BEKASI, IARSI News, 5 November 2026 — Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) dinilai membuka peluang baru bagi penguatan rantai pasok energi nasional. Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) mendukung pengembangan inisiatif tersebut dengan menekankan pentingnya keterlibatan koperasi, masyarakat, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta industri energi dalam membangun ekosistem pasokan yang berkelanjutan.
Ketua Umum IARSI, R. Beniadi Setiawan, menilai pemanfaatan minyak jelantah tidak semestinya hanya dipandang sebagai program pengelolaan limbah, tetapi juga sebagai peluang membangun rantai pasok baru yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Melalui sistem pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan, dan pengolahan yang terintegrasi, limbah rumah tangga berpotensi menjadi bahan baku industri energi bernilai tinggi.
Ketua Umum IARSI menegaskan “Mendukung pemanfaatan minyak jelantah menjadi bioavtur karena program ini dapat menghubungkan kepentingan lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan penguatan ketahanan energi nasional. Namun, keberhasilannya harus ditopang rantai pasok yang terencana, mulai dari pengumpulan bahan baku di tingkat masyarakat hingga penyerapan dan pengolahan oleh industri.”
Koperasi Desa Mulai Dilibatkan dalam Rantai Pasok Bioavtur
Langkah konkret pengembangan ekosistem tersebut terlihat dari kerja sama Kementerian Koperasi dan PT Pertamina (Persero) yang meluncurkan proyek percontohan pengumpulan minyak jelantah melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 29 Oktober 2026.
Proyek percontohan itu melibatkan empat koperasi. Minyak jelantah yang dikumpulkan dari masyarakat selanjutnya akan disalurkan kepada Pertamina Patra Niaga untuk diproses di kilang Cilacap sebagai bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan bahwa koperasi desa berpeluang menjadi agen pengumpul minyak jelantah sekaligus memperoleh sumber pendapatan baru. Pemerintah berharap model tersebut dapat dikembangkan di koperasi lain di Indonesia apabila pelaksanaannya berjalan baik.
Program ini juga membuka ruang keterlibatan rumah tangga, warung makan, restoran, UMKM kuliner, serta satuan pelayanan pemenuhan gizi yang menghasilkan minyak jelantah dari kegiatan operasionalnya.
Pertamina Siapkan Pengolahan di Kilang Cilacap
Dari sisi industri, Pertamina telah mengembangkan pengolahan minyak jelantah menjadi SAF di Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Proses tersebut menggunakan skema co-processing, yaitu pengolahan minyak jelantah bersama kerosin melalui fasilitas pengolahan kilang.
Sekretariat Wakil Presiden pada 26 Oktober 2026 melaporkan bahwa unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) di Kilang Cilacap telah berstatus beroperasi secara komersial. Produksi bersih SAF diperkirakan mencapai sekitar 5.075 kiloliter per tahun.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming dalam kunjungannya ke fasilitas tersebut menekankan bahwa pengembangan energi ramah lingkungan perlu memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Pengelolaan minyak jelantah melalui kelompok warga dan bank sampah dinilai dapat memperluas nilai ekonomi bahan baku yang sebelumnya kerap diperlakukan sebagai limbah.
Keterangan tersebut dimuat dalam publikasi resmi Sekretariat Wakil Presiden berjudul “Tinjau Pengembangan SAF di Cilacap, Wapres Dorong Inovasi Energi Ramah Lingkungan dan Pemberdayaan Perempuan”.
Bagi IARSI, perkembangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi energi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fasilitas produksi. Ketersediaan bahan baku yang konsisten, sistem pengumpulan yang efisien, kepastian harga, dan koordinasi antarpelaku merupakan unsur penting untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Kepastian Pasokan Menjadi Kunci
Salah satu tantangan dalam pengembangan bioavtur berbasis minyak jelantah adalah menjaga pasokan bahan baku agar sesuai dengan kebutuhan industri. Minyak jelantah berasal dari sumber yang tersebar, mulai dari rumah tangga hingga usaha makanan, dengan volume dan kualitas yang berbeda-beda.
Karena itu, diperlukan sistem pengumpulan yang terstruktur, termasuk pencatatan volume, pemeriksaan kualitas, penyimpanan yang sesuai, serta jadwal pengangkutan menuju fasilitas pengolahan. Tanpa sistem tersebut, biaya pengumpulan dapat meningkat dan pasokan berpotensi tidak stabil.
Harga pembelian minyak jelantah dari masyarakat dalam program percontohan berada pada kisaran Rp5.000–Rp6.000 per liter. Harga tersebut memberikan gambaran bahwa minyak jelantah dapat menjadi komoditas ekonomi, meskipun pendapatan bersih masyarakat dan koperasi tetap bergantung pada biaya pengumpulan, penyimpanan, serta transportasi.
IARSI memandang transparansi harga dan kejelasan mekanisme transaksi perlu menjadi bagian dari desain program. Koperasi harus memperoleh insentif ekonomi yang layak, sementara masyarakat mendapatkan informasi yang jelas mengenai standar kualitas, harga pembelian, dan mekanisme penyerahan bahan baku.
Peluang Ekonomi Sirkular bagi Masyarakat
Pemanfaatan minyak jelantah juga dapat mendukung penerapan ekonomi sirkular, yaitu pendekatan yang berupaya mempertahankan nilai guna suatu bahan melalui pemanfaatan kembali dan pengolahan menjadi produk baru.
Dalam konteks ini, minyak jelantah tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi dapat menjadi sumber bahan baku bagi industri energi. Pengumpulan yang tepat juga membantu mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak bekas ke saluran air.
Pertamina menyebut pengembangan jaringan pengumpulan berbasis koperasi sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka peluang pendapatan masyarakat.
Menurut perspektif rantai pasok, keterlibatan masyarakat perlu dibangun melalui pembagian peran yang jelas. Rumah tangga dan pelaku usaha menjadi sumber bahan baku, koperasi mengorganisasi pengumpulan, sedangkan perusahaan energi menangani pengolahan dan pemanfaatan bahan baku sesuai persyaratan teknis.
Model tersebut berpotensi memperluas kegiatan ekonomi di tingkat desa, tetapi hasilnya perlu dinilai melalui indikator yang terukur, seperti volume minyak jelantah yang terkumpul, jumlah koperasi yang aktif, pendapatan bersih peserta, biaya logistik, dan konsistensi penyerapan oleh industri.
IARSI: Ekosistem Harus Dibangun dari Hulu hingga Hilir
R. Beniadi Setiawan menempatkan integrasi rantai pasok sebagai faktor penting agar pemanfaatan minyak jelantah tidak berhenti pada tahap proyek percontohan. Perluasan program sebaiknya didukung pemetaan potensi bahan baku setiap wilayah, kesiapan koperasi, infrastruktur penyimpanan, serta kepastian kerja sama dengan industri pengolahan.
Menurut Beniadi “Program ini akan lebih berkelanjutan apabila koperasi dan masyarakat tidak hanya berperan mengumpulkan minyak jelantah, tetapi juga menjadi bagian dari sistem rantai pasok yang memiliki standar, kepastian harga, dan mekanisme penyerapan yang jelas. Dengan begitu, manfaat ekonomi dan lingkungan dapat berjalan beriringan.”
IARSI juga menilai perlu adanya evaluasi berkala terhadap pelaksanaan program. Pemerintah, koperasi, dan perusahaan energi perlu mengukur apakah biaya pengumpulan dapat dikendalikan, apakah pasokan memenuhi persyaratan industri, serta apakah manfaat ekonomi benar-benar diterima masyarakat.
Di sisi lain, klaim manfaat lingkungan perlu didukung perhitungan yang transparan mengenai proses produksi, penggunaan energi, pengangkutan bahan baku, dan dampak keseluruhan dibandingkan bahan bakar konvensional. Dengan demikian, pengembangan SAF tidak hanya menghasilkan produk alternatif, tetapi juga memberikan manfaat lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Memperkuat Ketahanan Energi dan Daya Saing Nasional
Pengembangan rantai pasok bioavtur berbasis minyak jelantah mempertemukan agenda energi, pengelolaan limbah, pemberdayaan koperasi, dan penguatan industri domestik. Apabila dikembangkan secara terukur, model ini berpotensi memperluas sumber bahan baku dalam negeri sekaligus menciptakan kegiatan ekonomi baru di tingkat masyarakat.
Namun, keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah koperasi yang dilibatkan atau kapasitas produksi fasilitas pengolahan. Ukuran penting lainnya adalah kesinambungan pasokan, efisiensi biaya logistik, kelayakan usaha koperasi, kualitas bahan baku, dan kepastian pasar.
IARSI mendukung pengembangan bioavtur sebagai bagian dari inovasi rantai pasok energi nasional dengan menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, industri, koperasi, dan masyarakat. Integrasi yang kuat dari hulu hingga hilir akan menjadi fondasi agar minyak jelantah dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, program pemanfaatan minyak jelantah diharapkan tidak berhenti sebagai proyek percontohan, melainkan berkembang menjadi ekosistem usaha yang transparan, efisien, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta industri nasional.
www.iarsi.org

