Ilustrasi penguatan pemasok lokal melalui investasi baru yang terintegrasi dengan industri nasional, UMKM, dan sektor logistik. Sinergi antara investor dan pelaku usaha domestik diharapkan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan daya saing industri, serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian Indonesia. (Ilustrasi: IARSI)


Bekasi, IARSI News, 3 November 2026 — Masuknya investasi baru ke Indonesia perlu diikuti penguatan keterlibatan perusahaan nasional, industri kecil dan menengah (IKM), serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai pasok industri. Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) menilai, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kapasitas produksi lokal, dan menggerakkan perekonomian daerah.

Ketua Umum IARSI, Assoc. Prof. (Hon) R. Beniadi Setiawan, Ph.D., CMI., CMT., menilai penguatan pemasok lokal harus menjadi bagian penting dari strategi investasi nasional. Menurut perspektif IARSI, hubungan antara investor, industri besar, pemasok komponen, penyedia jasa logistik, dan pelaku UMKM perlu dibangun sejak tahap perencanaan proyek agar manfaat investasi dapat menyebar ke lebih banyak pelaku ekonomi.

Menurut Beniadi “Investasi yang berkualitas bukan hanya menghadirkan modal dan membangun fasilitas produksi. Investasi juga harus membuka peluang bagi industri nasional untuk menjadi bagian dari rantai pasok, meningkatkan kompetensi, memperluas pasar, dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan di dalam negeri,”

BKPM: Investasi Perlu Memperkuat Rantai Pasok Domestik

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah menempatkan penguatan industri domestik dan pembentukan ekosistem rantai pasok sebagai bagian dari strategi menarik investasi. Dalam keterangan resmi pada 3 September 2026, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menjelaskan strategi pemerintah untuk mengarahkan investasi asing langsung ke sektor hilirisasi yang memberikan nilai tambah bagi Indonesia.

Strategi tersebut mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pemberian insentif. Arah kebijakan ini penting karena investasi yang terhubung dengan industri dalam negeri berpotensi menciptakan permintaan bagi pemasok bahan baku, komponen, jasa pemeliharaan, pergudangan, transportasi, hingga distribusi produk. https://www.bkpm.go.id/id/info/siaran-pers/wamen-todotua-ungkap-tiga-strategi-jemput-investasi-dan-perkuat-hilirisasi

IARSI memandang kebijakan investasi perlu diterjemahkan ke dalam mekanisme kemitraan yang konkret. Investor dan perusahaan besar perlu memberikan informasi mengenai kebutuhan barang dan jasa, spesifikasi teknis, standar mutu, kapasitas produksi, serta jadwal pengadaan agar pemasok nasional dapat mempersiapkan diri dan memenuhi persyaratan bisnis.

Dengan demikian, peluang bagi industri lokal tidak berhenti pada pekerjaan konstruksi atau penyediaan tenaga kerja saat proyek dibangun. Pemasok nasional juga perlu memperoleh kesempatan mengikuti kegiatan operasional jangka panjang, termasuk penyediaan suku cadang, bahan pendukung, jasa teknis, pengemasan, dan layanan logistik.

Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM dengan Industri Besar

Dari perspektif industri, Kementerian Perindustrian telah menjalankan upaya mempertemukan IKM dengan perusahaan industri berskala besar. Melalui program fasilitasi kemitraan IKM logam dengan industri besar pada Juli 2026 di Jawa Barat, Kemenperin melibatkan 30 IKM dari Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi yang memiliki kemampuan di bidang fabrikasi logam, permesinan, pembuatan komponen, dan jasa pendukung industri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya kemitraan antara IKM dan industri besar untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, serta daya saing pelaku industri kecil dan menengah. Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dan memperdalam struktur industri manufaktur nasional. https://ikm.kemenperin.go.id/perkuat-rantai-pasok-kemenperin-jodohkan-ikm-logam-dengan-industri-besar

Bagi IARSI, pendekatan tersebut perlu diperluas lintas sektor dan wilayah. Kemitraan pemasok tidak hanya relevan bagi industri logam, tetapi juga bagi industri makanan dan minuman, farmasi, elektronik, energi, transportasi, serta pembangunan infrastruktur digital. Setiap sektor memiliki kebutuhan bahan baku, komponen, dan jasa pendukung yang dapat menjadi peluang pertumbuhan usaha nasional.

Namun, keterlibatan pemasok lokal perlu didasarkan pada kemampuan memenuhi standar mutu, ketepatan pengiriman, kontinuitas pasokan, keselamatan kerja, dan harga yang kompetitif. Karena itu, program kemitraan sebaiknya disertai pendampingan teknis, sertifikasi, peningkatan produktivitas, dan akses pembiayaan agar pemasok dapat berkembang menjadi mitra bisnis yang berkelanjutan.

Kementerian UMKM: Akses Pasar dan Pembiayaan Harus Berjalan Bersama

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah juga menempatkan akses pembiayaan, legalitas usaha, digitalisasi, dan kemitraan sebagai bagian dari pengembangan UMKM. Dalam publikasi 23 Oktober 2026, kementerian tersebut menjelaskan berbagai program untuk memperluas akses usaha, meningkatkan kemampuan digital, dan membuka peluang kemitraan bagi pelaku UMKM. https://umkm.go.id/news/h3uhxcn4o0a07m43158q9674

Perspektif ini memperkuat pentingnya menghubungkan kebijakan investasi dengan kesiapan usaha lokal. Pelaku UMKM yang memiliki produk dan kemampuan produksi memadai belum tentu dapat langsung menjadi pemasok perusahaan besar apabila menghadapi keterbatasan modal kerja, sertifikasi, kapasitas produksi, atau persyaratan administrasi pengadaan.

IARSI mendorong agar perusahaan penerima investasi dan pengelola kawasan industri menyediakan mekanisme pembinaan pemasok yang terukur. Bentuknya dapat berupa pemetaan kemampuan produsen lokal, pelatihan standar industri, pendampingan administrasi, kepastian spesifikasi produk, serta penyusunan jadwal pengadaan yang memungkinkan pemasok merencanakan produksi.

Selain itu, kepastian pembayaran menjadi faktor penting. Pemasok kecil yang harus membeli bahan baku dan membayar tenaga kerja terlebih dahulu akan menghadapi tekanan arus kas apabila pembayaran dari pembeli terlambat. Skema kontrak dan pembayaran yang transparan dapat membantu menjaga kelangsungan usaha serta mengurangi risiko terputusnya pasokan.

LKPP: Pengadaan Dapat Membuka Peluang bagi Pelaku Usaha Nasional

Dari sisi pengadaan, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) menyampaikan bahwa nilai pengadaan barang dan jasa pemerintah mencapai sekitar Rp1.200 triliun per tahun. Pada 8 September 2026, LKPP dan Jamkrindo menyepakati integrasi layanan penjaminan untuk memperluas partisipasi UMKM dalam pengadaan pemerintah.

Kepala LKPP Sarah Sadiqa menekankan bahwa pengadaan pemerintah dapat berfungsi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas belanja publik, memperkuat industri dalam negeri, memperluas kesempatan usaha, dan menciptakan lapangan kerja. Integrasi layanan penjaminan diharapkan membantu pelaku usaha memperoleh akses yang lebih mudah dan terintegrasi dalam ekosistem pengadaan. https://www.lkpp.go.id/read/bu/lkpp-dan-jamkrindo-integrasikan-layanan-penjaminan-untuk-perluas-partisipasi-umkm-dalam-pbjp

IARSI menilai pendekatan tersebut relevan pula bagi rantai pasok investasi swasta. Meskipun mekanisme pengadaan pemerintah dan pengadaan perusahaan memiliki ketentuan berbeda, keduanya membutuhkan transparansi persyaratan, kepastian proses, dan kemampuan pemasok untuk memenuhi standar yang ditetapkan.

Dengan mempertemukan kebutuhan pembeli dan kapasitas pemasok secara lebih sistematis, peluang pengadaan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat basis industri domestik. Peluang tersebut perlu dibuka melalui persaingan yang sehat, tanpa mengabaikan kualitas, keselamatan, efisiensi, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.

Kemendag: Produk Lokal Memerlukan Akses Pasar dan Daya Saing

Dari perspektif perdagangan, Kementerian Perdagangan bersama Shopee Indonesia meluncurkan Program Akselerasi Produk Lokal pada Agustus 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri melalui ekosistem digital, termasuk dukungan promosi, pelatihan, akses ekspor, serta pendampingan usaha. https://www.kemendag.go.id/index.php/berita/pojok-media/kemendag-bersama-shopee-luncurkan-program-akselerasi-produk-lokal

Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya kolaborasi untuk memperluas pasar produk lokal, sembari menjaga kualitas produk dan perlindungan konsumen. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penguatan pemasok domestik membutuhkan dua sisi yang berjalan bersamaan: kemampuan menghasilkan produk sesuai kebutuhan pasar dan akses terhadap pembeli yang berkelanjutan.

Dalam konteks investasi, IARSI melihat peluang untuk menghubungkan pemasok lokal dengan pasar industri maupun konsumen akhir. Penguatan kapasitas produksi harus diikuti kepastian permintaan, pengelolaan persediaan, sistem distribusi yang efisien, dan kemampuan memenuhi pesanan secara konsisten.

Apabila keterhubungan tersebut terbentuk, investasi berpotensi menghasilkan dampak yang lebih luas. Permintaan perusahaan besar dapat mendorong pemasok meningkatkan kapasitas, merekrut tenaga kerja, membeli bahan baku dari pelaku usaha lain, serta memperluas jaringan distribusi di daerah.

Efisiensi Logistik Menentukan Besarnya Efek Berganda

Menurut IARSI, salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pemasok lokal adalah efisiensi rantai pasok. Pemasok yang memiliki kemampuan produksi baik tetap dapat kehilangan peluang apabila biaya transportasi tinggi, pengiriman tidak pasti, fasilitas penyimpanan terbatas, atau informasi kebutuhan pembeli tidak tersedia secara memadai.

Karena itu, pengembangan kawasan industri dan proyek investasi perlu disertai perencanaan logistik sejak awal. Keterhubungan antara lokasi produksi, pemasok bahan baku, gudang, pelabuhan, jaringan jalan, serta pusat distribusi perlu dirancang sesuai karakteristik industri dan kondisi geografis setiap wilayah.

Pemanfaatan teknologi digital juga dapat membantu meningkatkan visibilitas persediaan, memperkirakan kebutuhan material, memantau pengiriman, dan mendeteksi risiko gangguan pasokan. Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan kesiapan sistem, kemampuan sumber daya manusia, dan akses teknologi pelaku usaha kecil.

IARSI menegaskan bahwa investasi tidak seharusnya hanya menciptakan pusat-pusat produksi yang terpisah dari ekosistem ekonomi sekitarnya. Keterhubungan antara investor, pemasok, tenaga kerja, industri pendukung, dan pelaku usaha daerah perlu menjadi bagian dari perencanaan agar manfaat ekonomi dapat menyebar lebih luas.

IARSI Dorong Indikator Keberhasilan Investasi yang Terukur

Untuk memastikan efek berganda benar-benar terjadi, IARSI mendorong pemerintah dan pelaku usaha menggunakan indikator yang dapat dievaluasi secara berkala. Indikator tersebut antara lain nilai pengadaan dari pemasok domestik, jumlah pemasok lokal yang memenuhi standar, pertumbuhan kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, serta keterlibatan UMKM dalam rantai pasok.

Pengukuran juga perlu memperhatikan kualitas kemitraan. Banyaknya pemasok yang terdaftar belum tentu mencerminkan manfaat ekonomi apabila mereka hanya memperoleh pesanan sesekali atau tidak mendapatkan kepastian pembayaran. Karena itu, kesinambungan kontrak, ketepatan pembayaran, dan peningkatan kemampuan teknis perlu menjadi bagian dari evaluasi.

IARSI memandang penguatan pemasok lokal bukan sebagai upaya menutup pasar dari persaingan global, melainkan strategi untuk meningkatkan kemampuan perusahaan Indonesia agar dapat bersaing secara profesional. Investasi asing dan teknologi global tetap memiliki peran penting, tetapi hubungan yang kuat dengan industri nasional akan membantu memperbesar nilai tambah yang tinggal di Indonesia.

Pada akhirnya, investasi baru akan memberikan manfaat yang lebih luas apabila modal yang masuk mampu menggerakkan kegiatan ekonomi di luar lokasi proyek. Ketika pemasok lokal berkembang, tenaga kerja memperoleh keterampilan, UMKM mendapatkan akses pasar, dan distribusi semakin efisien, investasi berpeluang menciptakan dampak berantai bagi perekonomian nasional.

IARSI mendorong agar penguatan pemasok lokal ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi investasi Indonesia. Dengan kemitraan yang transparan, peningkatan kapasitas industri, akses pembiayaan, serta sistem logistik yang efisien, investasi dapat menjadi penggerak pertumbuhan yang tidak hanya meningkatkan angka penanaman modal, tetapi juga memperkuat fondasi industri dan ekonomi nasional secara berkelanjutan.


www.iarsi.org