Presiden Prabowo Subianto menerima Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Kepala BRIN melaporkan perkembangan sejumlah riset strategis, mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pengembangan energi alternatif dari limbah sawit


BEKASI, IARSI News, 28 Oktober 2026 — Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) mendukung pengembangan pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi energi alternatif sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan nilai tambah industri, dan mendorong ekonomi sirkular. Dukungan tersebut relevan dengan laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi pengolahan limbah sawit menjadi biogas dan listrik yang diperkirakan mencapai 3,9 gigawatt (GW).

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai bahwa pemanfaatan limbah industri perkebunan harus dikembangkan melalui sistem rantai pasok yang terintegrasi, mulai dari sumber bahan baku, pengumpulan limbah, pengolahan, konversi energi, hingga distribusi kepada pengguna akhir.

“Kami mendukung langkah pemerintah dalam mendorong pemanfaatan limbah sawit menjadi energi alternatif. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi mengubah limbah menjadi energi, melainkan juga oleh kesiapan rantai pasok dari hulu hingga hilir. Ketersediaan bahan baku, infrastruktur pengolahan, kepastian investasi, efisiensi transportasi, dan jaringan distribusi harus dirancang sebagai satu kesatuan agar potensi tersebut memberikan manfaat nyata bagi industri dan masyarakat.” ujar Beniadi

Potensi 3,9 GW Perlu Ditindaklanjuti dengan Implementasi Terukur

Dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 27 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto menerima Kepala BRIN Arif Satria yang melaporkan perkembangan sejumlah riset strategis. Salah satu pembahasan tersebut adalah pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif.

Menurut laporan BRIN, potensi energi tersebut berasal dari pemanfaatan limbah cair pengolahan kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) serta tandan kosong kelapa sawit. Jika dikonversi menjadi listrik, kedua jenis limbah itu diperkirakan berpotensi menghasilkan kapasitas sekitar 3,9 GW.

Potensi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan sumber energi berbasis hasil samping industri domestik. Di samping menghasilkan nilai ekonomi tambahan, pengolahan POME menjadi biogas berpotensi membantu mengendalikan emisi metana yang dapat timbul apabila limbah organik tidak dikelola secara memadai.

Namun, angka potensi tersebut perlu dibedakan dari kapasitas pembangkit yang telah terpasang dan listrik yang sudah diproduksi. Realisasi pemanfaatannya bergantung pada ketersediaan teknologi, kelayakan investasi, kontinuitas bahan baku, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan menghubungkan fasilitas produksi energi dengan jaringan atau konsumen.

Karena itu, pengembangan energi dari limbah sawit perlu disertai peta jalan implementasi yang menjelaskan lokasi potensial, kebutuhan investasi, kapasitas pengolahan, target produksi, dan mekanisme penyaluran energi.

IARSI: Rantai Pasok Harus Dibangun dari Perkebunan hingga Pengguna Energi

Dari perspektif manajemen rantai pasok, tantangan utama pemanfaatan limbah sawit adalah memastikan bahwa bahan baku tersedia secara berkelanjutan dan dapat diolah secara ekonomis. Limbah yang berpotensi menghasilkan energi tersebar mengikuti lokasi perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit. Oleh sebab itu, pemetaan sumber limbah menjadi langkah awal yang penting.

Pabrik kelapa sawit dapat menjadi titik pengumpulan dan pengolahan limbah, sedangkan fasilitas biogas atau pembangkit listrik berfungsi mengubah bahan baku tersebut menjadi energi yang bernilai tambah. Integrasi antara kedua kegiatan ini perlu dirancang dengan mempertimbangkan jarak, kapasitas pengolahan, kebutuhan energi internal pabrik, serta akses ke jaringan listrik.

IARSI memandang bahwa sistem pengadaan dan logistik harus dirancang sejak tahap perencanaan proyek. Pengangkutan limbah padat seperti tandan kosong sawit membutuhkan perhitungan biaya dan kapasitas angkut. Sementara itu, pengolahan limbah cair seperti POME perlu mempertimbangkan karakteristik bahan, kebutuhan instalasi, dan penanganan lingkungan.

Jika lokasi bahan baku terlalu jauh dari fasilitas pengolahan, biaya pengangkutan dapat mengurangi kelayakan ekonomi proyek. Sebaliknya, integrasi fasilitas pengolahan limbah dengan pabrik sawit berpotensi mengurangi kebutuhan transportasi dan mempercepat pemanfaatan bahan baku.

Oleh karena itu, keberhasilan program ini perlu didukung oleh data yang terintegrasi mengenai lokasi sumber limbah, volume yang tersedia, kapasitas pengolahan, kebutuhan energi, dan calon pengguna. Data tersebut dapat menjadi dasar pengambilan keputusan investasi sekaligus membantu pemerintah menentukan wilayah yang paling sesuai untuk pengembangan proyek percontohan.

Peluang Mengurangi Ketergantungan pada Energi Fosil

Pemanfaatan limbah sawit menjadi energi juga berpotensi memperluas pilihan sumber energi bagi industri. Pabrik pengolahan sawit, kawasan industri, dan fasilitas produksi yang membutuhkan pasokan energi berkelanjutan dapat menjadi bagian dari ekosistem pemanfaatan energi berbasis limbah, sepanjang kesesuaian teknis dan keekonomiannya dapat dibuktikan.

Selain itu, pengembangan energi alternatif dari sumber domestik dapat membuka peluang usaha baru bagi penyedia teknologi, perusahaan rekayasa, operator fasilitas pengolahan, penyedia jasa logistik, serta pelaku usaha lokal di sekitar perkebunan dan pabrik.

Meski demikian, pemanfaatan energi berbasis limbah tidak otomatis menggantikan kebutuhan energi fosil secara keseluruhan. Kontribusinya harus dihitung berdasarkan energi yang benar-benar dihasilkan, tingkat keandalan operasi, kebutuhan energi untuk menjalankan fasilitas, dan kemampuan energi tersebut memenuhi kebutuhan konsumen.

Bagi IARSI, indikator keberhasilan tidak cukup berhenti pada besarnya potensi energi yang diumumkan. Evaluasi perlu mencakup kapasitas terpasang, produksi listrik aktual, biaya energi per unit, tingkat pemanfaatan limbah, pengurangan emisi yang terukur, serta manfaat ekonomi yang diterima masyarakat dan pelaku usaha.

Kolaborasi Pemerintah, Riset, dan Industri Menjadi Kunci

Pengembangan energi dari limbah sawit memerlukan kolaborasi lintas sektor. BRIN dapat berperan dalam pengembangan dan pengujian teknologi, sementara kementerian dan lembaga terkait perlu memastikan kesesuaian kebijakan energi, standar lingkungan, serta mekanisme pengembangan proyek.

Pelaku industri perkebunan dan pengolahan sawit memiliki peran penting dalam menyediakan bahan baku dan fasilitas pengolahan. Sementara itu, investor, perusahaan energi, penyedia teknologi, dan pengelola jaringan perlu dilibatkan untuk memastikan energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara ekonomis.

Pemerintah juga perlu mendorong model kemitraan yang memberikan kepastian bagi pemilik bahan baku dan pengembang proyek. Kepastian mengenai kontrak pasokan, standar kualitas bahan, pembagian biaya, serta mekanisme penjualan energi akan membantu mengurangi risiko investasi.

Dalam konteks ini, pendekatan rantai pasok dapat membantu mengidentifikasi hambatan sejak awal, termasuk ketidakpastian volume limbah, keterbatasan infrastruktur, biaya pengangkutan, kebutuhan pembiayaan, dan ketidaksesuaian antara lokasi produksi dengan kebutuhan energi.

IARSI menilai bahwa koordinasi antarpemangku kepentingan harus diarahkan pada hasil yang dapat diukur. Proyek percontohan di wilayah dengan pasokan limbah memadai dapat digunakan untuk menguji model operasional, menghitung biaya secara transparan, dan mengevaluasi manfaat lingkungan sebelum pengembangan diperluas ke wilayah lain.

Ekonomi Sirkular Harus Memberikan Manfaat Nyata

Pemanfaatan limbah sawit menjadi energi merupakan peluang untuk memperkuat ekonomi sirkular, yaitu pendekatan yang berupaya mempertahankan nilai sumber daya melalui penggunaan kembali dan pengolahan hasil samping produksi.

Melalui pendekatan tersebut, limbah yang sebelumnya memerlukan penanganan dapat diolah menjadi sumber energi dan menciptakan nilai tambah baru. Namun, manfaat lingkungan tetap perlu dibuktikan melalui pengelolaan limbah yang memenuhi standar, pengukuran emisi, serta evaluasi keseluruhan proses produksi dan distribusi energi.

Bagi masyarakat sekitar, pengembangan proyek juga perlu mempertimbangkan kesempatan kerja, keterlibatan pemasok lokal, keselamatan operasional, dan pengendalian dampak lingkungan. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh perusahaan pengelola, tetapi juga oleh masyarakat dan perekonomian daerah.

Dukungan IARSI terhadap pemanfaatan limbah sawit menjadi energi menekankan pentingnya menghubungkan hasil riset dengan kesiapan industri dan sistem distribusi. Potensi sekitar 3,9 GW merupakan peluang yang perlu dikaji dan ditindaklanjuti secara terencana, bukan dianggap sebagai kapasitas energi yang sudah tersedia.

Melalui integrasi rantai pasok dari hulu hingga hilir, penguatan infrastruktur, kepastian investasi, serta evaluasi berbasis data, pengembangan energi dari limbah sawit berpeluang menjadi bagian dari upaya diversifikasi energi dan peningkatan daya saing industri nasional.


www.iarsi.org