasok, kesiapan terminal, kepatuhan terhadap ketentuan distribusi, dan koordinasi antarpelaku juga menentukan apakah BBM dapat sampai ke konsumen secara tepat waktu.

Dalam konteks angkutan kereta api, koordinasi antara operator, pemasok, pengelola terminal, dan regulator perlu terus diperkuat. Perencanaan volume angkutan harus selaras dengan kebutuhan aktual daerah agar tidak terjadi ketimpangan antara ketersediaan di pusat pasok dan kebutuhan di wilayah tujuan.

Tantangan berikutnya: memperluas jangkauan dan menjaga efisiensi

Meski memiliki sejumlah keunggulan, angkutan BBM melalui kereta api tetap menghadapi tantangan. Tidak semua daerah terhubung langsung dengan jaringan rel. Pada sejumlah rute, BBM masih memerlukan pengangkutan lanjutan menggunakan mobil tangki dari terminal menuju SPBU, kawasan industri, atau konsumen lainnya.

Situasi tersebut membuat integrasi antarmoda menjadi kebutuhan penting. Kereta api perlu berfungsi sebagai bagian dari sistem distribusi yang terhubung dengan pelabuhan, jalan raya, depo, gudang, dan fasilitas pengisian. Tanpa koordinasi tersebut, penghematan pada satu moda berpotensi berkurang akibat biaya tambahan pada tahapan distribusi berikutnya.

Selain itu, keselamatan pengangkutan BBM harus tetap menjadi prioritas. Pemeriksaan gerbong ketel, kesiapan lokomotif, kondisi jalur, prosedur pengisian dan pembongkaran, serta penanganan keadaan darurat perlu dijalankan secara konsisten. Keandalan distribusi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keselamatan pekerja, masyarakat, maupun lingkungan.

IARSI berpandangan bahwa pengembangan angkutan BBM melalui kereta api perlu disertai evaluasi berkala terhadap biaya per ton, ketepatan waktu, kapasitas terminal, tingkat gangguan operasional, serta jangkauan layanan. Evaluasi tersebut akan membantu pemerintah dan pelaku usaha menentukan rute yang layak diperluas dan wilayah yang masih memerlukan solusi distribusi alternatif.

Penguatan logistik energi untuk ketahanan nasional

Peningkatan angkutan BBM melalui kereta api merupakan modal penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia. Namun, capaian volume angkutan perlu diikuti peningkatan kualitas jaringan distribusi agar manfaatnya tidak berhenti pada pusat-pusat ekonomi yang telah terhubung dengan baik.

Bagi masyarakat, sistem distribusi yang andal berarti risiko keterlambatan pasokan dapat ditekan. Bagi dunia usaha, keandalan energi membantu menjaga operasional, biaya produksi, dan kelancaran pengiriman barang. Sementara bagi pemerintah, integrasi transportasi energi dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan nasional terhadap gangguan pasokan maupun perubahan kondisi pasar energi.

IARSI mengapresiasi penguatan peran kereta api dalam distribusi BBM dan mendorong agar langkah tersebut diteruskan melalui integrasi lintas moda, peningkatan fasilitas distribusi regional, serta koordinasi yang lebih erat antara pemerintah, KAI, Pertamina Group, BPH Migas, dan pemangku kepentingan terkait.

Pesan utamanya jelas: ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak BBM tersedia, tetapi juga oleh seberapa andal Indonesia mengirimkannya ke wilayah yang membutuhkan. Dengan rantai pasok energi yang terintegrasi, efisien, dan tangguh, distribusi BBM dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat, dunia usaha, dan perekonomian nasional.


www.iarsi.org